BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 17. Gadis Pribumi Tidak Sederajat Dengan Orang Belanda.


__ADS_3

Bunga mengetuk pintu ruangan ayahnya. Lelaki itu sedang membersihkan kerisnya dengan kain. Ia timang-timang senjata itu bagai seorang bayi.


"Bapak," panggil Bunga dari ambang pintu.


"Opo, Ndhuk?" Tumenggung Wirya menyahut tanpa mengalihkan perhatian dari keris di tangannya. "Sini masuk," pintanya.


Bunga melangkah pelan mendekati Tumenggung Wirya. Lelaki itu menoleh padanya dan mengulas senyum. Kemudian memintanya duduk di atas amben.


"Ada apa, Bunga?" tanya Tumenggung Wirya. Ia meletakkan keris yang sudah ia masukkan ke sarungnya di atas meja. Perhatiannya kini beralih pada sang putri.


"Saya ingin bicara, Pak."


"Bicara apa, Nduk? Penting sekali sepertinya."


Bunga sedikit kesusahan menelan salivanya. Benaknya diliputi keraguan. Tetapi, ia harus membicarakan ini dengan sang ayah.


"Pak, sudah sejauh mana perjuangan orang-orang kita?" tanya Bunga dengan tenggorokan tercekat.


Tumenggung Wirya menatap sang putri penuh selidik. Ia cukup terkejut dengan pertanyaan Bunga. "Perjuangan apa maksudmu?" tanyanya.


Sekali lagi Bunga menelan salivanya. "Saya tahu tentang pertemuan rahasia yang Bapak lakukan dengan orang-orang di dalam paviliun."


Lelaki dengan rambut yang mulai memutih sebagian itu terkekeh. "Tidak ada pertemuan rahasia. Itu hanya acara gendu-gendu rasa Bapak dan teman-teman Bapak."


"Pak, saya bukan anak kecil lagi." Entah mendapat keberanian dari mana Bunga menyela sang ayahnya. "Bapak tidak perlu membohongi saya terus."


"Kamu sudah termakan rumor di luar sana, Bunga."


Bunga menggeleng. "Saya yakin itu bukan sekedar rumor, Pak."


Tumenggung Wirya menatap sang putri seraya menghela napas dalam-dalam. Ia tidak menyangka, Bunga telah tumbuh menjadi remaja yang kritis. Meskipun dalam masa tumbuhnya gadis itu begitu bandel dan sering melanggar aturannya. Tidak jarang juga Bunga membuatnya marah.

__ADS_1


"Bapak tegaskan itu hanya sekedar rumor, Bunga."


"Kenapa Bapak menutupinya? Apa Bapak tidak mempercayai saya?"


"Tidak ada yang ditutup-tutupi, Nduk."


Bunga kecewa dengan jawaban sang ayah. Ia merasa dirinya sudah cukup dewasa untuk menjadi bagian dari rencana rahasia sang ayah.


Bu Galuh, perempuan yang ia temui bersama Ningrum beberapa hari lalu, sudah menceritakan semua. Semuanya yang perlu diketahui oleh Bunga.


Perempuan itu sedang merekrut sebanyak-banyaknya gadis-gadis pribumi yang siap untuk berjuang melawan penjajah; membantu para pejuang di negeri ini, termasuk ayahnya.


Dan Bunga merasa malu, sebagai putri dari orang penting dalam rencana rahasia ini, ia justru baru mengetahui semuanya. Karena itulah, ia memutuskan untuk bergabung dengan Gerwa Mui pimpinan Bu Galuh, tanpa pikir panjang.


"Saya ingin ikut berjuang, Pak," ucap Bunga tanpa mengindahkan ucapan sang ayah.


"Tugasmu hanya menyelesaikan sekolahmu. Itu saja. Tidak usah neko-neko (macam-macam)."


Tumenggung Wirya mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat pada Bunga untuk tidak bicara lagi. Ia menatap sang putri dengan hati yang tiba-tiba merasa cemas.


"Dan satu lagi, Bunga. Ini sudah Bapak peringatkan berkali-kali. Bapak tidak suka kamu bergaul dengan anak Londo (Belanda) itu," ucap Tumenggung Wirya.


"Kalau kamu ingin ikut berjuang untuk negeri ini, pertama yang harus kamu lakukan adalah, menjauhi para penjajah," lanjutnya.


Bunga memalingkan wajahnya. Tampak gurat kekecewaan terbias dari sana. Bukan peringatan sang ayah untuk menjauhi Jacob yang membuatnya kecewa, tetapi, sikap ayahnya yang seakan-akan tidak ingin melibatkannya dalam rencana rahasia.


***


Di meja makan, Jacob hanya memainkan makanan di piring tanpa berniat untuk menyantapnya. Therese memperhatikan sang putra yang tampak murung.


"Wat is er mis met je (Ada apa denganmu), Jacob?" tanya perempuan itu, membuat Ambroos yang sedang menikmati santap malamnya mengalihkan pandang pada putranya.

__ADS_1


"Is er een probleem (Apa ada masalah)?" tanya Ambroos pada Jacob.


"Nee (Tidak)," jawab Jacob singkat.


"Kenapa wajahmu murung?"


Jacob hanya menggeleng pelan. "Aku tidak lapar."


"Nee, nee, nee, Jacob ... kamu harus makan cukup biar sehat. Di sini rawan penyakit, kamu tahu itu," sergah Therese.


"Aku tinggal di sini dari kecil, Mamma. Kenapa masih mengkhawatirkan hal-hal semacam itu?"


"Kamu jarang sakit karena Mamma selalu menjaga kesehatan kamu."


"Mamma-mu benar, Jacob," sahut Ambroos dari seberang meja. "Fisikmu harus kuat untuk masuk Akademi Militer nanti setelah lulus dari AMS."


Nafsu makan Jacob sudah sepenuhnya hilang saat mendengar ucapan sang ayah. "Aku tidak mau masuk akademi militer!" sergahnya.


"Mau atau tidak kamu tetap akan Papa kirim ke Bandoeng setelah lulus."


"Nee!" seru Jacob seraya menantang tatapan sang ayah.


"Kamu tidak punya pilihan, Jacob. Masuk Akademi Militer, atau Papa pulangkan ke Holland," ancam Ambroos.


Jacob sangat membenci ini. Saat sikap otoriter sang ayah diterapkan padanya. Saat kehendak kedua orang tuanya dipaksakan untuknya.


"Dan satu lagi, Jacob. Ini sudah berkali-kali Papa ingatkan. Papa tidak suka kamu bergaul dengan gadis pribumi itu!"


"Je papa heeft gelijk (Papamu benar), Jacob. Gadis pribumi tidak sederajat dengan kita."


Jacob berdiri dengan cepat, sehingga lututnya sedikit bertabrakan dengan meja, membuat piring-piring di atasnya bergetar. Kemudian, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pemuda itu melenggang pergi meninggalkan ruang makan. Ia bahkan tidak menggubris panggilan sang ayah.

__ADS_1


***


__ADS_2