BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 27. Mengungkapkan Perasaan.


__ADS_3

Bunga keluar dari dalam toko dengan wajah tegang. Jalanan tampak ramai orang-orang bergerombol. Mereka berkerumun di depan sebuah papan besar yang sepertinya baru saja dipasang di dekat sebuah gang kecil di seberang jalan.


Semua tindakan kejahatan adalah ancaman untuk pemerintah dan akan dihukum seberat-beratnya.


Bunga membaca tulisan besar di dalam papan. Dadanya berdebar tidak menentu. Pembicaraannya dengan Bu Galuh beberapa saat lalu masih terngiang-ngiang dalam benaknya.


Pelaku perampokan bukan dari kelompok yang bekerja sama dengan Gerwa Mui, termasuk kelompok pejuang elite yang dipimpin ayahnya. Dan ini sangat merugikan posisi mereka saat ini. Pemerintah Hindia-Belanda menjadi semakin ketat mengawasi pergerakan orang-orang pribumi.


Sebuah mobil berhenti di hadapan Bunga. Si pemilik kendaraan turun dan menghampiri gadis itu.


"Aku mau bicara." Jacob meraih lengan Bunga dan memintanya masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Bunga keheranan. Ia pikir, setelah ia meninggalkan Jacob untuk menemui Bu Galuh, pemuda itu sudah pergi.


Jacob tidak menjawab pertanyaan Bunga. Ia terus mengemudikan mobilnya menuju pinggiran kota. Menuju sungai tempat mereka biasa saling mengungkapkan isi hati.


"Kenapa kamu, Jacob? Kenapa kelihatan marah?"


"Kamu sedang mengerjakan apa, Bunga?" tanya Jacob seraya menatap tajam ke arah gadis itu.


"Mengerjakan apa maksudnya?" Bunga mengerutkan keningnya.


"Kenapa kamu main rahasia denganku, Bunga?"


"Rahasia? Rahasia apa? Aku tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan." Bunga membuang pandangan ke samping.


Jacob mendecak. "Apapun yang kamu lakukan di dalam toko obat itu. Aku sudah bisa menduganya."


Dada Bunga berdesir. Ia mengumpat dalam hati. Tadi, karena terburu-buru dan kalut, ia tidak berpikir Jacob akan mengikutinya.


"Tidak ada apa-apa. Yang punya toko obat adalah saudara ayahku."


"Bohong!" sentak Jacob. "Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Bunga."


Bunga menggeleng. Sepertinya ia memang tidak bisa membohongi Jacob. Tapi, ia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.


"Bunga!" seru Jacob. "Katakan yang sejujurnya padaku. Apa kamu tidak percaya denganku?" Ia mengguncang kedua bahu Bunga.


"Apapun yang kamu pikirkan, lupakan saja, Jacob," sahut Bunga seraya menepis kedua lengan Jacob.


Jacob menatap tajam sepasang mata beriris hitam Bunga. "Kamu ikut kelompok pemberontak?"


Mata Bunga membulat sempurna. Jantungnya berdebar kencang. "K-kamu jangan sembarangan bicara!" sergahnya terbata.

__ADS_1


"Aku tidak bodoh. Sikapmu yang aneh, liontinmu, dan semua perubahan yang terjadi padamu akhir-akhir ini," ujar Jacob. "Aku merasa kita sangat jauh sekarang, Bunga." Ia menatap sang sahabat dengan mata sendu.


Bunga tidak berani menantang tatapan mata Jacob. Rasanya ia sudah tertangkap basah dan tidak tahu lagi bagaimana harus berkelit dari tuduhan Jacob.


"Jawab, Bunga."


"Bukan urusanmu!"


"Kamu sudah tidak menganggapku penting lagi?"


"Kamu pikir saja sendiri."


Jacob meraih kedua bahu Bunga dan mencengkeramnya. "Apa kamu tidak bisa melihat kalau aku sangat peduli padamu! Kamu salah satu orang yang paling aku pedulikan dalam dunia ini, Bunga."


"Persahabatan kita tidak akan berguna lagi, Jacob. Kita akan menempuh jalan yang berbeda."


"Jadi benar, kamu bergabung dengan kelompok pemberontak?"


Bunga memalingkan wajahnya. "Sebaiknya, mulai sekarang kita menjaga jarak, Jacob."


"Apa kamu bilang? Apa maksudmu?" Jacob membulatkan sepasang matanya.


"Kita berbeda, Jacob. Persahabatan kita bagus hanya saat kita kecil saja. Sekarang kita sudah dewasa dan kita sudah mengerti jalan masing-masing."


"Darah penjajah mengalir di tubuhmu, Jacob."


"Ternyata hanya sampai di situ kamu menganggapku selama ini?" Jacob mengepalkan tangannya geram. "Kamu tahu, aku juga bisa berpikiran yang sama denganmu. Kamu sama seperti orang pribumi yang lain, yang tidak melihat orang Belanda secara individu," lanjutnya.


Bunga berdiri, lalu menatap tajam ke arah Jacob. "Aku tidak peduli kamu mau anggap aku seperti apa sekarang, Jacob."


Jacob menggeleng. "Kamu memang sudah berubah, Bunga."


"Keadaan yang membuatku berubah. Aku bukan orang yang hanya bisa diam saja melihat bangsaku ditindas oleh kaum penjajah. Aku sudah muak dengan perlakuan kalian!" tegas Bunga.


Jacob pun ikut berdiri. Lalu meraih kedua bahu Bunga. Sepasang mata birunya menatap tajam gadis itu. "Apa aku memperlakukanmu dengan semena-mena, Bunga."


Bunga melepaskan cengkeraman tangan Jacob di bahunya. "Ini bukan hanya tentang kamu!" sentaknya.


"Ini tentang aku dan kamu!" seru Jacob tidak mau kalah.


Bunga menggeleng. "Tidak, Jacob. Ini tentang bangsaku dan bangsamu."


"Berhenti mengucapkan hal itu, Bunga!" bentak Jacob. Rasanya ia sudah kehilangan kesabaran dengan gadis di hadapannya itu.

__ADS_1


Bunga mendesis seraya memalingkan wajahnya ke arah bebatuan di tengah sungai. Tetapi, beberapa saat kemudian ia dikejutkan dengan Jacob yang tiba-tiba meraih dagunya dan memaksanya menatap pada pemuda itu.


"Ik houd van je (Aku cinta kamu), Bunga."


"Apa?"


"Aku cinta sama kamu!" seru Jacob seraya menangkup kedua pipi Bunga dan menarik kepala gadis itu ke arahnya. Bibirnya dengan cepat menyambar bibir Bunga.


Plak


Seketika tangan Bunga mendarat di pipi Jacob. Meninggalkan tanda merah di sana. "Kamu kurang ajar, Jacob!" bentaknya. Ia yang masih belum begitu bisa mencerna perlakuan Jacob padanya.


"Kamu dengar aku, Bunga. Aku cinta sama kamu!"


Bunga menggeleng. "Kamu gila, Jacob. Kamu gila!" serunya seraya membuat gerakan mengelap bibir dengan punggung tangan. Rasanya Bunga masih tidak percaya kalau Jacob telah menciumnya. Ia melangkah mundur dengan mata menatap Jacob tajam. Napasnya naik turun tidak beraturan.


"Bunga ...."


"Jangan mendekat!" Bunga mengangkat satu tangannya. "Kamu sudah keterlaluan! Aku benci sama kamu!"


"Bunga, tolonglah ...."


Bunga tidak memedulikan lagi apa yang diucapkan Jacob. Ia berlari menjauh dari sahabatnya itu. Jacob mengengejarnya. Pemuda itu meninggalkan mobilnya terparkir di pinggir jalan begitu saja.


"Bunga, tunggu!" panggil Jacob. Ia mengikuti Bunga yang mengambil jalan berbeda dari biasanya. Ia melewati jembatan kecil dari bambu. Kemudian masuk ke dalam perkebunan kopi, lalu sampai di jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi pepohonan liar.


"Jangan mengikutiku!" sentak Bunga saat Jacob sudah berhasil menyejajarkan langkah dengannya.


Jacob meraih lengan gadis itu dan memaksanya berhenti. Napasnya terengah. "Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku cinta sama kamu, Bunga."


Bunga tersenyum sinis. "Jadi selama ini kamu menyimpan perasaan itu padaku? Dan kamu hanya berpura-pura jadi sahabatku, begitu?"


"Aku tidak bisa mencegah perasaan yang datang begitu saja, Bunga. Apa kamu bisa menolak, saat kamu jatuh cinta dengan seseorang?"


Bunga mendecih. "Aku bisa. Jika aku jatuh cinta dengan musuh. Aku akan dengan senang hati membuang perasaan itu!"


"Tapi, aku tidak bisa. Dan kamu bukan musuhku, Bunga." Jacob meraih kepala Bunga, hendak membawanya ke pelukan.


"Jangan sentuh aku!" Bunga menepis tangan Jacob, tetapi, pemuda itu menangkap pergelangan tangannya dan tetap menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Hei! Kumpeni! Lepaskan perempuan kami!"


***

__ADS_1


__ADS_2