
Jacob berkali-kali memeriksa jam dinding di ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruang pesta dansa. Sudah sejam lamanya ia menunggu kedatangan Bunga, tetapi gadis itu tidak juga menampakkan batang hidungnya.
Pemuda itu gelisah. Ia terus memandang ke arah pintu masuk, berharap gadis itu muncul dari sana. Namun nihil. Jacob menghela napasnya kecewa.
"Jacob, kamu gelisah sekali. Wat is er aan de hand, Zoon (Ada apa, Nak)?" Seorang perempuan bergaun merah dengan payet-payet di bagian leher menghampiri Jacob. "Menunggu seseorang?" tanyanya sambil memandang ke arah pintu.
"Ja, Mamma." Jacob mengangguk.
"Ah, Laura, bukan? Baru saja dia datang." Therese, sang ibu, menunjuk ke arah pintu di mana ada tiga orang yang baru saja muncul. Laura beserta kedua orang tuanya, Anneke dan Albert De Jong, berjalan menghampiri ibu dan anak itu.
"Apa kabar?" Therese menyapa sepasang suami istri dan putrinya itu dengan ramah.
Sementara Jacob memasang wajah masam saat Laura berdiri di sampingnya. Gadis itu mengulas senyum manis padanya.
"Kamu suka gaunku?" tanya Laura seraya memutar badan memperlihatkan keseluruhan gaun panjang berwarna biru dengan renda-renda di bagian bawah. Gaun itu membalut tubuh rampingnya dengan sempurna.
"Hmmm," jawab Jacob acuh tidak acuh. Ia tidak mengalihkan pandang dari pintu.
"Kamu tidak suka?" tanya Laura sambil mengerutkan keningnya.
"Kenapa aku harus suka?" Jacob balik bertanya. Ia mulai kesal. Antara kesal dengan Bunga yang tidak kunjung datang, dan Laura yang sangat menyebalkan di matanya.
Bibir Laura cemberut. Ia tidak suka Jacob mengacuhkannya seperti itu. Kedua orang tua mereka sudah sepakat akan menjodohkan keduanya. Jadi, Jacob harus bersikap baik padanya.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Laura sambil menunjuk seorang gadis berkebaya yang baru saja muncul dari pintu belakang, membawa nampan berisi gelas-gelas anggur. "Apa dia bekerja untuk keluargamu?"
"Bunga," ucap Jacob terkejut. Sahabatnya itu tengah menawari para tamu minuman. Ada seorang tamu yang berusaha menggodanya, membuat Jacob naik pitam.
"Hei!" seru Jacob pada seorang lelaki kulit putih paruh baya yang sedang berniat untuk menyentuh lengan Bunga. "Stoor hem niet (Jangan ganggu dia)!" serunya pada si lelaki, yang ia kenal sebagai teman ayahnya.
__ADS_1
"Ah, Jacob, apa dia Nyai-mu?" tanya si lelaki seraya menyipitkan mata menatap pemuda itu.
"Nee, ze is mijn vriendin (Bukan, dia temanku)," jawab Jacob seraya memosisikan dirinya di antara Bunga dan si lelaki.
Si lelaki mencebik sambil mengangkat kedua tangan, kemudian berlalu dari hadapan Jacob dan Bunga. Jacob memutar badan dan menatap gadis di hadapannya dengan kening berkerut.
"Kenapa kamu tidak pakai baju yang aku belikan? Kenapa kamu bawa nampan dan gelas?" tanya Jacob.
"Aku tidak tahu." Bunga mengedikkan bahunya. "Tadi sewaktu aku datang, seorang perempuan menyeretku ke dapur dan menyuruhku memakai pakaian ini dan mengantarkan minuman untuk para tamu."
Jacob mendecak sebal. Ia menyuruh Bunga menaruh nampan ke atas meja dan menarik gadis itu masuk ke dapur.
"Siapa yang suruh temanku jadi pelayan?" tanya Jacob pada para pelayan yang ada di sana. "Jij (kamu)?" tunjuknya pada seorang perempuan paruh baya berwajah campuran kulit putih dan pribumi.
"Ah, dia teman anda, Jonge Meester (Tuan Muda)? Saya pikir dia pengganti Mbok Konah." Si perempuan menimpali.
"Lancang!" bentak Jacob geram. "Mana pakaian Bunga?"
Jacob menyuruh Bunga mengganti pakaian di ruang sebelah. Sementara si perempuan meminta maaf berkali-kali atas kesalahannya.
Setelah Bunga keluar dengan gaun yang membalut tubuh rampingnya, Jacob mengajak gadis itu kembali ke tengah pesta. Tentu saja kehadiran Bunga dengan pakaian a la barat yang elegan, membuat beberapa mata memandangnya penuh selidik. Beberapa perempuan langsung berbisik satu sama lain.
"Pestanya memang membosankan," bisik Bunga pada Jacob.
"Makanya aku memintamu datang."
"Kamu tidak lihat bagaimana orang-orang di ruangan ini melihatku?"
"Mereka kagum padamu. Kamu cantik sekali."
__ADS_1
Bunga mendesis. "Onzin (Omong kosong)!"
Jacob tertawa mendengar umpatan Bunga. Akhirnya ia bisa sedikit menikmati pesta karena kehadiran Bunga memberikan suasan ceria untuknya.
"Jacob, wie is dit (siapa ini)?" Therese, sang ibu, menghampiri. Perempuan itu menyipitkan mata menatap ke arah Bunga. Di belakangnya, Laura dan kedua orang tuanya mengikuti.
"Bunga, Mamma. Temanku," jawab Jacob dengan bangga.
"Owh, gadis ini ...." Therese menarik sudut bibirnya. Gadis yang sering membuat putranya terlibat hal-hal merugikan. Baru kali ini ia bertatap muka dengan gadis pribumi itu. Pikirnya, berani sekali orang rendahan seperti dirinya menginjakkan kaki di kediamannya.
"Ah, Jacob, kamu tidak mau mengajak Laura berdansa?" tawar Therese. Perempuan itu tidak mengacuhkan Bunga.
"Tidak." Jacob menggeleng. "Aku akan mengajak Bunga berkeliling rumah."
Senyum di wajah Therese menghilang. Berganti dengan tatapan suram saat bertemu pandang dengan Bunga. Begitupun Laura yang tampak kesal memandangi punggung Jacob dan Bunga yang menghilang di balik pintu utama.
"Mevrouw Janssen, jangan katakan kalau Jacob jatuh cinta dengan gadis pribumi itu," ucap Albert De Jong.
"Nei, nei, nei. Onmogelijk (Tidak, tidak, tidak. Tidak mungkin). Mereka hanya berteman."
"Kenapa kau mengizinkan Jacob berteman dengan pribumi?" Yang bertanya Anekke De Jong.
"Aku dan Ambroos tidak pernah mengizinkannya." Therese mengalihkan pandangnya pada sang suami yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan para petinggi Hindia Belanda, sehingga ia tidak menyadari kehadiran teman pribumi Jacob. "Tapi, Jacob memang sedikit keras kepala."
"Akan sangat memalukan kalau keluarga Janssen mempunyai menantu pribumi," ucap Albert sinis.
"Nei!" sergah Therese. "Laura yang akan menjadi menantu keluarga Janssen." Perempuan itu menatap lembut ke arah Laura.
Gadis bermata hazel itu mengulas senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
***