
"Jacob ...," bujuk Bunga untuk kesekian kalinya. Pemuda itu tetap memasang wajah muramnya. Sepertinya ia benar-benar kesal, tetapi Bunga tidak mengerti apa masalahnya.
Bunga menghela napas berat. "Baiklah kalau kamu tidak mau memberitahuku ada masalah apa." Ia beranjak dari duduknya, menghabiskan sisa limun di gelasnya, lalu merogoh saku untuk mengambil uang.
"Aku yang bayar," sergah Jacob seraya menepis tangan Bunga yang terulur ke arah pemilik kedai.
Bunga menaikkan alisnya. Sekali lagi, sikap Jacob membuatnya terheran-heran. Setelah selesai membayar ke pemilik kedai, keduanya pun melangkah keluar.
"Maaf, aku hanya sedang kesal sekali." Jacob akhirnya buka suara saat memasuki gerbang sekolah.
"Karena apa?" tanya Bunga seraya memiringkan kepala menatap Jacob.
"Tentang Anna."
"Oh?"
"Bukan dia gadis yang aku sukai."
Bunga membulatkan kelopak matanya. "Bukan dia?"
"Iya, bukan dia. Dan kamu tidak usah menebak-nebak atau berlagak jadi Koppelaarster ( Mak Comblang)!" seru Jacob. Wajahnya memerah. Sepertinya ia sedang menahan kekesalan yang teramat besar.
Bunga mengerutkan keningnya. Baru kali ini pemuda itu berkata keras padanya. Ia pun merasa kesal. "Kenapa kamu membentakku? Apa kesalahanku begitu besar?" Ia mendorong bahu Jacob. Kemudian berkacak pinggang di depan pemuda itu.
"Aku tidak suka kamu jodohkan dengan Anna." Suara Jacob melembut. Rasanya menyesal telah membentak Bunga. Sehingga membuat gadis itu marah.
"Kenapa tidak bilang saja? Kenapa harus bersikap seperti ini padaku?" Bunga mendengus kesal. Memang tidak semata-mata salah Jacob. Dugaannya juga salah. Ia pikir gadis yang disukai Jacob adalah Anna. Nyatanya bukan dia.
Jacob terdiam. Ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan tajam Bunga.
"Kamu juga tidak perlu semarah ini," sungut Bunga. "Aneh sekali." Gadis itu menggerutu pelan.
"Aku kesal karena ...." Jacob menggantung ucapannya. Ia tidak mau Bunga mendengar apa yang hendak keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Karena apa?"
"Karena ..., sudahlah, lupakan saja." Jacob mengibaskan tangannya.
Bunga memutar badan dan berjalan menuju kelas. Jacob mengikutinya. Untung saja guru pelajaran berhitung belum masuk kelas, sehingga mereka berdua aman dari hukuman. Sejujurnya, yang akan kena hukuman jika terlambat masuk kelas hanya Bunga. Sementara Jacob, tentu saja bebas duduk di kursinya.
"Bunga ...." Jacob menggeser kursinya mendekat pada sang sahabat.
Bunga yang sedang mempersiapkan buku tulis dan pensil, menoleh. "Apa?" tanyanya singkat.
"Aku minta maaf sudah membentakmu tadi."
Gadis itu menghela napas dalam-dalam. "Kamu aneh," ucapnya.
Jacob menggaruk kepalanya. "Sudah, lupakan saja, ya, pembicaraan tentang gadis yang aku sukai."
Bunga mengedikkan bahunya. "Terserah saja. Aku hanya ingin membantu."
"Bunga ...," panggil Jacob.
"Hmm." Bunga tidak mengalihkan pandang dari bukunya. Jemarinya yang memegang pensil menari-nari di atas kertas putih.
"Tadi pagi, waktu aku berangkat, di lapangan dekat perkampungan sebelum sekolah, ada pasar malam. Bagaimana kalau nanti sore kita ke sana?" tawar Jacob. "Sebagai permintaan maafku, kamu boleh makan dan membeli apa saja yang kamu mau, aku yang bayar."
"Nanti sore?" tanya Bunga seraya menatap Jacob.
"Iya, nanti sore."
"Hmm, sepertinya aku tidak bisa. Aku ada janji dengan Ningrum, anak kelas sebelah."
Jacob mengerutkan keningnya. "Ningrum?" tanyanya. Ia tidak mengenal gadis bernama Ningrum. Di sekolah ini, hanya ada tiga gadis pribumi, termasuk Bunga. Pastilah salah satu dari dua lainnya bernama Ningrum.
"Iya. Urusan penting. Mungkin besok saja ke pasar malam."
__ADS_1
Jacob menghela napas kecewa. Ini baru pertama kali Bunga menolak ajakannya pergi ke suatu tempat. Sepenting apakah urusannya dengan gadis bernama Ningrum, sampai-sampai ia lebih memilih untuk pergi dengan teman perempuannya itu.
"Ja, besok saja."
Pembicaraan mereka pun terhenti saat guru pelajaran berhitung melangkah memasuki kelas.
***
Bunga tersenyum simpul saat melihat Jacob yang hendak masuk ke mobilnya, diganggu oleh Laura. Wajah sahabatnya itu jelas menunjukkan rasa tidak suka.
Meskipun merasa kasihan, tetapi Bunga membiarkan saja Jacob mengatasi gadis berambut coklat itu seorang sendiri. Ia sudah ditunggu oleh Ningrum di gerbang sekolah. Mereka akan pergi ke suatu tempat. Tepatnya di komplek pertokoan dekat alun-alun yang kebanyakan dihuni oleh orang-orang Tionghoa.
Bangunan toko yang kedua gadis itu masuki tidak jauh berbeda dengan toko-toko di samping kanan kirinya, atau di seberang jalan. Hanya saja terdapat etalase dari kayu di bagian depan dan di dalamnya terdapat banyak botol kecil dan juga kantong-kantong kain berjejer rapi. Sudah bisa ditebak, tempat itu adalah toko obat-obatan tradisional dan rempah-rempah.
Ningrum mengajak Bunga masuk dan menemui seorang perempuan berkebaya biru tua dengan rambut panjangnya yang dikepang dua. Bunga menebak usianya mungkin tiga puluhan. Perempuan itu sedang memasukkan rempah-rempah ke dalam kantong-kantong kecil dari kain
"Mbakyu Asih," sapa Ningrum sambil meraih tangan perempuan yang dipanggilnya Asih itu dan menciumnya.
"Ini Bunga, ya? Putri Tumenggung Wirya?" tanya Asih seraya mengelus pipi Bunga.
Bunga mengangguk seraya mengulas senyum. Ia belum pernah bertemu dengan perempuan ini sebelumnya, tetapi perempuan sudah mengenalnya.
"Sini, masuk. Bu Galuh sudah menunggu," ucap Asih. Perempuan itu mengantar Ningrum dan Bunga masuk ke ruang tengah.
Di sana, ada beberapa orang perempuan yang sedang membersihkan rempah-rempah di atas tampah-tampah bambu. Bunga mengulas senyum pada mereka dan perempuan-perempuan muda itu menyambutnya dengan ramah.
"Sebelah sini," kata Asih seraya menunjuk ke arah pintu kayu usang dengan bentuk menyerupai gepyok.
"Aku ikut masuk, Mbakyu?" tanya Ningrum.
"Iya, kamu temani Bunga, ya." Asih mendorong pintu dan mempersilahkan kedua gadis itu masuk.
***
__ADS_1