Buronan Penjara

Buronan Penjara
Bab 25


__ADS_3

"Kesimpulannya Pak, kalau barangmu ini bukan barang palsu, jadi barang palsu itu apa?"


Kata-kata Gavin seperti sebuah hantaman tepat dihati pria paruh baya itu.


Pemilik toko mulai keringat dingin.


Di halaman siaran langsung juga sunyi senyap.


[Dewa Gavin juga bisa taksir nilai barang?]


[Permisi, apa aku salah masuk siaran langsung? Apa ini siaran langsung sedunia menangkap Gavin si buronan?]


[Iya, kamu salah masuk.]


[Gila, aku seorang juru taksir mengonfirmasikan semua yang di katakan Dewa Gavin benar.]


[Hebat! Kamu tidak melihat pemilik toko mulai berkeringat dingin?]


[Brengsek! Dewa Gavin memang berbakat!]


Kolom komentar halaman siaran langsung menjadi sangat ramai.


Sedangkan wajah pemilik toko sudah mulai memerah.


Dia tidak bisa membantah perkataan Gavin lagi.


Dia memang menjual barang palsu, tapi juga ada barang asli.


Hanya saja, barang asli sangat tersembunyi.


Namun, dia tidak menyangka hari ini malah ketemu orang yang mengungkapkan barang palsunya.


Namun meskipun begitu, pemilik toko masih saja berkata dengan pelan, "Nak, kamu jangan asal bicara ya. Semua barangku disini adalah barang asli."


"Cih, Pak untuk apa kamu menipu dirimu sendiri lagi? Kamu berani ikut aku cari orang untuk membuktikannya tidak?"


Gavin tersenyum.


Ketika pemilik toko mendengar itu, akhirnya dia tidak bisa berpura-pura lagi.


Karena hujan sudah berhenti, Jalan Antik pun mulai ramai.

__ADS_1


Pemilik toko berpikir jika pemuda ini membuat keributan, nama baik tokonya akan hancur.


Pemilik toko menghampiri Gavin lalu berbisik, "Apa yang sedang kamu lakukan?"


Senyuman senantiasa terpasang di wajah Gavin.


"Tidak apa-apa. Aku cuma ingin barang palsumu ini."


"Ambillah, ambil," kata pemilik toko.


Gavin merentangkan tangannya.


"Tidak bawa duit,"


"Pergi sana!"


Pemilik toko melambai tangannya.


Saat Gavin mendengar itu, dia menganggukkan kepala dengan senang.


"Baik Pak."


Setelah itu, Gavin keluar dari toko tersebut.


[Dewa Gavin mau melakukan apa dengan barang palsu itu?]


[Iya, aku juga tidak mengerti.]


[Apa dia ingin menjadi pengungkap penjual barang palsu?]


Semua orang merasa sangat penasaran.


Di bawah tatapan para penonton, Gavin berbalik badan lalu masuk ke sebuah rumah gadai.


"Ini peninggalan kakekku, katanya dari Dinasti Polo. Berapa?"


Gavin meletakkan patung perunggu kecil tersebut diatas meja.


Seorang kakek yang berkacamata berjalan mendekat.


Setelah dia melihat patung perunggu Gavin dengan teliti selama beberapa menit, dia tampak terkejut.

__ADS_1


"Ini memang peninggalan Dinasti Polo, lalu sepertinya ini dari istana."


Ucapan kakek itu membuat Gavin tersenyum.


"Berapa harga yang kalian tawarkan?"


"Meskipun barangmu ini sempurna, tapi terlalu kecil. Lima puluh juta, mau atau tidak?"


Kakek itu menatap Gavin.


Gavin langsung menganggukkan kepala.


"Mau."


"Baiklah, catat nomor rekeningmu."


Kakek itu sangat senang saat Gavin menyetujui harga tawarannya.


Namun, Gavin malah melambaikan tangannya.


"Aku mau tunai."


"Tunai?"


Kakek itu tercengang, tapi tetap mengutus orang untuk menarik uang.


Sepuluh menit kemudian, Gavin meninggalkan rumah gadai dengan uang lima puluh juta.


Semua orang yang berada di ruangan siaran langsung melihat seluruh proses transaksi tadi.


Namun, siapapun tidak dapat mengertinya.


[Apa-apaan? Tadi bukannya dia bilang itu barang palsu?]


[Jangan-jangan kakek itu sudah ditipu Gavin?]


[Aku juga tidak mengerti.... tapi, aku kasih lihat video tadi kepada guruku dan katanya itu memang perunggu Dinasti Polo. Pemilik toko yang tadi sepertinya dia juga tidak menyangka dirinya sudah kena tipu.]


[Gila...ada trik seperti itu?]


[Hebat! Kasihan sekali pemilik toko tadi.]

__ADS_1


[Ada apa dengat otak Dewa Gavin? Dia buat pemilik toko tadi mencurigai diri sendiri, lalu kasih dia gratis?]


[Gila! Sepertinya pemilik toko itu tidak menyangka ternyata itu barang asli!]


__ADS_2