BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 31. Bagaimana Jika Ia Tidak Seperti Yang Terlihat Selama Ini?


__ADS_3

Toko obat milik Bu Galuh terkenal hanya mempekerjakan perempuan. Di kalangan pribumi, tempat itu juga diketahui memberikan kursus sebagai tabib obat-obatan tradisional. Tetapi, tidak ada seorangpun yang tahu ada rahasia apa di baliknya.


Hingga suatu hari, seorang perempuan pribumi berusia empat puluhan datang dengan berurai air mata. Ia menceritakan pada Bu Galuh bahwa suaminya telah melakukan kekerasan padanya. Ia diusir dari rumah mereka dan tidak tahu harus tinggal di mana.


Perempuan itu bernama Ratmini. Berasal dari sebuah desa di pinggiran Semarang. Karena iba dan kebetulan ia adalah seorang perempuan, maka tidak ada alasan bagi Bu Galuh untuk tidak menerimanya.


Ratmini bersedia dipekerjakan apa saja tanpa upah, asal ia memiliki tempat untuk berteduh, dan makan, tentu saja. Ia menawarkan dirinya menjadi pembantu untuk mengurus rumah. Bersih-bersih, mencuci, dan membantu para perempuan di toko itu.


"Siapa dia?" tanya Bunga pada Asih, saat melihat seorang perempuan yang belum pernah ia temui sebelumnya, sedang menyapu halaman belakang.


"Yu Ratmi. Dia bantu bersih-bersih di sini," jawab Asih seraya meletakkan bungkusan obat-obatan ke dalam rak.


"Oh, orang baru, ya?" tanya Bunga kembali.


"Iya, baru datang kemarin."


"Kerabat Bu Galuh?"


"Bukan. Dia dari Telogo Wero." Asih menyebutkan desa tempat Ratmini berasal.


"Apa tidak berbahaya menampung orang baru? Dia tinggal di sini, bukan?"


"Kemarin dia datang dengan wajah bengkak. Dipukuli suaminya."


"Ooh." Bunga mengangguk-angguk.


"Laki-laki keparat memang suaminya itu. Tadi pagi dia menyusul kemari. Minta Yu Ratmi pulang. Tapi, Yu Ratmi tidak mau."


"Terus bagaimana?" tanya Bunga penasaran.


"Yaa, sedikit adu mulut dengan Bu Galuh. Akhirnya suaminya pulang dengan tangan kosong."


Bunga menggeleng. Ia prihatin dengan nasib perempuan itu. Sekilas, ia lihat, wajah perempuan yang dipanggil dengan nama Yu Ratmi itu masih memar. "Kasihan, ya?" gumamnya.


"Jelas kasihan. Sudah hidup dalam penjajahan orang asing, ditambah lagi dijajah oleh suaminya."


"Untung saja aku tidak bertemu dengan suaminya itu. Kalau tidak sudah aku hajar dia," ujar Bunga geram.


Asih terkikik. "Kamu memang anggota Gerwa Mui sejati," bisiknya pada Bunga.


Bunga memukul pelan dadanya dua kali. "Tidak perlu diragukan lagi," katanya.

__ADS_1


"Tapi, kamu punya kekasih orang Belanda," sindir Asih seraya mencebikkan bibir.


Mata Bunga membulat. "Siapa yang punya kekasih orang Belanda?"


"Kamu, Bunga. Dengan Tuan Muda Jacob," goda Asih.


"Dia bukan kekasihku!" sergah Bunga. Tetapi, pipinya bersemu merah menahan malu.


Asih menaikkan kedua alisnya. "Aku mendengar pembicaraan kalian. Pemuda itu jatuh cinta padamu," kekehnya.


Bunga memutar kedua bola matanya. "Tidak akan pernah terjadi. Kamu tahu, bukan, dia siapa dan aku siapa?"


Asih mengulas senyum kecut. Kemudian menghela napas berat. "Saat aku merawat luka Jacob waktu itu, pemuda itu mengingatkanku pada seseorang."


"Seseorang?" tanya Bunga seraya menghentikan kegiatannya merapikan bungkusan obat-obatan dalam rak.


"Namanya Augustijn." Pandangan mata Asih menerawang.


"Kamu pernah punya kekasih orang Belanda?" tanya Bunga.


Asih mengangguk. "Iya, beberapa tahun yang lalu."


"Lalu?" Bunga mulai penasaran dengan ucapan Asih.


"Aku turut sedih. Tapi, kita memang sudah seharusnya membentengi diri sebelum perasaan kita semakin dalam." Sejujurnya Bunga sedang mengingatkan dirinya sendiri. Mengingat Jacob akhir-akhir ini mulai membuatnya bingung akan perasaannya. Apalagi beberapa hari lalu ia berciuman dengan Jacob di sekolah.


Bunga juga mengutuki diri sendiri kenapa bisa begitu lemah menerima perlakuan Jacob yang seharusnya membuatnya marah. Tapi, kenyataannya, ia justru pasrah.


"Ngomong-ngomong, Ningrum ke mana, ya? Beberapa hari ini dia tidak masuk sekolah dan aku juga tidak melihatnya di sini?" tanya Bunga.


"Aku tidak tahu. Aku juga belum bertemu dengannya beberapa hari ini," sahut Asih seraya mengawasi halaman belakang di mana Ratmini masih menyapu di sana.


Asih terkejut saat melihat Ratmini sedang memeriksa pintu masuk bawah tanah yang tertutup jerami. Perempuan itu segera berlari menghampiri Ratmini seraya memanggilnya.


"Yu Ratmi, aku butuh bantuan di sini!" panggil Asih, membuat Ratmini urung menyentuh tumpukan jerami itu.


Belum waktunya Ratmini tahu lebih banyak.


***


Jacob menghembuskan napasnya kesal saat mendengar suara Anna memanggilnya. Ia sedang bersantai di taman belakang rumah sambil membaca buku dan sama sekali tidak mengharapkan kehadiran gadis itu.

__ADS_1


"Wat wil je (Mau apa kamu)?" tanya Jacob dengan ketus. Ia benar-benar tidak menyukai gadis itu.


"Waarom praat je zo tegen me (Kenapa kamu bertanya seperti itu)?" Anna memanyunkan bibirnya seraya duduk di sebelah Jacob, membuat pemuda itu menggeser posisi duduknya menjauh.


"Aku sedang tidak ingin diganggu!"


"Aku tunanganmu Jacob, aku bebas menemuimu kapan saja."


Jacob membanting bukunya ke atas kursi dengan kesal. "Sudah aku bilang berapa kali kalau aku tidak setuju dengan pertunangan itu!" jelasnya.


"Terserah kau, Jacob. Tapi, orang tua kita sudah mengatur semuanya."


"Het kan me niet schelen (Aku tidak peduli)!" sergah Jacob.


Anna menarik sudut bibirnya. Ia merasa begitu percaya diri bisa mendapatkan Jacob. Kedua orang tua mereka sudah sepakat untuk menyatukan keduanya. Jacob tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku datang ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Anna.


Jacob mendecak. "Hari ini kita sudah bertemu di sekolah. Kenapa kau tidak mengatakannya saja di sana?"


"Karena ini masih rahasia. Dan aku ingin kamu orang pertama yang aku ceritakan."


Kembali Jacob mendecak. Ia malas sekali bicara dengan Anna. Sekali tidak suka, maka ia tidak akan pernah suka. Pertama, hatinya sudah jatuh cinta dengan Bunga. Kedua, Anna bukan tipe gadis yang membuatnya tertarik. Ketiga, ia tidak menyukai sikap Anna yang arogan.


"Aku curiga dengan Bunga," kata Anna.


"Apa lagi ini? Kau ingin menyebarkan berita tidak benar tentang Bunga?" tanya Jacob dengan kesal.


"Ini baru dugaanku. Tapi, aku yakin dugaanku benar."


Jacob menoleh ke arah Anna yang sedang menyunggingkan senyuman menyebalkan. Tapi, dadanya berdebar. Ia takut Anna mengetahui rahasia Bunga.


"Kau tahu toko obat di dekat alun-alun? Bunga sering sekali datang ke sana. Dia tidak bekerja di sana. Tapi, dia berperan sebagai tenaga sukarelawan."


"Lalu kenapa? Apa itu masalah untukmu?"


"Dengar dulu, Jacob!" sentak Anna membuat Jacob mengibaskan tangannya.


Anna menghela napasnya. "Pasti ada sebuah rahasia di dalam toko itu. Dan Bunga ikut di dalamnya.


"Kau jangan sembarangan bicara!" timpal Jacob dengan pipi memerah. Karena kesal, juga khawatir.

__ADS_1


"Bagaimana kalau ternyata Bunga tidak sebaik yang kau pikirkan selama ini, Jacob?" tanya Anna tanpa memedulikan seruan Jacob.


***


__ADS_2