
Sejak kecil Bunga dilarang oleh ayahnya mendekati atau masuk ke dalam paviliun. Setiap kali bertanya pada ibunya tentang aktivitas yang terjadi hampir setiap Minggu di dalam paviliun, Bunga tidak pernah mendapatkan jawaban pasti.
Hal itulah yang membuat Bunga begitu penasaran. Ia bertekad, suatu hari nanti, ia akan mencari tahu apa yang dilakukan oleh sang ayah dan orang-orangnya di dalam sana.
"Membaca atau melamun?"
Tepukan lembut mendarat di pundak Bunga. Gadis itu meringis melihat Jacob kini sudah duduk di seberang mejanya. Perpustakaan kecil sekolah mereka itu sepi. Hanya ada seorang murid pribumi yang sedang berkutat dengan bukunya di meja yang berada di sudut ruangan.
"Melamun dan membaca," sahut Bunga.
"Hei, Ik verontschuldig (aku minta maaf), ja?" ucap Jacob membuat Bunga mengerutkan kening.
"Waarvoor (Untuk apa)?"
"Untuk kata-kata lelaki di perkebunan kopi kemarin."
Bunga menaikkan kedua alisnya. "Kenapa kamu yang meminta maaf?"
"Karena ... ucapan laki-laki itu sangat keterlaluan. Dan, aku memikirkan perasaanmu." Jacob mengulas senyum tipisnya. Pemuda itu sedikit menundukkan kepala.
Bunga mengibaskan tangannya. "Kamu tidak usah minta maaf untuk sesuatu yang tidak kamu lakukan, Jacob."
"Tapi, karena kamu berteman denganmu, orang-orang menganggapmu seperti itu."
"Hanya satu orang itu, Jacob. Tidak semua orang." Bunga berusaha menghibur diri. Meskipun sejujurnya ia yakin, banyak orang-orang pribumi yang juga menganggapnya seperti yang dikatakan oleh lelaki dari perkebunan kopi itu.
"Kamu sahabat terbaikku, Bunga." Jacob meraih tangan Bunga dan menggenggamnya.
__ADS_1
Bunga tertawa seraya menarik tangannya dari genggaman Jacob. Rasanya aneh diperlakukan sedemikian rupa oleh pemuda itu.
"Itu karena kamu tidak punya teman selain aku," cibir Bunga.
"Karena aku tidak mau. Mereka semua palsu."
Bunga mencebik. "Dari mana kamu tahu mereka palsu?" selidiknya.
"Mereka mau berteman denganku karena jabatan ayahku."
"Kenapa kamu tidak menganggapku begitu? Berteman denganmu karena kamu anak seorang Burgemeester (Wali kota)."
Jacob meringis. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang ditumbuhi rambut pirang lebar. "Ik weet het niet (Aku tidak tahu)."
Bunga munutup buku di tangannya dan memukulkannya pelan ke ujung kepala Jacob. "Kamu tidak tahu kalau aku juga sama seperti mereka," kikiknya.
"Onmogelijk (Tidak mungkin)." Jacob menggeleng keras.
"Mmmm ... sedikit." Jacob menyipitkan mata memandang ke arah Bunga. "Memang ada potensi kamu bisa melakukan pemberontakan." Ia mengelus dagunya.
"Tepat sekali." Bunga berpura-pura memasang wajah serius. "Bersiap-siaplah untuk berhadapan denganku di medan perang suatu saat nanti, Jacob."
Jacob terbahak mendengar ucapan Bunga. Ia tahu gadis itu sedang bercanda. Tetapi, ia menangkap sekilas kilatan aneh di mata beriris gelap itu.
"Sudah bercandanya," ucap Jacob kemudian. "Akhir pekan ini ada pesta dansa dan Rijsttafel (perjamuan makan) di rumahku. Apa kamu bisa datang?"
Mata Bunga membulat. Kembali ia memukul pelan ujung kepala Jacob dengan buku di tangannya. "Kamu ingin mempermalukanku, ya?"
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Jacob dengan polosnya.
"Itu pesta untuk kalanganmu, Jacob. Bisa-bisanya kamu mengundangku?" Bunga memutar kedua bola matanya.
"Biasanya ada beberapa orang pribumi yang diundang." Jacob menjelaskan. "Aku akan bosan sekali di pesta itu. Tapi, orang tuaku mewajibkanku hadir. Kalau kamu datang, aku tidak akan merasa bosan," lanjutnya.
Bunga menghembuskan napasnya kasar. "Laura dan keluarganya pasti datang. Kamu bisa suruh dia menemanimu."
"Laura lebih membosankan dari pada pestanya."
Bunga tergelak mendengar ucapan Jacob. Ia menggeleng pelan. Tentu ia ingin pergi ke pesta itu. Akan menjadi pengalaman baru untuknya. Tetapi, ia ragu-ragu menerima undangan Jacob. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya tiba-tiba berada di tengah-tengah pesta orang-orang kulit putih.
"Ayolah, Bunga," pinta Jacob. Ia menyatukan kedua telapak tangan di depan dada, memohon pada gadis di hadapannya itu.
Bunga tampak ragu-ragu. Akan tetapi, ia tidak tega melihat wajah memelas Jacob. Mata birunya yang indah itu menyipit, dan wajahnya yang tampan dan bersemu merah itu menunjukkan ekspresi yang mampu meluluhkan hati Bunga.
"Baiklah," ucap Bunga menyerah. "Tapi, jangan salahkan aku kalau nanti aku membuat masalah di sana, jika ada orang yang menggangguku."
Jacob terlonjak kegirangan. "Tidak akan ada masalah. Mungkin mereka tidak akan menyadari kehadiranmu."
"Pakaian apa yang harus aku pakai?" tanya Bunga kemudian.
"Hmmm ... bagaimana kalau kita pergi ke butik langganan orang tuaku nanti selesai sekolah?"
"Butik?" tanya Bunga. Bukan karena ia tidak tahu. Tetapi, ia belum pernah menginjakkan kaki di dalam sebuah butik. Selama ini, pakaian yang dikenakannya adalah hasil karya penjahit langganan keluarganya.
"Iya. Bagaimana?" tawar Jacob. "Aku akan membelikan pakaian untukmu."
__ADS_1
Bunga mengulas senyumnya pertanda ia setuju dengan tawaran Jacob.
***