Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 32. Cecillion POV


__ADS_3

Aku memutuskan kembali ke Indonesia bersama Hanabi, adikku. Namaku Cecillion, putra kedua dari pasangan asal Indonesia dan Finlandia. Kedua orang tua kami bercerai karena keadaan ekonomi keluarga yang bisa dibilang buruk.


Ayahku pengangguran, dan enggan bekerja. Sedangkan ibu harus banting tulang dalam kondisi hamil tua. Setelah adikku Hanabi lahir dan ketika berusia satu tahun, ibu akhirnya bercerai dan kembali ke Finlandia. Tak lama kemudian, beliau berpulang karena menderita kanker.


Beruntungnya, ibu berasal darinkeluarga kaya raya di negara asalnya. Aku dan Hana mendaoatkan pendidikan terbaik dan juga fasilitas hidup yanh terjamin. Keluarga ibu merawat kami dengan baik.


Aku memutuskan untuk memulai hidup baru di Indonesia. Sejujurnya aku sangat rindu Kakakku, Natan. Dia lelaki yang baik. Aku ingin berada di dekatnya agar bisa membantunya ketika sedang kesulitan. Aku yakin, hidup bersama ayah akan terasa sulit baginya.


Ketika baru tiba di Indonesia, akumendapat kabar bahwa kakakku Natan baru saja menikah. Aku beberapa kali mencoba bertemu dengannya, tetapi dilarang oleh bapak. Bahkan lelaki tua itu menyembunyikan alamat rumah Kak Natan.


Sampai suatu ketika Kak Natan menemuiku di rumah yang aku beli di pusat Kota Solo. Dia menemuiku karena ada hal penting.


"Ada apa, Kak?" tanyaku penasaran.


"Boleh minta tolong?"


"Kenapa?"


"Bermainlah drama denganku."


Aku mengerutkan dahi kemudian terkekeh ketika mendengar permintaan aneh kakak tertuaku ini. Dia menggenggam jemariku, dan melemparkan tatapan penuh keseriusan.


"Aku sedang tidak bercanda, Lion."


"Bantu jaga Kakak Iparmu. Kalau bisa, buat dia jatuh hati padamu!"

__ADS_1


Ini adalah permintaan TERGILA dari kakak! Bagaimana bisa lelaki di hadapanku ini meminta sesuatu yang terdengar begitu konyol? Aku melepaskan genggaman tangan Kak Natan lalu bersidekap sembari menyipitkan mata.


"Aku butuh alasan yang tepat untuk membantumu! Lagi pula bagaimana bisa seorang suami meminta orang lain untuk merayu istrinya. Aneh!" Aku tersenyum miring kemudian membuang muka.


"Aku mengidap kanker paru-paru, dan baru menyadarinya belakangan ini. Tanpa sengaja aku sudah membuatnya kesal karena menolong seorang teman. Aku membeli seekor burung, dan dia tidak menyukainya." Kak Natan tersenyum kecut.


Aku terbelalak. Bagaimana bisa penyakit yang merenggut nyawa Mama, kini hinggap dan menggerogoti tubuh Kak Natan?


"Kak Natan, tolong jangan berlebihan ketika bercanda!"


"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"


Aku tertegun. Benar, kakakku ini tidak sedang bercanda. Matanya memancarkan keseriusan. Aku menghela napas kasar.


"Aku ingin membuatnya membenciku, hingga memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Kalau aku diminta untuk meninggalkan Nana, sejujurnya aku tidak bisa. Walaupun pada akhirnya aku harus meninggalkannya karena penyakit sialan ini!"


"Kenapa tidak berkata jujur saja pada Kak Nana?"


"Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Aku ...."


"Bukankah pada akhirnya dia akan mengetahui semuanya? Saat hal itu terjadi, bukankah dia akan merasa lebih berdosa?"


Kak Natan tertunduk lesu, kemudian menghela napas kasar. "Aku sudah memikirkannya matang. Dia istri yang sangat baik, aku tidak ingin menorehkan kesedihan di hari akhirku."


"Dasar bodoh!" seruku.

__ADS_1


Kak Natan tersenyum getir. Dia mengusap wajah kemudian menatapku sendu. Aku melihat kebingungan serta keputusasaan bercampur di dalam tatapannya.


"Biarlah aku memang bodoh. Otakku rasanya sudah buntu. Penyakit sialan ini datang begitu mendadak! Aku sudah mencicil perumahan juga tanpa sepengetahuan Nana. Tinggal sedikit lagi lunas. Apa kamu mau melunasinya untukku?" Kak Natan terkekeh.


"Masih kurang berapa?"


"Aku kasih kasih DP sama nyicil selama 2 tahun. Jadi semuanya masih kurang 100 juta!"


Tawaku meledak. Mendengar pengakuan jujur kakak laki-lakiku ini. Lucu sekali! Kekurangan 100 juta katanya? Itu bukanlagi kurang, tetapi seperti belum berkurang uang cicilannya! Namun, aku datang ke Indonesia untuk ini.


Aku menghela napas kemudoan mengangguk perlahan. "Aku transfer besok!"


"Ha! Serius?"


...****************...


Hari itu adalah hari terakhir aku berbincang dengan Kak Natan. Sejak hari itu aku terus sibuk mengikuti ke mana pun Kak Nana pergi. Berpura-pura menjadi tukang ojek, kasir di restoranku sendiri, sampai driver taksi online.


Aku terus menguntitnya ke mana kakinya melangkah, untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Namun, justru rencana konyol Kak Natan membuat istrinya itu kerap meneteskan air mata. Aku berulang kali menghubunginya untuk segera mengakhiri sandiwara ini. Akan tetapo, lelaki bodoh bin egois itu seakan menutup telinga.


Sampai akhirnya dokter mengatakan kalau Kak Natan harus dirawat di rumah sakit karena kondisinya kian melemah. Harapan hidupnya semakin tipis, karena sel kanker menjalar lebih cepat dari dugaan tim medis.


Sel jahanam itu mulai memasuki jaringan otak dan merusak beberapa fungsinya. Aku tertegun. Tak bisa berbuat apapun. Aku hanya bisa berharap keajaiban Tuhan menyelamatkannya.


...🕷🕷🕷POV Lion End🕷🕷🕷...

__ADS_1


__ADS_2