BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 8. Peringatan.


__ADS_3

"Sampeyan ngomong apa?" Mata Bunga membesar menatap lelaki itu. Kedua tangannya sudah mengepal geram.


"Gundik Londo, dengar ndak?" Si lelaki mengulang ucapannya. Kemudian ia mendekat pada Bunga dan memelankan suaranya di samping telinga gadis itu, "Bapakmu pasti malu punya anak seperti kamu. Kamu membuat perjuangan bapakmu sia-sia."


Bugh


"Bunga!" seru Jacob seraya menarik lengan gadis itu. Ia terkejut saat melihat Bunga tiba-tiba memukul wajah si lelaki.


"Aku akan hajar dia!" Bunga berusaha melepaskan tangannya. Amarahnya memuncak.


"Hei! Bunga, tenanglah," pinta Jacob tanpa melepaskan tangan Bunga.


"Orang ini keterlaluan!" Bunga menatap tajam pada si lelaki. Entah apa maksud perkataan lelaki itu, yang jelas Bunga tidak bisa menahan diri untuk memberinya pelajaran.


"Apa yang dia katakan?" tanya Jacob.


"Kamu ingin tahu? Dia bilang aku pela curmu!"


Bugh


Satu pukulan mendarat dengan keras di wajah si lelaki, hingga ia tersungkur. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Bukan Bunga yang menghajarnya, melainkan Jacob. Wajah pemuda itu merah padam. Pertanda ia sedang diselimuti amarah. Sesaat Bunga tertegun melihat perbuatan sahabatnya itu.


"Pergi!" usir Jacob pada lelaki itu.


Si lelaki meludahkan darah dari mulutnya sebelum akhirnya meninggalkan Bunga dan Jacob.


"Keterlaluan," gerutu Jacob geram.


Sementara Bunga hanya diam saja. Ucapan lelaki itu benar-benar menyakiti hatinya. Apalagi ia menyinggung soal ayahnya, membuatnya bertanya-tanya di sela-sela sakit hatinya. Rasanya kalimat terakhir yang diucapkan lelaki itu sedikit janggal.

__ADS_1


"Bunga ...." Jacob menyentuh bahu gadis itu lembut. "Kamu tidak apa-apa?"


Bunga menggeleng. "Rodanya bagaimana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Jacob meringis. "Kita tinggalkan saja mobilnya di sini."


"Bagaimana kalau ada yang mencurinya?" Bunga mengerutkan keningnya.


"Biar saja." Jacob mengambil kunci mobilnya dan berjalan menelusuri jalan setapak di pinggir perkebunan kopi itu.


"Kamu benar-benar akan meninggalkan mobilmu di sini?" Bunga menyusul langkah Jacob.


"Ja."


"Kamu akan dimarahi papamu, Jacob."


Jacob mengedikkan bahu, menganggap ucapan Bunga hanya angin lalu. "Nanti aku beritahu dia apa yang terjadi."


***


Tumenggung Wirya mengelus dagunya sambil mendengarkan salah seorang lelaki yang ada di dalam paviliun berbicara. Ia dengarkan penuturan lelaki berkulit gelap itu dengan seksama.


Dadanya bergemuruh saat si lelaki menyinggung tentang Bunga. Telapak tangannya mengepal erat.


"Kita membenci orang-orang kulit putih itu. Membenci hingga mendarah daging. Tapi, putri panjengan, malah berteman dengan penjajah. Itu sungguh tidak pantas, Pak Wirya."


"Panjenengan harus mengawasi putri panjenengan, Pak. Jangan sampai dia menghambat rencana yang sudah kita susun selama bertahun-tahun."


"Benar, Pak Wirya. Saya sudah banyak mendengar sepak terjang putri panjenengan di luar sana dengan anak Ambroos Janssen."


Tumenggung Wirya mendengus. "Bunga dan anak Ambroos Janssen hanya teman sekolah. Tidak lebih dari itu."

__ADS_1


"Tapi banyak yang melihat mereka sering bersama. Ini sungguh tidak bagus untuk reputasimu sebagai pimpinan."


"Mengenai putriku, itu akan menjadi urusanku saja. Kalian semua tidak perlu menganggapnya sebagai batu sandungan dalam rencana ini." Tumenggung Wirya berbicara dengan suara berat seraya menatap satu persatu lelaki yang ada di dalam paviliun.


"Tapi, bisa saja putri panjenengan suatu saat membocorkan rencana ini pada anak Ambroos Janssen. Dan itu sangat berbahaya." Lelaki yang memakai jamang di kepalanya berucap.


"Bunga tidak tahu apa-apa tentang rencana ini," timpal Tumenggung Wirya menegaskan.


"Tidak tahu?" sinis lelaki dengan bekas luka di pipi kirinya. "Panjenengan yakin? Selama bertahun-tahun kita mengadakan pertemuan rahasia di sini. Tidak mungkin putri panjenengan itu tidak penasaran dan mencari tahu."


"Soemargo!" sentak Tumenggung Wirya memanggil nama lelaki dengan bekas luka di wajahnya itu. "Sudah aku bilang, biar aku yang mengurus Bunga!" tegasnya.


Lelaki yang dipanggil dengan nama Soemargo itu menundukkan wajahnya. Sementara Tumenggung Wirya tampak gelisah. Laporan dari orang-orangnya itu cukup membuatnya terganggu.


Pagi harinya saat Bunga sudah siap untuk pergi ke sekolah, Tumenggung Wirya memanggil putrinya itu menghadap padanya. Ia harus menegaskan pada Bunga bahwa dirinya tidak suka sang putri dekat dengan anak penjajah.


"Bapak sudah niteni (memperhatikan) tingkah lakumu selama ini. Sedekat apa kamu dengan anak penjajah itu?"


Bunga yang sedang menundukkan wajah, mengepalkan kedua telapak tangan. "Hanya bersahabat saja, Pak."


"Bapak tidak mau kamu terlalu akrab dengan anak itu."


"Tapi ... temanku di sekolah hanya dia, Pak," protes Bunga.


"Pokoknya Bapak tidak mau tahu. Kamu jaga jarak dengan anak itu!"


"Tapi, Pak ..."


"Tidak ada tapi." Tumenggung Wirya menunjuk wajah Bunga dengan tegas. "Cukup kamu berteman dengan anak itu saat berada di lingkungan sekolah. Di luar sekolah, bapak tidak izinkan kamu bergaul dengannya."


Bunga menghela napas berat. Selama ini, ayahnya itu memang tidak suka dengan Jacob. Terhitung sudah berapa kali sang ayah memperingatinya untuk menjaga jarak dari sahabatnya itu, tetapi, Bunga selalu punya cara untuk lolos dari pengawasan ayahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2