
"Bunga!" panggil Jacob seraya menepikan mobilnya di depan Bunga yang berdiri di pinggir jalan tidak jauh dari bangunan sekolah.
"Ayo, aku antar kamu pulang."
Bunga menggeleng. "Aku sedang menunggu kereta lewat," tolaknya.
"Kenapa naik kereta? Aku bisa mengantarmu seperti biasa."
"Aku bilang tidak mau!" seru Bunga kesal. Sejujurnya suasana hatinya sedang tidak baik. Ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Utamanya tentang perampokan rumah direktur pabrik gula yang cukup menggemparkan itu.
Ia bukan menolak ajakan Jacob, tetapi, Bunga sudah berencana pergi ke tempat Bu Galuh untuk menanyakan suatu hal.
Bunga tiba-tiba mendapati Jacob sudah menarik tangannya kemudian mendorongnya masuk ke dalam mobil. "Aku sudah bilang aku tidak mau diantar," sungutnya.
"Hei, aku tahu kamu sedang marah. Anna memang keterlaluan." Jacob mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Bunga menggeleng. Ia tidak terlalu peduli dengan Anna dan kata-kata pedasnya. Ia lebih penasaran dengan para perampok itu. Dan ia harus segera menanyakannya pada Bu Galuh. Tetapi, Jacob malah menghambatnya seperti ini.
"Bunga ...," panggil Jacob membuyarkan lamunan gadis itu.
"Apa?" tanya Bunga seraya menoleh ke arah Jacob yang sedang mengemudi.
"Kamu dengar apa yang aku katakan tadi?"
"Apa?"
Jacob menggeleng seraya menghela napas berat. "Kamu sungguh-sungguh tidak dengar?" tanyanya memastikan.
Bunga menggeleng. Memang, sepertinya Jacob mengucapkan sesuatu, tetapi, pikirannya sedang fokus pada hal lain. "Kamu bicara apa?"
"Aku bilang, aku ingin mengajakmu makan siang di sebuah restauran di dekat alun-alun."
"Oh, sekarang?" tanya Bunga. Kebetulan sekali. Markas Gerwa Mui berada di dekat alun-alun.
"Iya, sekarang. Bagaimana?"
"Restauran khusus orang kulit putih. Aku tahu apa yang akan menimpaku di sana," sindir Bunga.
"Akan aku pastikan tidak ada yang berani mengganggumu, atau memperlakukanmu dengan tidak baik."
__ADS_1
Bunga mengedikkan bahunya. "Terserah kamu saja, Jacob."
Jacob tersenyum gembira. Ia pun dengan penuh semangat mengemudikan mobilnya menuju pusat kota. Hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit untuk mencapai restauran yang dituju, karena mereka sudah setengah jalan.
Bunga tahu restauran dengan arsitektur bergaya Eropa itu. Tetapi, seumur-umur baru kali ini ia masuk. Memang mewah. Sepertinya restauran ini dibangun untuk mengobati kerinduan orang-orang Belanda pada tanah air mereka. Bunga merasa seperti berada di negeri yang asing baginya.
Biasanya, bangunan-bangunan yang dibuat oleh pemerintah Hindia-Belanda, menggabungkan desain Eropa dan Jawa. Tetapi, restauran itu murni berdesain Eropa.
"Tuan Muda Janssen, silahkan duduk," sambut seorang lelaki kulit putih dengan seragam kemeja berdasi kupu-kupu. Ia sama sekali tidak menyapa Bunga. Bahkan melirik pun tidak. Sepertinya Bunga tidak terlihat sama sekali di matanya.
"Sebelah sini, Bunga," ujar Jacob seraya menggandeng tangan Bunga menuju meja yang berada di samping jendela kaca.
"Kenapa melamun terus?" tanya Jacob, kali ini membuat Bunga sedikit terkesiap.
"Oh, tidak apa-apa," timpal Bunga seraya melemparkan pandangannya ke jalan. "Hei, ada apa itu?" tanyanya seraya menunjuk ke arah jalan.
Terlihat beberapa pasukan KNIL dan polisi berjalan beriringan. Di tengah-tengah mereka, seorang lelaki tampak berjalan dengan tangan diikat di belakang. Kepalanya ditutup kain hitam.
Jacob dan Bunga beranjak dari duduknya dan melangkah keluar restauran. Begitupun pengunjung restauran yang lain. Tidak hanya mereka, hampir semua orang di area itu keluar dan berdiri di pinggir jalan, ingin menyaksikan iring-iringan itu.
"Ada apa, ya?"
"Katanya, itu orang yang diduga melakukan perampokan di rumah direktur pabrik gula."
"Oh, begitu. Hendak dibawa ke mana dia?"
"Katanya alun-alun. Mau digantung."
"Astagfirullah."
Bunga mendengar percakapan beberapa orang yang berdiri di belakangnya. Dadanya berdebar kencang. Digantung. Hukuman macam apa itu. Apakah pemerintah Hindia-Belanda sangat serius dalam menghadapi kasus ini.
"Hei, Bunga! Mau ke mana?" seru Jacob saat melihat Bunga tiba-tiba berlalu dari sampingnya. Ia mengikuti gadis itu di antara orang-orang yang berkerumun di sepanjang jalan.
"Bunga! Tunggu!" panggil Jacob. Ia berusaha untuk tidak melepaskan pandangannya pada punggung mungil Bunga di antara orang-orang yang mulai banyak berdatangan. Tetapi, gadis itu begitu cepat menghilang.
Jacob mengangkat kedua tangan seraya menghela napas kecewa. Bunga sudah menghilang dari jangkauan pandangnya.
***
__ADS_1
"Mundur! Mundur kalian semua!" teriak salah seorang tentara seraya mendorong beberapa orang yang hendak menerobos garis pembatas.
"Mundur atau kami tembak!"
Suasana di alun-alun cukup ricuh setelah eksekusi pria yang diduga adalah salah satu orang yang terlibat perampokan. Ia digantung di tiang gantungan yang telah disiapkan di tengah alun-alun.
Mayatnya disaksikan ribuan pasang mata yang memadati tempat itu. Di antara kerumunan orang-orang itu, Bunga berdiri mematung menyaksikan lelaki yang sudah tidak bernyawa itu.
Dadanya begitu sesak. Seperti ada sesuatu yang hendak merangsek keluar. Yang ia pikirkan adalah, bagaimana dengan sanak saudaranya jika menyaksikan peristiwa mengerikan itu. Istrinya, anak-anaknya.
Kedua tangan Bunga mengepal keras. Jika saja bisa, ingin rasanya merebut senjata dari salah seorang tentara KNIL dan menembaki manusia-manusia penghianat yang menjual jiwanya untuk mengabdi pada para penjajah itu.
"Bunga! Ayo, pergi!"
Jacob menarik tangan Bunga menjauh dari kerumunan. Keduanya menerobos keramaian dan berhasil sampai di tempat mobil Jacob terparkir.
"Masuk," pinta Jacob seraya membuka pintu untuk Bunga.
"Maaf, Jacob, aku ada urusan. Kamu pulang saja." Bunga menutup pintu mobil Jacob dan memutar badan kemudian melangkah cepat meninggalkan Jacob.
Jacob mengangkat kedua tangannya keheranan. Sikap Bunga begitu aneh di matanya. Gadis itu gelisah. Seperti ada sesuatu yang sangat mengganggunya.
Ia pun memutuskan untuk mengikuti Bunga. Gadis itu berbelok di persimpangan jalan, dan berjalan cepat menuju area pusat pertokoan. Jalanan cukup sepi karena hampir semua penduduk kota sedang berkumpul di alun-alun untuk menyaksikan eksekusi hukuman gantung.
Jacob melihat Bunga masuk ke sebuah toko obat-obatan. Ia pun segera mendekati bangunan itu. Sepasang mata birunya mengawasi ke dalam toko. Mencari sosok Bunga yang baru saja masuk ke sana.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang perempuan yang baru saja muncul dari dari dalam. Perempuan yang tidak lain adalah Asih itu mengulas senyum ramah pada Jacob.
"Mmm ... aku sedang mencari temanku. Tadi, dia masuk kemari," jawab Jacob. Matanya mengawasi pintu di samping rak dagangan.
"Oh, siapa yang Tuan cari?" tanya Asih.
"Namanya Bunga."
"Oh, Bunga. Ada di belakang. Sedang membantu membungkusi rempah-rempah."
Jacob mengangguk-angguk. Kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan toko. Toko obat-obatan. Ia baru pernah datang ke tempat ini. Bunga pun tidak pernah menceritakan apapun kalau ia bekerja di tempat ini.
Bekerja di tempat ini, atau?
__ADS_1
***