
"Kenapa kamu menghindar terus dariku, Bunga?" Jacob meraih tangan Bunga dan menarik gadis itu masuk ke dalam gang sempit antara gedung perpustakaan dan kelas.
"Siapa yang menghindar?" Bunga memalingkan wajahnya. Ia tidak berani menatap Jacob. Perasaannya dari hari ke hari semakin aneh saja saat berdekatan dengan pemuda itu.
"Di kelas, kamu tidak mau duduk bersebelahan denganku lagi."
"Karena ... kamu selalu mengganggu konsentrasi belajarku." Bunga mengungkapkan alasan yang sengaja ia buat-buat. Yang sebenarnya adalah, Jacob membuatnya merasa canggung.
Jacob mendecak sebal. Tetapi, hatinya gembira melihat wajah Bunga bersemu merah. Artinya, gadis itu memang merasa canggung berhadapan dengannya. Tentu, baru akhir-akhir ini saja itu terjadi.
Dipandanginya wajah Bunga lekat. Sementara gadis itu tidak berani menatapnya.
"Apa kamu sudah tahu?" tanya Jacob.
"Tahu apa?"
"Tentang perasaanmu padaku."
"Masih sama. Aku tidak punya perasaan apa-apa padamu."
Jacob terkekeh. Bunga jelas sedang membohongi diri sendiri. Pipinya saja semakin bersemu merah dan deru napasnya sedikit memburu.
Didekatinya wajah Bunga dan gadis itu memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian bibir Jacob menyentuh bibir Bunga, lalu mengulumnya lembut.
Bunga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ini cara orang kulit putih mengekspresikan perasaan pada orang yang ia sukai. Sesuatu yang sangat asing bagi Bunga.
"Apa yang sedang kalian lakukan!"
Seruan itu membuat Bunga dan Jacob melepaskan tautan bibir mereka. Keduanya menoleh ke arah suara. Anna berdiri di ujung gang dengan mata terbelalak.
"Kalian ... kalian berciuman?" Gadis itu tampak syok. Kedua tangannya mengepal.
Jacob tampak tenang. Ia berdiri di depan Bunga untuk melindungi gadis itu. "Iya, kami berciuman. Kamu mau apa?" tantangnya.
Anna membulatkan sepasang matanya. "Jij bent mijn vionie ( Kamu tunanganku)!" serunya.
"Nooit (Tidak akan pernah)!" timpal Jacob.
__ADS_1
Tangis Anna pecah. "Aku akan melaporkanmu pada orang tuamu!" ancamnya. Lalu ia berlari meninggalkan Jacob dan Bunga.
Jacob memutar badan dan menatap Bunga yang sepertinya juga sedang syok. Bukan karena mereka kepergok Anna sedang menyatukan bibir, tetapi, syok karena apa yang baru saja ia perbuat dengan Jacob.
"Je bent nu mijn vriendin ( Kamu kekasihku sekarang)," ucap Jacob.
"Apa?" sergah Bunga. "Tunggu, Jacob. Aku belum mengatakan apa-apa."
Jacob terkekeh. "Aku sudah tahu yang kamu rasakan padaku."
Bunga menggeleng kuat. "Jangan menyimpulkan terlalu cepat."
"Bibirmu, dan bibirku, sudah bersentuhan," gelak Jacob.
Bunga mendorong dada Jacob keras. "Itu tidak berarti apa-apa!" serunya seraya berlari meninggalkan Jacob.
"Hei, Bunga! Tunggu!" panggil Jacob. Tetapi gadis itu sudah menghilang di ujung gang.
***
"Berhenti di sini," perintah Anna pada sopirnya. Mobilnya berhenti di seberang sebuah toko obat, di mana ia melihat seorang gadis yang ia kenal tengah melangkah masuk.
Anna ingin membuka mata tunangannya bahwa gadis yang dipuja itu tidak sebaik yang dikira. Meskipun, Anna juga belum yakin kalau dugaannya benar.
"Wondo, kamu tahu tempat apa itu?" tanya Anna pada si sopir. Lelaki pribumi berusia empat puluhan tahun.
"Toko obat, Nona." Si sopir, Wondo, menjawab.
Anna mendecak. "Aku tahu itu toko obat, Bodoh. Maksudku, ada apa di dalamnya?"
"Ya, ada obat-obatan, Nona."
Anna menggeram. "Dasar pribumi bodoh!" makinya pelan. "Selain digunakan untuk toko obat, apa ada fungsi lain dari toko itu?"
"Wah, saya tidak tahu, Nona."
Anna menatap bangunan toko itu penuh selidik. "Wondo, apa kamu mau uang banyak?' tanyanya.
__ADS_1
"Ya, mau, Nona. Siapa yang tidak mau uang banyak."
"Aku punya tugas untukmu." Anna menarik sudut bibirnya.
"Tugas apa, Nona?" tanya Wondo seraya mengerutkan kening.
"Apa kamu bisa selidiki apa yang ada di dalam sana?"
Wondo menggaruk kepalanya. "Selidiki bagaimana, Nona?"
"Ya selidiki saja. Pokoknya aku mau kamu bawa berita untukku apa yang dilakukan orang-orang di dalam toko obat itu!"
Wondo tampak kebingungan. Ia tidak mengerti maksud majikannya itu. Apa yang harus ia selidiki dari sebuah toko obat.
"Kamu mengerti, tidak?" bentak Anna.
"Memangnya Nona sedang mencari apa?" tanya Wondo yang masih kebingungan.
"Aku curiga ada sebuah rahasia di dalam toko obat itu. Itu tugasmu mencari tahu apa rahasia itu," terang Anna.
Sungguh tugas yang sulit bagi Wondo. Bagaimana caranya ia menyelidiki tempat itu. Ia tidak punya pengalaman dalam menyelidiki sesuatu. Ia hanya seorang kusir kereta, pada awalnya, kemudian saat majikannya membeli mobil, ia pun dilatih mengemudi.
"Kamu tahu gadis itu?" tanya Anna seraya menunjuk ke arah toko, di mana Bunga baru saja keluar dari sana.
"Oh, ya, tahu, Nona. Itu kan anaknya mantan bupati, to?"
"Benar. Dan dia sering sekali berkunjung ke toko itu. Aku mencurigai gadis itu melakukan sesuatu rahasia di sana."
"Mungkin saja dia hanya membeli obat, Nona."
Anna mendecak. "Makanya aku memberimu tugas untuk mencari tahu, apa yang dilakukan gadis itu di sana."
"Jadi, saya harus menyelidiki toko obat atau gadis itu, Nona?"
"Dua-duanya, Tolol!" bentak Anna kesal. "Aku akan memberimu banyak uang kalau kamu berhasil mendapatkan berita bagus. Kalau kamu gagal, aku akan suruh Oom memecatmu!" ancamnya.
Wondo bergidik. Dipecat dari keluarga Belanda artinya ia akan sangat susah mencari pekerjaan lagi. Tidak ada orang Belanda yang mau mempekerjakannya, begitupun orang pribumi. Jika tahu dirinya pernah bekerja dengan orang Belanda, mereka tidak akan mau membantunya.
__ADS_1
***