Buronan Penjara

Buronan Penjara
Bab 49


__ADS_3

"Sekarang situasinya telah menjadi seperti ini, aku rasa kita harus mengerahkan seluruh energi kita untuk fokus terlebih dahulu kepada buronan lainnya. Kita tangkap beberapa orang untuk memberikan kesan yang baik."


"Maksudmu....sementara ini kita tidak perlu mempedulikan Gavin?"


Pandangan Jarvis sekarang tertuju pada Carlos.


Carlos pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Gavin tetap menjadi prioritas kita. Hanya saja orang ini terlalu licik. Sekarang dia sudah punya cukup uang, jadi seharusnya dalam waktu dekat dia tidak akan muncul."


Semuanya hanya bisa menganggukkan kepalanya ketika mendengar ucapan ini.


Ucapan Carlos memang masuk akal.


Gavin sekarang ini sudah tidak kekurangan uang, tidak ada yang tahu dia akan pergi ke mana.


Jika dia memilih untuk bersembunyi, melihat cara yang dia lakukan sebelumnya, mereka mungkin akan sangat sulit untuk menemukan Gavin.


"Lalu bagaiamana kita harus mengurus situasi Gavin?"


Alis mata Jarvis pun berkedut.


Andra pun akhirnya mengeluarkan pendapatnya mengenai hal ini.

__ADS_1


"Aku rasa kita seharusnya membagi dua fokus kita, kita akan membagi dua tim, tim yang satu akan mengejar buronan lainnya, sedangkan tim yang satu lagi akan mengejar Gavin."


"Aku setuju." Carlos membenarkan kacamatanya, lalu lanjut berkata, "Kita akan tetap menyelidiki di tempat biasanya seperti hotel dan yang lainnya. Selain itu untuk saat ini kita masih belum mendapatkan petunjuk mengenai sumber dana yang didapatkan oleh Gavin."


Ini..


Semuanya saling memandang satu sama lain, mereka merasa tak berdaya.


Kalau belum mengetahui juga dari mana sumber dana Gavin, maka Gavin akan terus mendapatkan uang tanpa terkendala.


Kalau begitu, maka akan memberikan dampak besar kepada tim pengejar.


Bagaimana pun juga, sekarang ini semua orang bisa melakukan apa saja dengan uang.


Sama seperti halnya menginap di Hotel Buchville sebelumnya. Asalkan ada uang, siapa pun bisa langsung menginap di sana.


"Semuanya aku rasa arah pemikiran kita mungkin sudah salah dari awal."


"Hah?"


Keempat komandan lainnya memandangi Hazel, si profesor psikologi ini.


Hazel tersenyum, kemudian menyodorkan selembar kertas.

__ADS_1


"Ini adalah gambar kondisi mental Gavin yang baru saja aku buat."


Gambar kondisi mental?


"Profesor Hazel, kamu juga mengetahui hal yang seperti ini juga, ya?"


Carlos sedikit terkejut akan hal ini.


Hazel pun menganggukkan kepalanya.


"Aku sebelumnya merupakan konsultan di kepolisian."


"Syukurlah kalau begitu."


Andra pun menerima secarik kertas yang menggambarkan kondisi mental Gavin. Setelah dia melihat beberapa saat, Andra pun mengarahkan pandangannya kepada Hazel.


"Profesor Hazel, bagaimana menurutmu mengenai Gavin?"


"Baiklah, aku akan mengutarakan dugaanku saat ini," balas Hazel dengan cepat sambil tersenyum.


"Aku rasa, kesalahan kita adalah karena kita telah memperlakukan Gavin layaknya seorang buronan pada umumnya. Hanya saja, pada realitasnya Gavin sejak awal tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang buronan."


"Sedangkan buronan lainnya akan memikirkan cara untuk bersembunyi dari pengejaran. Tapi apakah kalian tidak menyadarinya? Gavin sedari awal tidak pernah mempedulikan pengejaran kita, bahkan dia sengaja mempermainkan kita."

__ADS_1


"Dia sangat percaya diri, tapi di saat yang bersamaan dia juga terlalu menganggap dirinya sangat hebat. Dia tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang buronan, juga tidak pernah mengindahkan kita. Oleh karena itu, cara pengejaran kita dalam mengejar Gavin sudah salah sehingga kita pun tidak bisa menemukannya."


Hazel mengucapkan begitu banyak hal sekali berbicara.


__ADS_2