
Setelah meninggalkan Jacob dan Anna di taman, Bunga pergi ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu istirahat siangnya. Perpustakaan sederhana tetapi penuh dengan buku-buku tebal yang disusun rapi dalam empat baris rak.
Seseorang menyentuh bahunya pelan saat ia sedang sibuk memilih-milih buku yang hendak dibacanya. Bunga menoleh. Seorang gadis berkulit sawo matang telah berdiri di sampingnya.
Namanya Ningrum. Ia salah satu dari tiga anak perempuan pribumi yang bersekolah di sana. Bunga jarang berkomunikasi dengan gadis itu karena mereka tidak satu kelas, meskipun mereka saling mengenal. Atau alasan lain karena Bunga lebih sering bersama dengan Jacob.
"Aku ingin bicara dengan kamu," ucap Ningrum, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, memeriksa sekeliling mereka.
"Ada apa, ya?" tanya Bunga seraya mengembalikan buku yang diambilnya ke dalam rak.
Ningrum mengajak Bunoa duduk di ruang baca yang hanya terdapat beberapa meja. Semuanya kosong. Tidak banyak murid yang mau menghabiskan waktu istirahat mereka di perpustakaan. Mereka lebih senang bermain di luar atau di sekitar area sekolah.
Masih dengan tatapan waspada, Ningrum mencondongkan badan ke atas meja, mendekat pada Bunga yang duduk di seberangnya.
"Aku dengar ada inspektur polisi datang menemui ayahmu. Benar tidak?" tanya Ningrum setengah berbisik.
"Dari mana kamu tahu?" Bunga mengerutkan keningnya. Pembicaraan ini akan serius sepertinya.
"Kabar itu sudah tersebar ke mana-mana, Bunga."
Bunga mengelus dagunya. Ia menatap Ningrum beberapa saat. Gadis itu sepertinya ingin mengorek keterangan darinya. "Lalu?" tanyanya.
"Apa kepolisian mencurigai ayahmu sebagai dalang peristiwa di pasar Djoehar?"
"Sepertinya." Bunga mengangguk-angguk. "Aku tidak tahu kenapa."
"Apa mungkin karena rumor itu?"
Dada Bunga berdesir. Sudah dua orang yang mengungkapkan tentang rumor pertemuan rahasia yang sering terjadi di kediamannya. "Kenapa kamu bertanya tentang hal itu?" tanyanya penasaran.
"Kamu pasti tahu sesuatu, Bunga."
"Tidak. Aku tidak tahu apa-apa."
__ADS_1
"Kamu bisa percaya denganku." Ningrum memperlihatkan kalung perak berliontin bunga mawar dengan tangkainya yang berduri dari balik bajunya. "Sudah lama aku ingin bicara dengan kamu tentang ini. Tapi, kamu selalu bersama teman Belanda-mu itu."
"Jacob. Namanya Jacob," tegas Bunga. "Dia beda dengan orang-orang Belanda yang lain."
Ningrum menarik sudut bibirnya. "Iya, terserah saja," ucapnya tidak acuh.
"Simbol ini. Kamu pernah melihatnya?" tanya Ningrum menunjuk liontinnya.
Bunga menggeleng. Tetapi ia tidak yakin kalau ia tidak pernah melihatnya. Rasanya simbol mawar berduri itu sudah pernah ia lihat di suatu tempat.
"Ini simbol Gerwa Mui," ucap Ningrum setengah berbisik.
"Gerwa Mui?" Bunga ikut memelankan suaranya. Nama itu masih asing di telinga gadis itu. Terdengar seperti bahasa sansekerta atau semacamnya.
"Gerakan Wanita Muda Indonesia," jelas Ningrum.
"Indonesia," ucap Bunga lirih. Satu nama yang terdengar sakral itu jarang sekali ia dengar. Orang-orang Belanda lebih senang menyebut negeri ini dengan nama yang mereka sematkan, Hindia. Namun, seorang pria bangsawan dari Yogyakarta bernama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat begitu gigih memperjuangkan nama sakral itu untuk diakui dalam ranah politik.
***
Bunga masuk ke dalam kelasnya yang sudah mulai ramai. Ia melihat Jacob sedang duduk bersama Anna. Keduanya sedang mengobrol, meskipun sepertinya hanya Anna yang terlihat lebih aktif berbicara.
Saat melihat Bunga, Anna beranjak dari duduknya karena kursi di samping Jacob milik gadis itu. Kedua gadis itu saling mengulas senyum.
"Terimakasih," ucap Anna saat melewati Bunga untuk kembali ke kursinya.
Bunga mengangguk lalu duduk di samping Jacob yang berpura-pura sibuk dengan bukunya. Wajah pemuda cemberut. Ia tidak tersenyum atau pun menyapa sahabatnya.
"Kamu kenapa?" tanya Bunga keheranan. Ia memeriksa wajah muram Jacob.
"Tidak apa-apa." Jacob menggeser duduknya memberi jarak dari kursi yang diduduki Bunga.
"Ada masalah, Jacob?"
__ADS_1
"Tidak ada."
"Kenapa kamu ketus sekali padaku?"
Jacob hanya mendecak. Tetapi tidak menjawab pertanyaan Bunga.
"Jacob?" desak Bunga.
"Hmm. Aku sedang baca. Jangan ganggu!" tegas Jacob.
Bunga mencebikkan bibirnya. "Aneh," gumamnya. Tetapi, Bunga tidak ingin ambil pusing. Benaknya sedang dipenuhi obrolannya beberapa saat lalu dengan Ningrum. Sebuah obrolan yang mampu membuat dadanya berdesir hebat.
Melihat Bunga yang acuh tidak acuh, Jacob menjadi semakin kesal. Ia menutup buku dengan keras dan beranjak dari duduknya, lalu melenggang meninggalkan kelas.
Bunga melongo melihat sikap Jacob. Dalam hati bertanya-tanya ada apa dengan anak itu. Beberapa saat berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Jacob keluar kelas.
Ia melihat Jacob berjalan keluar gerbang sekolah. Bunga pun mengikuti pemuda itu hingga masuk ke sebuah kedai makan. Di sana, Bunga melihat Jacob duduk di sudut kursi panjang.
Pemilik kedai sedang menyiapkan minuman sirup untuk Jacob. Pemuda itu juga meminta satu bungkus rokok. Hal itu membuat Bunga semakin keheranan. Pasalnya, ia tidak pernah melihat Jacob merokok.
"Jacob, kamu kenapa?" tanya Bunga sembari mengambil tempat duduk di samping pemuda itu.
"Kenapa ikut kemari?" Jacob memasang ekspresi wajah tidak sukanya. "Kamu jangan ganggu aku."
"Kamu aneh sekali. Tidak biasanya kamu bersikap seperti ini denganku. Memangnya aku salah apa?" tanya Bunga dengan polosnya.
Jacob memalingkan wajahnya. "Denken (Pikir saja)."
Bunga menghembuskan napasnya kasar. Ia tidak punya waktu memikirkan hal remeh-temeh seperti ini. Kepalanya sedang dipenuhi sesuatu yang sangat besar.
"Pak, minta limunnya satu gelas, ya," ucap Bunga pada pemilik kedai.
***
__ADS_1