
Bunga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Saat keluar dari pintu gerbang sekolah, gadis itu melihat Raden Yusuf baru saja turun dari kereta kuda. Pemuda itu tersenyum padanya sambil melambaikan tangan.
Meskipun raut wajah Bunga seketika berubah muram, gadis itu tetap menghampiri Raden Yusuf.
"Mas datang mau njemput kamu, Dik," ucap Raden Yusuf. Pemuda berambut ikal itu membukakan pintu di bagian belakang kereta untuk Bunga.
"Mas Yusuf kenapa kemari?" tanya Bunga ketus. Ia melipat kedua lengan di depan dada.
"Tadi Mas bilang mau njemput Adek, to?"
"Seharusnya tidak perlu, Mas. Ki Pranoto yang biasanya jemput aku." Ia menyebutkan nama kusir pribadi ayahnya.
"Mulai hari ini beda, ya, Dik. Mas yang akan jemput Dik Bunga setiap hari."
"Siapa yang menyuruh? Bapak?"
"Mas sendiri yang ingin."
Bunga mendecak sebal. Ia memalingkan wajahnya. Tangannya masih bersidekap.
"Sudah, tidak perlu banyak bertanya. Ayo, naik," pinta Raden Yusuf.
Bunga menggeleng. "Aku tidak setuju Mas Yusuf memutuskan sesuatu secara sepihak seperti ini."
"Dik Bunga, kamu itu calon istri Mas. Sudah seharusnya Mas belajar ngurus kamu. Ayo, naik!" Raden Yusuf meraih lengan Bunga dan menyeret gadis itu menuju kereta. Di belakang kuda, si kusir telah menunggu.
"Hou op ( Hentikan)!" seru seseorang yang datang entah dari mana. Tetapi, saat Bunga menyadari bahwa suara itu milik Jacob, gadis itu menyunggingkan senyum tipisnya.
Raden Yusuf memindai sosok Jacob dengan nanar. Ia membenci orang-orang Belanda, sudah pasti. Bahkan saat ini, tangannya telah terkepal, meskipun ia belum tahu siapa pemuda itu.
"Lepas!" Jacob menarik tangan Bunga dari genggaman Raden Yusuf. Ia sudah bisa menebak siapa lelaki berkulit sawo matang itu.
Tentu saja Raden Yusuf berang dengan tindakan Jacob. Matanya yang bulat cekung semakin membulat. "Kamu siapanya Bunga?" tanyanya geram.
"Aku kekasihnya." Jacob merangkul pundak Bunga, membuat gadis itu terkejut. Tetapi, Bunga sadar ini hanya akal-akalan Jacob saja untuk mengerjai Raden Yusuf.
"Benar, Dik Bunga?" tanya Raden Yusuf sambil menatap tajam pada Jacob.
__ADS_1
Bunga meraih tangan Jacob dan menggenggamnya erat. Pemuda itu tersenyum penuh suka cita. "Benar, Mas Yusuf."
Raden Yusuf melepaskan kaitan tangan kedua sahabat itu dan memisahkannya. "Kamu, Orang Belanda tidak tahu diri, jangan berani menyentuh perempuan kami dengan tangan kotormu itu!"
Jacob menarik Bunga ke belakang punggungnya, sementara dirinya memasang badan di depan Raden Yusuf. "Aku selalu menghormati Bunga dan memperlakukannya seperti perempuan terhormat."
"Omong kosong!" sentak Raden Yusuf. Sepasang mata bulatnya bergerak-gerak ke sana kemari. Terlihat aneh, tetapi menggelikan. Tidak tampak jika lelaki itu sedang dalam keadaan marah. "Kalian para penjajah busuk, kalian orang-orang serakah yang tidak tahu malu. Kalian pikir bisa berbuat seenaknya di tanah kami?" Lelaki itu tersenyum miring. "Kami tidak akan tinggal diam!"
"Mas Yusuf!" Bunga berseru menghentikan ucapan lelaki itu. Ia takut Raden Yusuf akan mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya ia katakan, dalam keadaan emosi seperti itu. Meskipun ia percaya pada Jacob, tetapi, Bunga takut ada orang yang mendengarnya. Karena sejak tadi, banyak murid yang melintas dan memandang mereka dengan tatapan heran.
"Kamu membela penjajah, Dik Bunga?"
"Tidak seperti itu. Jacob tidak sama dengan mereka."
Cih
Raden Yusuf meludah kasar. "Di dalam tubuhnya mengalir darah penjajah kotor yang ... hei! Hei! Bunga! Kamu mau ke mana?!" teriak Raden Yusuf saat tiba-tiba Bunga menarik tangan Jacob dan berlari menjauh.
Keduanya terus berlari melintasi rumah-rumah penduduk, perkebunan tebu, hingga akhirnya sampai di sungai tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama.
"Astaga, kamu lihat ekspresi wajahnya?" ucap Jacob di sela-sela tawanya. "Seharusnya kamu tunggu sampai dia selesai berpidato."
"Aku tidak menyangka orang tuamu menjodohkanmu dengan lelaki seperti itu." Jacob mendorong pelan bahu Bunga.
"Tapi, dia anak Kyai besar di Semarang."
"Tapi, tampangnya bodoh."
"Memang."
Keduanya kembali tertawa hingga beberapa saat sampai-sampai otot perut mereka kelelahan.
***
Tumenggung Wirya duduk di ruang tengah rumahnya dengan wajah tegang. Di sampingnya, Ratih, berusaha menenangkannya. Beberapa saat lalu, mereka baru saja mendapatkan laporan dari Raden Yusuf tentang kejadian di AMS Semarang saat pemuda itu menjemput Bunga.
"Sabar, Pak. Kita tanya dulu anaknya saat dia pulang," ucap Ratih.
__ADS_1
"Dia sudah berkali-kali aku peringatkan untuk tidak bergaul dengan anak kompeni!" ujar Tumenggung Wirya seraya mengepalkan tangannya geram.
Ratih hanya bisa mengusap lengan suaminya itu lembut, untuk sedikit meredakan kekesalannya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu depan dibuka oleh seseorang. Dan, Bunga pun muncul dari balik pintu ruang tengah.
"Bunga, sini, Nduk," pinta Ratih seraya melambaikan tangan pada putrinya.
Bunga yang melihat wajah tegang sang ayah dan tatapan tajamnya, sudah bisa menduga, bahwa Raden Yusuf sudah melaporkan kejadian di sekolah pada ayahnya. Pelan gadis itu meletakkan pan tatnya di atas kursi di seberang meja. Kepalanya menunduk. Ia tidak berani melawan tatapan menusuk Tumenggung Wirya.
"Kamu sudah keterlaluan, Bunga. Kamu sudah mempermalukan Bapak di mata Raden Yusuf. Kamu tahu itu, Bunga?"
Bunga menelan salivanya dengan susah payah. "Maaf, Pak ...." Suaranya bergetar. "Dari awal Bunga memang tidak mau dijodohkan dengan Raden Yusuf."
"Bapak tahu yang terbaik untuk kamu!" sentak Tumenggung Wirya.
Bunga mengumpulkan keberanian untuk melawan tatapan ayahnya. "Bunga tidak mau, Pak. Bunga tidak mau menikah dengan Raden Yusuf."
"Berani kamu melawan Bapak?" Tumenggung Wirya berdiri dan menunjuk tepat di depan wajah sang putri.
"Pak, sabar, Pak," ucap Ratih seraya menarik lengan suaminya agar kembali duduk.
Tumenggung Wirya tampak mengatur napasnya yang memburu. Wajahnya telah memerah karena amarah.
"Kalau akhirnya harus menjadi istri dan ibu rumah tangga, untuk apa Bapak menyekolahkan Bunga?"
"Bapak menyekolahkan kamu agar kamu punya ilmu. Agar kamu bisa menjadi ibu yang bisa mendidik anak-anakmu kelak."
"Begitukah, Pak?" Bunga yang sudah mampu menguasai dirinya semakin berani untuk melawan semua ucapan ayahnya. "Atau Bapak hanya mempersiapkan Bunga untuk bisa diperistri oleh orang dari kelas atas?"
"Kamu!" Tumenggung Wirya mengepalkan tangannya. "Semua yang Bapak putuskan untuk hidupmu, adalah yang terbaik. Bapak hanya ingin kelak kamu bisa hidup tenang dan terlindungi."
"Terlindungi? Terlindungi dari apa, Pak?" Kini tatapan mata Bunga begitu menuntut. Mungkin sekaranglah saatnya gadis itu mengungkapkan semua yang ia pendam selama ini.
"Bapak tidak ingin Bunga terlibat dengan rencana rahasia yang selama ini Bapak susun dengan para pejuang yang lain," ucap Bunga membuat Tumenggung Wirya terbelalak kaget.
Bunga mengeluarkan kalung dari balik pakaiannya. Lalu menunjukkan liontin berbentuk mawar dengan tangkai berduri pada sang ayah.
"Sudah terlambat, Pak. Bunga adalah anggota Gerwa Mui sekarang."
__ADS_1
***