BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 24. Sebuah Kisah Lalu.


__ADS_3

Tumenggung Wirya turun dari keretanya di depan sebuah toko obat-obatan. Sebelum ia masuk ke dalam toko, ia meminta kusirnya untuk menunggu.


Lelaki itu, dengan wajah tegang, masuk ke dalam bangunan dan menemui Asih yang berjaga di depan etalase. Perempuan itu menyambut Tumenggung Wirya dengan hangat. Ia sudah tahu maksud kedatangan lelaki itu.


"Monggo, Pak Wirya, silahkan masuk. Bu Galuh ada di ruangannya."


Asih mengantar Tumenggung Wirya hingga ke depan pintu kayu dengan ukiran khas Jepara. Kemudian, ia berlalu dari hadapan lelaki itu.


Tumenggung Wirya merapikan jamangnya sejenak, lalu membuka pintu dan melangkah masuk. Di dalam ruangan yang tidak begitu luas itu, sosok perempuan dengan rambut yang digelung tampak sedang membuat kerajinan tanaman bunga dari ranting-ranting pohon dan kain.


"Mas Wirya, silahkan duduk." Perempuan yang tidak lain adalah Bu Galuh itu mengulas senyumnya. Ia menghentikan kegiatannya dan menyiapkan kursi untuk Tumenggung Wirya.


"Hmm," sahut Tumenggung Wirya dengan angkuh.


"Ada kabar penting? Atau ada perkembangan baru?" Bu Galuh duduk di hadapan Tumenggung Wirya, dengan mengambil jarak sekitar dua meter.


"Galuh, kamu lancang sekali," ucap Tumenggung Wirya dengan tatapan mata tajam menusuk.


Bu Galuh berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Lelaki ini tampak sedang tidak bersahabat. Ya-meskipun biasanya Tumenggung Wirya tidak begitu ramah padanya, tetapi, kali ini Bu Galuh tahu, lelaki itu sedang kesal.


"Lancang? Maksud Mas Wirya apa?" tanya Bu Galuh dengan suara lembut. Wajahnya yang teduh tetap terlihat tenang.


"Beraninya kamu merekrut Bunga jadi anggota Gerwa Mui?!" sentak Tumenggung Wirya dengan gigi gemeretak.


"Oh, itu rupanya," kekeh Bu Galuh. "Kenapa tidak? Bunga gadis yang pintar dan tangguh. Gerwa Mui membutuhkan pemudi seperti dirinya."


"Kamu boleh merekrut gadis manapun yang kamu mau. Tapi tidak putriku!"


Bu Galuh berdiri dan berjalan mendekat pada Tumenggung Wirya. "Mas Wirya seorang pejuang. Sudah seharusnya menanamkan nilai-nilai perjuangan melawan penjajah pada keturunanmu."


"Picik!" sergah lelaki itu. "Kamu melakukannya untuk membalas sakit hatimu padaku, kan, Galuh?"

__ADS_1


Bu Galuh mengibaskan tangannya sambil terkekeh. "Kenapa Mas Wirya menganggap aku masih menyimpan sakit hatiku?"


Tumenggung Wirya tersenyum sinis. "Karena aku tahu perempuan seperti apa kamu, Galuh. Kamu penganut matriakal dan feminisme yang tidak tahu caranya menghormati laki-laki."


Bu Galuh mendecih. Wajahnya yang masih menyisakan kecantikan masa lampau, yang biasanya terlihat teduh, kini berubah garang.


"Jangan pernah libatkan putriku, Galuh. Aku peringatkan kamu."


Perempuan itu menggeleng. "Mas Wirya rela gerakan kita terpecah hanya gara-gara urusan pribadi?"


"Bunga putriku satu-satunya dan aku tidak akan pernah membiarkannya dalam bahaya."


"Mas Wirya tidak pernah berubah rupanya. Selalu meremehkan kekuatan perempuan. Aku tahu, Mas. Meskipun Mas Wirya tidak menentang adanya Gerwa Mui, tapi panjenengan selalu memandang remeh pada kami."


"Aku tidak pernah memandang remeh pada kalian. Hanya saja prinsipku, perempuan harus dilindungi."


"Kami bisa melindungi diri sendiri. Kamk mampu mengangkat senjata seperti kalian para lelaki!"


Sepenggal kisah masa lalu kembali terkuak ke permukaan. Galuh dan Wirya dahulu adalah sepasang kekasih. Tetapi, perbedaan prinsip yang begitu kuat membuat keduanya harus berpisah. Wirya akhirnya menikahi Ratih, sementara Galuh melanjutkan pendidikannya di sekolah perawat yang ada di Bandoeng.


"Aku mengenal panjenengan, Tumenggung Wirya, seorang lelaki yang selalu berlagak menjadi pahlawan, padahal sebenarnya hanya ingin menunjukkan sikap dominan terhadap perempuan. Penganut patriakal sejati," cibir Bu Galuh.


"Aku tidak peduli semua kata-katamu, Galuh. Aku datang hanya untuk memperingatkanmu agar jangan pernah mengganggu putriku."


Bu Galuh menarik sudut bibirnya. "Sebaiknya panjenengan tanyakan sendiri pada Bunga. Dia bersedia melepas keanggotaan Gerwa Mui atau tidak."


Tumenggung Wirya semakin geram. Ia tidak ingin berlama-lama berdebat dengan Bu Galuh. Perempuan itu tidak mungkin mengalah. Seperti dulu. Jalan satu-satunya adalah menutup pembicaraan mereka dengan ancaman. "Aku sudah memperingatkan kamu, Galuh. Kalau kamu mengindahkan, kamu akan berurusan denganku!"


Bu Galuh terkekeh. Selalu saja, jika laki-laki itu tidak mampu menyanggahnya lagi, ia akan mengakhiri perdebatan dengan ancaman.


***

__ADS_1


Ratih menutup pintu kamar Bunga pelan. Sang putri sudah terlelap dalam tidurnya. Beberapa saat yang lalu ia berbicara dengan Bunga dari hati ke hati. Meskipun dirinya sependapat dengan suaminya, tetapi, ia masih mau mendengarkan keluh kesah sang putri.


Kini, perempuan itu masuk ke dalam kamarnya sendiri, di mana Tumenggung Wirya sedang berbaring terlentang di atas dipan seraya menempelkan satu lengannya ke atas kening.


"Bagaimana pembicaraannya dengan Galuh, Pak?" tanya Ratih seraya duduk di tepi dipan. Ia tahu masa lalu suaminya dengan perempuan itu. Dan ia tidak merasa cemburu.


"Aku mengancamnya," jawab Tumenggung Wirya dengan mata terpejam.


"Diancam bagaimana, Pak?"


"Kalau dia melibatkan putriku, dia akan berurusan denganku."


Ratih menghela napasnya. "Apa tidak akan menimbulkan perpecahan di antara para pejuang?"


"Tidak akan. Ini urusanku dengan Galuh secara pribadi."


"Tapi, Bunga bagaimana?"


Tumenggung Wirya menoleh ke arah sang istri. "Kamu sudah bicara dengannya?"


Ratih mengangguk pelan. "Hasilnya tetap sama. Anak itu begitu teguh pendirian."


"Si Galuh itu sudah mencuci otak Bunga!"


"Tapi, bagaimana kalau memang itu yang Bunga inginkan, Pak?"


Lelaki itu mendecak. "Tahu apa anak itu dengan yang dia inginkan."


Ratih terdiam. Ia tidak berani mendebat suaminya lagi. Sejak dulu, ia adalah seorang istri yang taat pada suami. Jika sang suami sudah menentukan, maka dirinya akan mengiyakan.


***

__ADS_1


__ADS_2