
Sedangkan di tempat kejadian.
Jarvis sudah tiba di lantai lima.
Dia memberi perintah pada para petugas pemburu di lantai tiga untuk segera naik.
Di saat yang sama, dia sendiri juga dengan cepat berjalan menuju lantai lima.
Beberapa detik kemudian, Jarvis melihat Gavin yang berdiri di dekat jendela lantai empat.
Di saat bersamaan, para petugas pemburu dari lantai tiga juga bermunculan.
Mereka ber-16 mengepung Gavin.
Gavin tidak mungkin bisa kabur dari celah sempit tangga ini.
Jarvis pun menyeringai sambil menatap Gavin.
"Kenapa kamu tidak lari, Nak?"
"Aku sudah lelah berlari, istirahat dulu."
Gavin yang tadinya sedang melihat pemandangan di luar jendela, menoleh dan tersenyum pada Jarvis.
Jarvis memicingkan matanya saat mendengar perkataan Gavin.
"Harus ku akui, kamu memang membuatku sakit kepala. Tapi, hanya sebatas itu saja."
"Sekarang, kamu yang akan menyerahkan diri atau kami yang haru memaksamu kembali?"
Sebuah seringai muncul di wajah Jarvis.
Sedari tadi, Gavin sudah mempermainkan dirinya dan orang-orang nya. Sekarang, akhirnya dia bisa menangkap orang ini dengan tangannya sendiri.
Namun, yang tidak di sangka Jarvis adalah.....
Gavin tersenyum.
__ADS_1
Dia menggelengkan kepalanya.
"Petugas Jarvis, harus ku akui kepercayaan dirimu itu patut dikagumi."
"Tapi.....apa kamu pikir aku benar-benar menunggumu di sini?"
Begitu Gavin selesai bicara. Tiba-tiba terdengar suara mesin bergemuruh.
Di luar jendela, sebuah menara derek baru saja merentangkan lengannya.
"Kamu....."
Sebelum Jarvis selsai bicara, dia melihat Gavin melompat dan langsung menghilang dari jendela.
"Dia gila, ya?"
Jarvis menjerit dan langsung menempelkan tubuhnya di jendela.
Namun dia tidak menemukan satu pun mayat di bawah seperti yang dia bayangkan.
Tubuh Gavin jatuh di lengan menara derek itu, kemudian dia berguling dan berlari dengan cepat di lengan menara derek itu.
Di halaman siaran langsung, suasana menjadi sangat heboh.
[Gila! Apa yang baru saja kulihat? Aku sedang mimpi, ya!]
[Astaga! Gavin langsung melompat ke menara derek dari lantai empat?]
[Orang gila! Dia benar-benar orang gila.]
[Keren! Dewa Gavin sudah merencanakan semuanya. Dia hanya menunggu kedatangan Jarvis supaya bisa menunjukkan kemampuannya di depan Jarvis.]
[Dewa Gavin keren.]
Entah berapa banyak orang yang terkejut saat melihat Gavin berlari di lengan menara derek.
Di tempat kejadian, Jarvis menganga lebar-lebar. Butuh waktu lama baginya untuk tersadar kembali dari lamunannya.
__ADS_1
Dia tidak mengerti.
Benar-benar tidak mengerti.
Orang ini.....ternyata segila itu!
Benar-benar gila.
Hal yang sama juga terjadi di halaman siaran langsung.
Begitu pula dengan empat petugas pemburu lainnya, termasuk Catherine.
Mata mereka semua membelalak.
Tidak ada yang menyangka.
Gavin.....ternyata menggunakan cara ini untuk kabur.
Andra-lah yang pertama kali tersadar.
"Jarvis, di sebelah Gavin itu ada sebuah lokasi kontruksi, ayo cepat kita susul ke sana!"
"Oke."
Jarvis menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya.
Cahaya dingin melintas di matanya.
"Gavin, tidak peduli berapa banyak trik yang kamu miliki, aku.....pasti akan menangkapmu kembali."
"Kejar dia."
Semua petugas pemburu kembali ke lantai bawah dan melaju menuju lokasi konstruksi di sebelah dengan mengendarai mobil.
Di atas menara derek. Gavin berlari dengan cepat.
Melihat jalanan yang sibuk di bawah dan angin sepoi-sepoi bertiup di wajahnya, Gavin pun berteriak.
__ADS_1
"Akulah adalah Raja Pelarian Sejati."
Di halaman siaran langsung, banyak orang merasa lebih semangat.