Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 28. Kesalahan di Tempat Kerja


__ADS_3

Aku melajukan motor membelah jalanan Kota Solo. Tiga minggu berlalu sejak aku keluar dari butik milik Miya. Sekarang aku kembali bekerja di toko tempat kerjaku dulu saat masih lajang. Walaupun tidak mendapatkan posisi seperti dulu, paling tidak aku masih diijinkan untuk kembali bekerja di sana.


Siang itu cuaca terasa begitu terik. Matahari bersinar terang memancarkan energi panasnya, hingga membuat keringatku mengucur di balik jilbab. Ketika motorku berhenti di lampu lalu lintas, ekor mataku menangkap sosok Abel yang sepertinya sedang menunggu sesuatu di pinggir jalan.


Usai lampu merah berganti hijau, aku langsung memutar tuas gas dan menghampiri gadis yang masih rapi dalam balutan seragam sekolah tersebut. Dia langsung menoleh ketika aku menyalakan klakson motor.


"Bel, kok jam segini udah balik?" tanyaku.


"Eh, Mbak Nana! Iya, Mbak.Abel ijin pulang cepat. Soalnya hari ini jadwal ibu cuci darah. Kasihan kalau nggak ada yang nemenin," ucap gadis berparas cantik itu.


"Masih di rumah sakit yang dulu itu, 'kan?" tanyaku.


"Iya, Mbak."


"Naik, gih! Kita searah! Yuk, aku antar!"


Abel tak menolak tawaranku. Gadis itu langsung naik ke motor. Setelah itu aku langsung memutar tuas gas. Aku memilih melewati jalan tikus, karena tidak membawa helm cadangan untuk Abel. Jadi, terpaksa aku harus melewati gang perumahan hingga membuat waktu tempuh perjalanan semakin lama.


Sepanjang jalan menuju Rumah Sakit, kami banyak berbincang. Lebih tepatnya aku banyak menanyai Abel tentang kehidupan sehati-harinya setelah kejadian tiga minggu lalu.


Dari sana, aku jadi banyak tahu tentang Abel. Dia satu kelas dengan sepupuku Makutha, anak pertama Bibi Liontin.


"Benarkah? Wah, dunia ternyata begitu sempit!" seruki sembari terkekeh.


"Tapi, kesan Makutha terhadapku pastilah sangat buruk!"


"Hah? Kenapa?" Aku terbelalak mendengar pernyataan Abel.


"Aku sudah bersikap jahat terhadap salah seorang teman perempuannya."


Aku bisa melihat raut wajah Abel berubah. Seakan ada mendung yang menutupi keceriaan wajahnya. Gadis itu membuang muka dengan tatapan menerawang jauh.


"Nggak pa-pa, Bel. Namanya manusia kan tempatnya khilaf. Kamu masih bisa memperbaiki semuanya, kok! Semangat ya!"


Abel kini melihat pantulan wajahku dari kaca spion, sehingga tanpa sengaja tatapan kami bertemu. Gadis itu tersenyum simpul. Tak lupa dia juga menganggukkan kepalanya.


"Mbak Nana, makasih, ya? Padahal aku sudah buat Mas Natan ngasih uangnya cuma-cuma ke aku. Uang sebanyak itu pasti sangatlah berarti untuk kalian yang sudah berumah tangga. Tapi Mbak Nana masih bersikap begitu baik kepadaku." celetuk Abel.


Cuma-cuma? Mendadak aku manrik tuas rem. Motor matic-ku sontak berhenti. Abel berulang kali mengucap nama Tuhan.

__ADS_1


"Mbak Nana, nggak pa-pa?" tanya Abel dengan raut wajah panik.


"Ka-kamu nanti pulang jam berapa?" tanyaku gugup.


"Belum tahu, Mbak. Mungkin menginap di Rumah Sakit. Karena ibu memang rawat inap di sana sejak tiga minggu yang lalu."


"Nanti aku mau jenguk ibu, ya, sepulang kerja. Agak larut nggak pa-pa 'kan? Cuma mau lihat kondisi ibumu."


"Boleh, Mbak." Abel tersenyum lembut, dan aku kembali melajukan motor mengantarnya ke Rumah sakit.


...****************...


Sepanjang jam kerja aku banyak melamun. Pikiranku masih terpaku kepada ucapan Abel. Mas Natan ngasih dia uang secara cuma-cuma? Maksudnya apa?


Bahkan aku yang tadinya hampir melupakan masalah itu, jadi kembali teringat. Mas Natan juga sudah tidak lagi menghubungiku seperti biasa. Mungkin dia sudah ikhlas dan mantap berpisah denganku, layaknya apa yang aku rasakan.


Aku mendengus kesal, kemudian kembali fokus pada setumpuk struk yang harus kubereskan. Setelah menumpuk berlembar-lembar struk dan mengikatnya dengan karet, aku memasukkannya ke dalam kotak kardus yang sengaja digunakan untuk menyimpan bukti pembayaran tersebut.


"Na," panggil Uni, partner kerjaku.


"Ya?"


"Ha?"


Aku mengerutkan dahi kemudian melirik arloji yang melingkar di tanganku. Aku terbelalak. Jam sudah menunjukkan pukul 20:30. Ternyata aku sudah lumayan lama bergelut dalam pikiranku sendiri.


Aku langsung membuka laci kasir. Menata uang yang ada, mengurutkan dari nominal besar ke kecil, dan membawa masuk uang omzet toko yang menjadi tanggung jawabku.


"Malam, Pak," sapaku pada Manajer Toko baru kami.


Namanya Pak Arka. Umurnya baru menginjak 35 tahun. Dia selalu bersikap dingin, dan ketus terhadap karyawan perempuan. Sempat beredar kabar, kalau beliau penyuka sesama jenis.


"Hem," jawabnya singkat.


Aku memerhatikan jemari panjang dengan kuku bersih milik Pak Arka sedang menari di atas papan ketik komputer. Dia membuka laporan penjualan yang masuk ke dalam mesin kasirku. Setelahnya, lelaki itu mulai mengurangi angka yang tertera dalam layar monitor dengan jumlah angka yang tercetak dalam struk mesin EDC (sebuah alat penerima pembayaran yang dapat menghubungkan antar rekening bank).


"Sepuluh juta delapan ratus tiga puluh empat ribu empat ratus enam puluh rupiah."


Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar jumlah yang disebutkan oleh Pak Arka. Aku rasa aku tidak memiliki kewajiban setor sebanyak itu! Pasti Pak Arka salah menghitung!

__ADS_1


"Berapa tadi setoranmu?"


"Se-sembilan juta lima ratus ribu, Pak," ucapku gugup.


Pak Arka kembali menghitung sisa uang yang harus aku setorkan. Setelah menemukan hasil yang seharusnya, dia kembali mengucapkan nominal uang yang tersisa dan menjadi tanggungjawabku.


"Pak Arka ...."


Baru saja aku memanggil nama Pak Arka, sebuah tatapan tajam ia lemparkan kepadaku. Akhirnya aku mengurungkan niat untuk meminta beliau menghitung ulang omzet kasirku.


"Mana setorannya?"


Tanganku sampai gemetar ketika menyerahkan uang tersebut. Pak Arka berdecak kesal kemudian meraih kasar uang setoran dari tanganku. Lelaki tampan di hadapanku ini mulai menghitung uang yang ia genggam. Tak lama kemudian, gerakan jarinya berhenti.


"Kurang lima ratus ribu lebih, lo, ini!"


Jantungku seakan berhenti berdetak. Kakiku lemas seketika. Aku menatap nanar lelaki di hadapanku ini. Pak Arka melipat lengan di depan dada kemudian tersenyum sinis.


"Kamu sengaja memasang wajah seperti itu agar aku mau berbaik hati?"


"Pak, saya ...."


"Saya nggak nerima alasan! Kamu harus ganti!"


Air mataku berdesakan ingin keluar. Namun, sebisa mungkin aku menahannya. Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.


"Pak, apa pasti ini salahku?"


Pak Arka mengerutkan dahi, kemudian kembali menatapku tajam. "Nggak mungkin aku salah!"


"Pak, boleh minta tolong cek ulang hasil hitungan Pak Arka tadi? Atau aku saja yang bantu hitung?"


"Kamu meremehkanku?"


"Bu-bukannya begitu, Pak. Tapi ...."


Pak Arka membanting kalkulator di depannya ke atas lantai. Benda berwarna hitam itu kini hancur. Aku menelan ludah kasar. Sepertinya aku sedang membangunkan singa yang sedang tertidur pulas. Berulang kali aku merutuki kebodohanku malam ini.


"Jika ada yang salah dengan hitunganku, maka ...."

__ADS_1


__ADS_2