
Rahangku seketika mengeras. Mas Natan terus mendesakku untuk berkata jujur. Lalu kata jujur yang bagaimana yang ingin ia dengar?
Jujur kalau memiliki hubungan dengan Lion? Aku benar-benar tak habis pikir dibuatnya. Aku menarik napas dalam kemudian mengembuskannya kasar.
"Dik, benar, 'kan? Kamu memiliki hubungan dengan lelaki sialan itu?" tanya Mas Natan dingin.
"Mas, aku benar-benar nggak kenal sama dia. Bahkan aku baru dua kali ini bertemu dengannya." Aku mencoba menekan kembali emosiku.
Aku sedang dalam masa pemulihan. Tak hanya fisikku yang lemah. Mentalku pun sedang lemah. Aku penasaran, apa Mas Natan sudah tahu kalau aku baru saja keguguran?
"Kamu jangan bohong! Kalau nggak kenal, bagaimana bisa kamu sampai Rumah Sakit sama dia!" teriak Mas Natan.
"Tan, tolong rendahkan suaramu. Kita sedang ada di tempat umum." Ibu mencoba untuk membujuk suamiku.
Baru kali ini Mas Natan berteriak kepadaku di tempat umum begini. Sepertinya ada yang salah dengannya. Satu hal lagi yang membuatku semakin terkejut. Rasa hormatnya pada kedua orang tuaku seakan lenyap begitu saja.
Suamiku seakan menjelma menjadi orang lain. Dia tidak seperti Mas Natan yang kukenal. Di mana Mas Natan yang sabar, lembut, dan penuh cinta itu?
"Mas, bukankah seharusnya kamu berterima kasih sama Lion?"
"Berterima kasih? Berterima kasih bagaimana maksudmu, Na! Kamu sudah gila?" Mas Natan kembali berteriak.
"Kalau aku nggak ketemu dia, mungkin saja aku akan kehilangan nyawa, Mas."
"Kamu terlalu mendramatisir! Cuma pingsan masa bisa kehilangan nyawa?" Mas Natan tersenyum miring sembari melipat lengan di depan dada.
"Pingsan saja? Mas tahu nggak kalau saat ini aku sedang mengalami hal buruk?"
Mas Natan mengerutkan dahi. Terlihat jelas, dia ingin sekali bertanya sesuatu. Namun, aku terus berbicara. Meluapkan semua isi hatiku saat ini.
Mengungkapkan seluruh kekecewaanku kepadanya. Aku menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar. Kutatap serius manik mata suamiku ini.
"Mas, aku baru saja kehilangan calon bayi kita, Mas. Ah, tunggu. Mungkin lebih tepatnya aku baru saja kehilangan calon bayiku."
__ADS_1
Nyeri sekali rasanya hati ini. Aku bahkan tidak rela menyebut Mas Natan juga memiliki hak atas calon bayiku yang sudah berpulang ke pangkuan Allah. Mas Natan terbelalak, bibirnya menganga lebar tak mengeluarkan suara.
"Aku keguguran. Kalau saja tadi Mas Natan mengutamakan aku daripada burung itu, dan segera membawaku ke rumah sakit, mungkin saja bayiku masih bisa diselamatkan."
Air mataku kini mengalir membasahi pipi. Mas Natan masih bungkam. Dia menatapku kebingungan. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang ada di dalam kepalanya sekarang.
"Kamu hamil? Ba-bagaimana bisa? Kok kamu nggak ngasih tahu aku, kalau kamu hamil?"
"Aku bahkan juga tidak menyadari kalau sedang mengandung, Mas!" tangisku pecah seketika. Dadaku kembang kempis dan isak tangis mulai lolos dari bibir.
"Kamu gimana, sih! Kenapa nggak bisa menjaga kandunganmu! Bagaimana bisa tidak tahu kalau sedang hamil? Perempuan macam apa kamu!"
Aku tersentak. Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran suamiku ini. Di saat aku yang notabene adalah istrinya sendiri, sedang kalut karena kehilangan calon bayi. Dia justru menyerang dengan berbagai alibi dan membuatku merasa semakin bersalah.
Aku memejamkan mata, mengumpulkan kekuatan yang tersisa. Tak lama kemudian aku menatap tajam Mas Natan dan berbicara dengan nada tinggi.
"Terus saja salahkan aku! Aku heran, kenapa kamu akhir-akhir ini bersikap tidak sewajarnya, Mas!" Dadaku naik turun karena menahan gejolak amarah yang bergemutuh di dalam dada.
"Aku bahkan hampir ada di ambang kematian karena pendarahan hebat! Tapi kamu malah terus menyudutkanku dengan berbagai alasan! Tega kamu Mas!"
"Pergi dari sini, Mas." Aku memalingkan wajah karena merasa muak melihat tingkah Mas Natan.
"Kamu ngusir aku, Na?"
"Aku bilang pergi, Mas. Aku mau istirahat. Tolong jangan temui aku sementara waktu. Aku butuh waktu sendiri. Aku rasa Mas Natan juga membutuhkan waktu sendiri juga."
Mas Natan terus berteriak, tetapi bapak menyeretnya keluar dari bangsal dibantu oleh seorang petugas keamanan. Bukan hanya aku yang terganggu oleh Mas Natan, pasien lain yang dirawat di kamar sebelah pun mulai terusik karena kehadiran Mas Natan.
...****************...
Hari ini aku diijinkan untuk pulang. Aku tak menyangka harus menginap di Rumah Sakit ini selama tiga hari. Aku mengalami pendarahan lumayan parah.
Ibu membantuku mengemasi barang. Sedangkan bapak sedang mengurus biaya administrasi. Selama menginap di rumah sakit, Mas Natan terus mengirimi aku pesan Whatsapp.
__ADS_1
Selama itu pula aku mengabaikan pesan dari Mas Natan. Sejujurnya aku masih kesal dengan sikap suamiku itu. Aku bahkan berencana untuk pulang ke rumah ibu, sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Sampai hatiku bisa menerima semua kenyataan.
"Na, kamu yakin?"
Ibu kembali melontarkan peratanyaan yang sama. Kurasa sudah puluhan kali beliau menanyakan hal itu. Menanyakan tentang keputusanku yang memilih pulang ke desa tempat aku dilahirkan.
"Yakin, Bu. Aku butuh ketenangan. Biar Mas Natan merenungi kesalahannya juga."
"Sepertinya suamimu itu sudah menyesal. Apa tidak sebaiknya kamu pulang saja ke kontrakanmu?"
"Bu, aku kembali membenci Kaja karena kejadian ini. Aku berusaha menerimanya hadir dalam keluarga kami, tapi justru burung itu menimbulkan banyak masalah dan percekcokan dalam rumahtanggaku dan Mas Natan, Bu."
"Na, Kaja hanyalah seekor burung. Hapuskanlah rasa bencimu kepadanya."
"Semoga saja bisa, Bu."
Kudengar ibu menghela napas kasar. Tak lama kemudian bapak kembali masuk ke kamar, bersama Lion. Ya, lelaki itu sering sekali menjengukku. Bahkan hari ini dia yang mengantar kami pulang ke kaki Gunung Lawu menggunakan mobil yang ia pinjam dari seorang teman.
"Sudah siap semua?" tanya Bapak antusias.
"Sudah, Pak. Ayo, Na." Ibu tersenyum tipis, kemudian menggandeng jemariku dan memapahku ketika berjalan.
Aku dan ibu berjalan terlebih dahulu, sedangkan Lion dan Bapak berjalan di belakang kami sembari menenteng tas dan beberapa paperbag. Ketika hendak masuk ke mobil, kami dihadang oleh Mas Natan. Wajah suamiku itu terlihat tak bersemangat.
Tatapan matanya pun sayu. Penampilannya acak-acakan dan masih memakai seragam. Rambut yang biasa terlihat rapi, hari ini tampak tak beraturan.
Aku tersenyum kecut melihat penampilan Mas Natan hari ini. Lelaki itu berjalan mendekatiku. Ketika tepat berada di hadapanku, Mas Natan meraih jemariku lembut.
"Dik, kita pulang ke rumah, ya? Mas janji bakalan perbaiki diri. Mas berniat untuk menjual Kaja. Maaf, ya karena sudah menuduhmu tanpa dasar beberapa hari yang lalu? Mas benar-benar menyesal."
Aku terpaku. Kutatap manik mata mas Natan. Tidak ada secuil kebohongan pun di sana. Sepertinya suamiku ini benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki diri. Namun, sejujurnya aku belum siap melihat Kaja lagi.
Aku menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Kutatap manik mata suamiku, kemudian tersenyum lembut.
__ADS_1
"Mas, aku mau pulang ke rumah ...."