BUNGA PERANG

BUNGA PERANG
Bab 18. Pasang Badan.


__ADS_3

"Lihat orang-orang kulit putih itu. Muak sekali aku melihat tingkah mereka," bisik Ningrum pada Bunga. Kedua gadis itu berada di kantin sekolah. Menikmati makan siang sambil memperhatikan sekelompok murid lelaki; semuanya keturunan Belanda, yang sedang tertawa-tawa dengan keras.


Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang jelas hal itu membuat Ningrum dan Bunga merasa sangat tidak nyaman. Keduanya terus saja berpikir pemuda-pemuda kulit putih itu sedang membicarakan mereka.


"Biarkan saja. Kalau mereka mulai mengganggu kita ...."


"Hei! Kamu!"


Kata-kata Ningrum menguap begitu saja saat seruan keras terdengar dari arah para pemuda itu. Kedua gadis itu menoleh.


"Ja, kamu berdua!" panggil salah seorang pemuda yang sepertinya berperan sebagai ketua kelompok. Ia berambut pirang serupa rambut Jacob. Pipinya dipenuhi freckle kemerahan.


Panggilan keras itu membuat semua yang ada di sana menoleh. Tetapi, begitu tahu yang sedang menjadi sasaran bukan anak-anak kulit putih, mereka pun acuh tidak acuh dan kembali berkutat dengan urusan masing-masing. Beberapa bahkan mengulas senyum sinis pada Bunga dan Ningrum.


"Kemari kalian, Pribumi!" seru pemuda itu kembali seraya menggerak-gerakkan jari telunjuk.


Bunga dan Ningrum saling melempar pandang geram. Kemudian kembali menoleh pada para pemuda itu.


"Kalau kalian butuh sesuatu dari kami, kalian saja yang datang kemari," ucap Bunga seraya melipat kedua tangan di depan dada.


"Heb je dat gezien (Kalian lihat itu?)," tanya si pemuda berambut pirang pada teman-temannya disambut tawa memenuhi ruang kantin.


" Pribumi mulai berani bicara, ya?"


Ningrum menahan lengan Bunga saat ia hendak melangkah mendekati pemuda-pemuda itu. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Bunga. Memberi pelajaran pada mereka.


"Hei! Kemari kalian. Meja kami kotor, bisa kalian bersihkan?" ujar pemuda itu sembari tertawa-tawa.


Bunga mengepalkan tangannya. Mereka tidak tahu sedang membuat masalah dengan siapa. Ia muak melihat orang-orang kulit putih yang semena-mena seperti pemuda-pemuda itu.

__ADS_1


"Kenapa kami yang harus membersihkan meja kalian? Kami bukan pembantu di sini. Derajat kami sama dengan kalian. Murid di sekolah ini!" ucap Bunga.


"Kalian dengar?" tanya pemuda itu pada teman-temannya sambil terkekeh. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan melangkah mendekat pada Ningrum dan Bunga.


"Bukankah takdir kalian para pribumi memang jadi jongos kami?" lanjut pemuda itu. "Atau kalian berdua ingin lebih dari itu, jadi budak kami di atas ranjang, mungkin?"


Plakk


"Hoerendop (Perempuan sundal)!" maki pemuda itu seraya memegangi pipinya yang memerah terkena tamparan keras dari Bunga.


Kejadian itu membuat seisi ruangan menatap ke arah Bunga dengan ekspresi wajah terkejut. Mungkin baru kali ini mereka melihat ada seorang pribumi yang berani menampar orang kulit putih.


"Kamu akan terima akibatnya, An jing Pribumi!" Pemuda itu meraih kerah pakaian Bunga dan menarik gadis itu hingga tersungkur.


"Raak haar niet aan (Jangan sentuh dia), Augustijn!" seru seseorang seraya mendorong tubuh pemuda itu dengan keras.


Bunga terkejut melihat kedatangan Jacob yang tiba-tiba. Punggung kokoh itu menghalanginya dari pemuda yang hendak menyakiti dirinya.


"Kamu sentuh dia, aku tidak akan segan-segan menghajarmu!" ancam Jacob seraya menunjuk wajah Augustijn.


"Hoo, aku tidak percaya kamu membela pribumi rendahan seperti dia!"


"Aku sudah peringatkan!" Jacob mengulang ancamannya.


Augustijn mendesis. "Ayahmu tidak akan suka ini."


Jacob mendorong Augustijn sekali lagi. Ia bahkan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, menatap satu persatu murid di sana dengan sorot mata tajam. Sepertinya ia sedang memberi peringatan pada mereka secara tersirat. Jika ada di antara mereka yang menyakiti Bunga, maka mereka akan berhadapan dengan dirinya.


"Verrader ( Penghianat)!" maki Augustijn seraya berjalan mundur kembali pada teman-temannya yang hanya bisa bengong menyaksikan kejadian itu.

__ADS_1


Jacob meraih lengan Bunga dan membawa gadis itu keluar dari kantin. Ningrum pun segera mengikuti mereka.


"Apa kamu bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Jacob pada Ningrum. Ia tidak menyukainya. Sebabnya, sejak Bunga akrab dengan gadis itu, sikap Bunga berubah. Sahabatnya itu tidak sehangat dulu lagi.


Ningrum melempar pandang pada Bunga. Gadis itu pun mengangguk. Lalu, setelah Ningrum berlalu, Bunga mendorong pelan dada Jacob. "Seharusnya kamu tidak usah ikut campur!" ujarnya.


"Aku tidak mau Augustijn menyakitimu!" sergah Jacob. Kini keduanya berada di samping gedung perpustakaan yang sepi.


"Aku yang akan menyakitinya!" tegas Bunga.


"Kamu ini kenapa, Bunga? Seharusnya kamu tidak usah terlibat masalah dengan mereka."


Bunga menaikkan alisnya. "Oh, jadi, kamu menyuruh aku diam saja saat dia semena-mena?"


"Bukan begitu. Maksudku ...."


"Apa, Jacob?" Bunga berkacak pinggang menantang Jacob untuk mengutarakan pendapatnya. "Kamu tidak tahu rasanya dihina dan dicaci maki. Kamu tidak tahu rasanya diinjak-injak harga dirimu!"


"Tidak bisa menjawab? Tentu saja. Hidupmu selalu enak. Bergelimang harta, meskipun semua itu hasil rampasan milik kami! Kalian perampok! Penjajah!" maki Bunga geram.


"Kamu tahu aku tidak seperti itu."


"Oh, lalu seperti apa kamu?" Bunga mengangkat dagunya. Tatapannya tajam pada Jacob. "Kalau kamu tidak seperti mereka, tinggalkan negeri ini. Hidup saja di negaramu! Pulang saja ke asalmu!"


Jacob terperangah. Bunga tidak mungkin bersungguh-sungguh mengatakan hal-hal yang mampu menyakiti hatinya. Gadis itu terlihat menyesali kata-katanya.


"Terimakasih atas bantuanmu, Jacob, tapi aku tidak butuh!" tegas Bunga.


Ia menatap sepasang mata biru di hadapannya itu dengan sorot mata tajam. Meskipun dalam hati, ia tidak benar-benar bermaksud menyakiti hati Jacob. Ia hanya sedang sangat marah saat ini, pada Augustijn, pada para penjajah yang menguasai negerinya tercinta ini.

__ADS_1


***


__ADS_2