
Bunga mendengar kabar telah terjadi pertengkaran hebat antara Anna dan Laura, kemarin di sekolah. Kebetulan dirinya tidak masuk karena harus membantu ibunya menyiapkan makanan untuk acara tahlilan di rumah mereka malam harinya.
Sudah bisa Bunga tebak apa yang menjadi permasalahan dua gadis Belanda itu. Jacob. Mereka pasti memperebutkan sahabatnya itu.
Hari itu, Bunga sedikit heran dengan sikap Anna yang tidak seperti biasanya. Gadis itu yang biasanya ramah pada, kini selalu melempar tatapan sinis padanya.
Sejujurnya Bunga tidak terlalu peduli. Hingga siang itu saat semua murid beristirahat di luar, termasuk Jacob; pamitnya akan menemui salah seorang guru, Anna menemui Bunga di mejanya.
"Ik wil met je praten ( Aku mau bicara denganmu)," ucap Anna.
"Doe maar (Silahkan)," sahut Bunga seraya menutup buku yang sedang dibacanya.
Anna meletakkan kedua lengan di atas meja. "Tentang Jacob."
"Ja? Ada apa dengannya?" tanya Bunga seraya mengerutkan kening.
"Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Jacob." Anna mengutarakan maksudnya tanpa basa-basi.
Bunga terkekeh. "Aku sudah berteman dengan Jacob sejak kecil. Dia sahabatku. Tidak mungkin aku tidak dekat-dekat dengannya."
"Aku tidak peduli itu!" sergah Anna.
Anna yang biasanya manis, kini terlihat galak. Sampai-sampai Bunga berpikir kalau sikap manis gadis itu selama ini adalah palsu. Dan hari ini ia sedang menunjukkan wajah aslinya.
Tetapi, Bunga tidak gentar sama sekali. Anna belum memberikan alasan jelas kenapa ia harus menjauhi Jacob. "Memangnya kamu siapa? Kekasih Jacob?" tanyanya kemudian.
"Sebentar lagi," jawab Anna penuh percaya diri. "Bukan hanya kekasih, tetapi aku akan bertunangan dengan Jacob."
Bunga membulatkan sepasang matanya. Anna akan bertunangan dengan Jacob. Ia bertanya-tanya. Jacob pernah bercerita kalau kedua orang tuanya berniat menjodohkan dirinya dengan Laura. Kenapa sekarang Anna yang akan bertunangan dengannya.
"Kamu pikir Laura yang akan bertunangan dengan Jacob, ya?" Anna tersenyum sinis. "Latar belakang keluargaku lebih layak untuk menjadi besan keluarga Janssen."
Anna adalah putri dari wakil Gubernur Jendral Hindia Belanda. Kedua orang tuanya berada di Batavia, sedang dirinya berada di Semarang bersama keluarga pamannya yang menjabat sebagai direktur di pabrik gula satu-satunya di kota itu.
__ADS_1
"Apa alasanmu melarangku dekat dengan Jacob? Apa kamu takut aku akan merebutnya darimu?" tanya Bunga.
"Jacob selalu membicarakan dirimu saat bersamaku. Aku tidak suka."
Bunga menarik sudut bibirnya. Jacob tidak pernah menceritakan ini padanya. Menceritakan kalau ia sering bersama dengan Anna. Yang pemuda itu katakan adalah, ia tidak menyukai Anna. Jacob bahkan pernah marah padanya saat dirinya berusaha menjadi Mak Comblang untuk mereka.
"Kenapa? Kamu tidak suka? Atau jangan-jangan kamu berharap menjadi kekasih Jacob?" tanya Anna sinis. "Jangan pernah bermimpi menjadi kekasih Jacob. Kamu tahu siapa dirimu dan derajatmu."
Bunga berasa menahan luapan kegeramannya. Ia benci saat ada orang Belanda yang mengingatkannya tentang derajat kaum pribumi di mata mereka. Jika saja Bunga tidak bisa menahan diri, ia pasti sudah menampar gadis cantik di seberang mejanya itu.
"Aku juga ingin memberitahumu, kalau mulai sekarang, kita bertukar tempat duduk."
"Kenapa harus bertukar tempat duduk? Sejak masuk sekolah pertama kali aku sudah duduk di sini," timpal Bunga. Ia menolak diperlakukan semena-mena oleh gadis kulit putih itu.
"Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak suka kamu dekat dengan Jacob? Kamu bodoh atau tuli?"
Brakk
Anna dibuat terkejut bukan main dengan suara gebrakan meja yang dilakukan oleh Bunga. "Kalau kamu mau dekat dengan Jacob, suruh dia duduk denganmu!"
Dada Bunga bergemuruh. Ia tidak peduli seperti apa hubungan Jacob dan Anna. Yang membuatnya naik pitam adalah hinaan yang dilontarkan oleh Anna. Itu yang membuat Bunga tidak terima.
"Ini kursiku dan aku tidak akan pindah ke mana-mana!" tegas Bunga. Ia menantang tatapan tajam mata Anna.
Anna mendengus kesal. Tetapi, sesaat kemudian wajahnya semringah saat melihat Jacob masuk ke dalam kelas.
"Jacob, zeg tegen dit meisje dat ze met mij van plaats moet wisselen (katakan padanya untuk bertukar tempat duduk denganku)," pinta Anna seraya bergelayut di pundak Jacob.
Jacob yang merasa risih melepaskan tangan Anna dari pundaknya. "Waarom moet je van stoel wisselen ( Kenapa harus bertukar tempat duduk)?" tanyanya pada Anna dengan raut wajah tidak suka.
"Karena aku ingin duduk dengan kamu," jawab Anna dengan suara manja.
"Bunga tidak akan pindah ke mana-mana. Dia tetap duduk di sini denganku!" tegas Jacob membuat sepasang mata indah Anna membuat dan mulutnya menganga.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu, Jacob? Aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan dia!" erang Anna.
Jacob melipat kedua lengan di depan dada. "Aku yang mau dekat dengan Bunga. Kamu mau apa?"
Anna terperangah. Ia tidak menyangka Jacob lebih membela Bunga ketimbang dirinya. Apalagi gadis itu seorang pribumi rendahan.
"Pergi ke kursimu!" perintah Jacob pada Anna.
Gadis bersurai coklat panjang itu bersungut-sungut kembali ke kursinya. Saat itu murid-murid yang lain mulai berdatangan.
"Seharusnya kamu saja yang duduk di sana," ucap Bunga seraya menggerakkan dagunya ke arah Anna yang duduk di barisan kedua dari depan.
"Malas!" sahut Jacob seraya menjatuhkan bo kongnya ke atas kursi di samping Bunga.
"Dia kan calon tunanganmu," ujar Bunga mengingatkan.
Mata Jacob menyipit menatap Bunga. "Calon tunangan?" tanyanya.
"Ja. Calon tunangan."
"Dari mana kamu dapat kabar burung itu?"
"Dia sendiri yang bilang."
Jacob mendecak. Lalu menggeleng. "Baru berupa rencana kedua orang tua kami. Tapi, sudah pasti aku akan menolak."
Bunga mengibaskan tangannya menganggap ucapan Jacob hanya angin lalu. Pasalnya, beberapa kali Jacob bercerita dia dijodohkan dengan gadis-gadis kelas atas oleh orang tuanya. Dan Jacob selalu menolak. Bunga tidak mengerti kenapa Jacob bersikap seperti itu.
"Aku sudah bilang aku mau menikah denganmu, Bunga."
Pukkk
Bunga memukul pelan kepala Jacob dengan buku ditangannya. "Bercandamu tidak lucu!" sungutnya.
__ADS_1
***