
"Kamu gila." Bunga mendorong pelan bahu Jacob. Keduanya duduk di taman belakang rumah pemuda itu. Setelah beberapa saat lalu berkeliling di sekitar halaman yang luas.
"Biarkan saja. Memangnya siapa yang mau berdansa dengan gadis menyebalkan itu?" Jacob mengibaskan tangannya.
Bunga mencebik. "Dia suka sama kamu, Jacob," kekehnya.
"Aku tidak suka padanya. Aku menyukai gadis lain."
Bunga membulatkan kelopak matanya. Ia menatap sahabatnya itu heran. "Baru kali ini aku dengar kamu menyukai seorang gadis," ujarnya. "Siapa dia?" tanyanya penasaran.
Jacob terkekeh. "Hmmm ... kamu tidak perlu tahu."
"Jadi begitu sekarang? Kamu punya rahasia dan tidak mau membaginya denganku?" sungut Bunga.
"Satu rahasia ini saja, ya? Aku ingin menyimpannya dalam hati."
Bunga tergelak. "Kenapa seperti itu? Apa kamu tidak berani menyatakan perasaanmu pada gadis itu? Pengecut sekali."
"Mungkin belum."
"Hmmm ... siapa kira-kira gadis itu, ya?" Bunga mengelus dagunya. Ia berpikir keras. Kalau memang Jacob tidak mau bercerita padanya, maka ia akan menebak-nebak saja siapa gerangan gadis yang sedang disukai Jacob.
Pertama, ada Lidia, murid kelas lain yang selalu menunggui Jacob keluar dari kelas. Tetapi, yang ia lihat, Jacob acuh tidak acuh padanya. Laura, jelas tidak mungkin. Jacob terang-terangan mengatakan tidak menyukai gadis itu.
Kemudian, ada Sonja, anak guru budi pekerti yang selalu mencari perhatian pada Jacob, meskipun masih malu-malu. Tetapi, Jacob pernah mengatakan kalau ia sedikit risih dengan tingkah gadis itu.
Beberapa murid perempuan satu kelas yang sering menunjukkan ketertarikan mereka pada Jacob, selalu ditanggapi dingin oleh pemuda itu. Lalu, ada Anna, gadis di kelas mereka yang bertampang manis dengan surai berwarna coklat indah.
Bunga sepertinya ingat, beberapa kali Jacob memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Anna memang sedikit berbeda dengan murid-murid wanita lain yang angkuh. Gadis itu cukup baik karena terkadang mau mengajak Bunga bicara.
Ia menjentikkan jari. "Aku tahu siapa gadis yang kamu sukai," ucapnya senang.
__ADS_1
Jacob tampak terkejut. Tetapi, ia segera menyembunyikan ekspresi cemas di wajahnya. "Kamu tahu siapa?" tanyanya.
"Ja. Tapi, aku tidak mau bilang," kekeh Bunga.
Jacob menggaruk kepalanya. Senyum tipis tertahan di bibirnya. Dadanya berdesir dan badannya terasa panas dingin.
"Tapi, aku akan membantumu mendapatkan gadis itu."
"Wat (Apa)?!" Jacob tersentak. "Nei, nei, Bunga. Tidak perlu."
Bunga mendecak. "Kenapa? Kamu takut?"
Jacob menggeleng, tetapi sejurus kemudian ia mengangguk. Lalu menggeleng lagi. Ia kebingungan.
"Aku tidak mau berteman dengan seorang pengecut," ancam Bunga dengan senyum miringnya.
***
Hari sudah larut malam, saat pesta berakhir, dan Jacob tidak mungkin membiarkan sahabatnya itu pulang berjalan kaki sendirian.
Sepanjang perjalanan, si kusir yang sama-sama orang pribumi, tidak henti-hentinya mengajak Bunga berbicara. Lelaki paruh baya berbadan kurus itu menanyakan hal-hal yang membuat Bunga merasa sedikit risih.
"Kamu putri Tumenggung Wirya, kan? Mantan bupati?" tanya si kusir saat mengawali pembicaraan dengan Bunga. Namanya Pak Woto. Suaranya cempreng dan sedikit tidak enak didengar.
"Iya, Pak," sahut Bunga sambil menyandarkan punggung di sandaran kursi yang menyamping. Pandangannya bergerak dari satu tiang lampu ke tiang lampu lain.
"Saya pernah mendengar rumor, Nduk." Pak Woto memelankan suaranya.
"Rumor apa, Pak?" tanya Bunga sambil mengerutkan kening.
"Rumor pertemuan rahasia di rumahmu."
__ADS_1
Bunga terkejut mendengar penuturan lelaki itu. Pikirannya melayang pada paviliun di samping rumah. Itu bukan sekedar rumor. Tetapi, memang ada pertemuan rahasia di sana, hanya saja, Bunga dilarang mendekati tempat itu. Sehingga ia tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi di sana.
"Saya tidak tahu, Pak."
"Oo, tenang, Nduk. Saya meskipun bekerja pada kumpeni, tapi saya setia pada bangsa kita ini. Jadi, saya tidak mungkin membocorkan hal ini pada majikan saya."
Bunga tidak boleh mempercayai lelaki tua ini. Mungkin saja si kusir sedang memancing keterangan darinya. "Wah, pokoknya saya tidak tahu menahu tentang hal itu, Pak. Saya cuma anak remaja yang tugasnya bersekolah."
"Kamu akrab dengan Tuan Muda Janssen. Kamu kekasihnya?" tanya Pak Woto mengganti topik pembicaraan.
"Bukan, Pak. Kami bersahabat."
"Yo, bagus. Jangan sampai jatuh cinta sama kumpeni, yo. Meskipun dia baik dengan kamu. Berteman saja cukup."
"Kenapa, Pak?"
"Lah, sudah banyak perempuan kita yang jatuh cinta pada kumpeni, pada akhirnya hanya dijadikan Nyai. Itu penghinaan untuk para perempuan bangsa kita, to, Nduk."
Bunga tersenyum sinis. Memang begitu adanya. Orang Belanda tidak boleh menikah secara resmi dengan orang pribumi. Hanya boleh dijadikan gundik. Sungguh merendahkan martabat perempuan bangsa ini. Saat mengingat sepak terjang orang-orang kulit putih itu, yang terkadang semena-mena, dada Bunga bergemuruh menahan amarah.
"Pak, saya turun di sini saja." Bunga memukul-mukul tiang yang menyangga atap kereta kuda saat hendak masuk ke persimpangan jalan menuju ke rumahnya.
"Loh, masih jauh, Nduk."
"Tidak terlalu. Saya turun di sini saja." Bunga menghambur ke luar kereta. "Terimakasih, Pak," ucapnya.
"Hati-hati, Nduk!" seru Pak Woto sambil menarik tali kekang kuda.
Bunga memutar badan dan berjalan menelusuri jalan setapak yang sepi. Malam itu tidak terlalu gelap karena rembulan bersinar terang.
Saat sampai di halaman rumahnya, ia berjinjit dan berjalan mengendap-endap menuju ke pintu belakang. Berharap ayahnya tidak bangun dan memergokinya keluyuran malam-malam.
__ADS_1
***