Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 15. Ambang Batas Kesabaran


__ADS_3

Aku langsung melepaskan pelukan Lion ketika merasa sudah tenang. Rasa bersalah masih bergelayut manja di hatiku. Aku menunduk, meremas rok panjang yang menutup bagian bawah tubuhku.


"Lion, pulanglah. Hujan sepertinya sudah mulai reda," ucapku sambil melirik ke luar jendela.


Bukan untuk memastikan hujan benar-benar sudah reda atau belum, melainkan untuk memastikan tidak tetangga yang lewat di depan rumahku. Lion tersenyum tipis kemudian berpamitan. Dia keluar rumah dan mulai melajukan motor matic-nya.


Aku munafik! Aku sama saja seperti ibu yang terlalu memikirkan perkataan orang lain. Aku benci diriku yang seperti ini!


Aku menatap punggung Lion yang mulai menjauh, meninggalkan rumah kontrakan sederhanaku ini. Rintik kecil air hujan masih menyapa jalanan beraspal. Setelah lelaki itu menghilang dari pandangan, aku mulai membersihkan rumah.


Rumah kontrakanku ternyata tidak begitu kotor. Sepertinya Mas Natan rajin membersihkan rumah ini. Benar-benar di luar dugaan. Tidak ada cucian piring atau gelas kotor. Keranjang pakaian kotor juga kosong.


Aku hanya menyapu dan mengepel lantai, serta membersihkan kaca jendela saja. Tak terasa satu jam lebih aku membersihkan ruang tamu, ruang tengah, serta dapur dan meja makan.


Aku meregangkan otot yang terasa kaku. Kulirik pintu kamar yang masih tertutup. Ya, aku belum membersihkan ruangan satu ini.


"Bersihin kamar, mandi, terus nyusul Mas Natan lagi ke Rumah Sakit!" Kukepalkan tenganku penuh semangat.


Aku membawa sapu dan juga kain pel masuk ke kamar. Aku membersihkan debu-debu yang menempel pada lantai. Tak lupa aku menata ulang lemari yang isinya sudah acak-acakan. Kurasa hanya satu tempat yang terlihat kacau sejak aku pulang, yaitu lemari pakaianku.


Salah satu alasan kenapa selalu menyiapkan pakaian yang akan dipakai suamiku adalah ini. Setiap Mas Natan membuka lemari dan mencari pakaian, pasti dia akan membuat seisi lemari menjadi kacau.


Suamiku ini akan langsung menarik pakaian yang ingin dia pakai. Hal itu tentu saja membuat pakaian di atasnya kalang kabut tak berbentuk. Aku menggeleng, mengambil napas panjang, dan mengembuskannya perlahan.


Aku mengeluarkan seluruh pakaian yang ada di dalam lemari. Melipat ulang semuanya, lalu kembali menatanya serapi mungkin. Ketika membuka laci lemari yang biasa kugunakan untuk menyimpan berkas penting, mataku membulat sempurna.


Buku tabungan yang kugunakan untuk menyimpan uang sewa kontrakan tahun depan tidak ada di tempatnya. Begitu juga dengan kartu ATM-nya. Aku mencari kedua barang itu ke setiap sudut lemari. Namun, aku gagal menemukannya.


"Ke mana, ya? Aku yakin sekali kalau buku tabungan serta kartu ATM-ku tersimpan di lemari."

__ADS_1


Aku terduduk lesu di atas ranjang. Kembali mengingat lagi di mana terakhir kali aku menaruh dua benda tersebut. Siapa tahu aku memang lupa.


Tak lama kemudian, tatapanku tertuju pada sebuah kotak hitam lumayan besar yang ada di sudut kamar. Aku melangkah mendekati kotak tersebut. Kubuka kotak berpita keemasan itu.


Ternyata di dalamnya berisi satu set produk perawatan kulit, dan juga alat make-up. Sepertinya semua ini untukku. Aku tersenyum lebar. Tak menyangka suamiku bersikap semanis ini. Aku mengingat-ingat lagi, apakah ada hari spesial dekat-dekat ini?


"Wah, minggu depan ulang tahunku! Tumben Mas Natan nyiapin kado!" Aku terkekeh sambil menutup kembali kotak tersebut.


Biasanya Mas Natan tak pernah memberiku kado ketika berulang tahun. Jangankan kado ulang tahun, mengucapkan selamat saja dia tidak pernah. Aku mendengus kesal mengingat sikap Mas Natan yang tidak romantis itu.


Namun, melihat kotak hadiah berwarna hitam tersebut, aku kembali tersenyum lebar. Apa ini akan ia gunakan untuk membujukku kembali? Mungkin saja Mas Natan benar-benar sudah betubah. Aku bersenandung riang, kemudian meletakkan kotak itu kembali ke tempatnya.


Aku melangkah ke arah ranjang, berniat merapikan selimut yang terlihat sedikit berantakan serta mengganti sprai. Sontak aku menautkan kedua alis, saat melihat hal janggal pada permukaan seprai bermotif zig-zag tersebut.


Ada noda darah di sana. Noda tersebut masih baru karena masih berwarna merah. Jika sudah lama, biasanya noda darah akan berubah menjadi kecoklatan.


Temuan selanjutnya membuat lututku lemas seketika. Aku menemukan kalung dengan inisial huruf A. Itu bukan kalungku! Tidak mungkin juga kalau kalung ini akan diberikan kepadaku. Namaku Nana, bukan A inisial namaku!


Kini di hadapanku, ada seorang perempuan muda yang masoh memakai seragam sekolah putih abu-abu. Pakaiannya terlalu ketat untuk ukuran anak sekolah. Aku mengerutkan dahi.


"Malam , Kak," sapa gadis cantik bertubuh padat itu.


"Iya, Adik siapa, ya?"


"Mas Natan ada?" tanya gadis itu sambil melongok ke dalam rumah.


"Dia lagi di rumah sakit, kenapa?"


"Apa!" Gadis itu terkejut sampai matanya membulat sempurna.

__ADS_1


Aku kembali mengerutkan dahi. Kenapa gadis itu terkejut? Bahkan kini matanya berkaca-kaca.


"Sebenarnya kamu siapa?" cecarku.


"Sa-saya Abel, Kak. Saya mau ...."


Abel? Apa gadis ini pemilik kalung yang baru saja aku temukan? Aku menunjukkan kalung dengan liontin berinisial huruf A tadi kepada Abel. Gadis itu terbelalak.


"Mau mengambil kalung ini?" terkaku.


"I-iya, Kak." Suara gadis itu bergetar.


Emosiku langsung naik hingga ubun-ubun. Kutatap tajam gadis di hadapanku ini. Jemariku mengepal erat, dan rahangku mengeras seketika.


Kulempar kalung tersebut dan tepat mengenai wajahnya. Air mataku menetes. Hatiku hancur seketika. Aku berbicara sembari merapatkan gigiku untuk menahan amarah.


"Kamu ada hubungan apa sama Mas Natan! Bagaimana bisa kalung ini tertinggal di atas ranjang kami? Dan noda darah itu milikmu?" cecarku dengan suara bergetar hebat.


Gadis itu hanya menunduk. Emosiku meledak seketika. Aku mendekati Abel, lalu mendaratkan sebuah tamparan le atas pipinya. Wajahnya berpaling.


Abel mengangkat tangannya, kemudian mengusap pipinya yang terlihat merah. Gadis itu mulai menitikkan air mata. Aku benci melihatnya menangis. Dia tidak berhak menangis!


Di sini akulah yang menjadi korbannya! Untuk apa Abel menangis? Menyesal? Ingin sekali kujambak dan memaki gadis ini, tetapi hal itu hanya akan membuatku terlihat rendahan.


"Jawab! Ada hubungan apa kamu dengan Mas Natan!" Aku berusaha mengeluarkan suara setenang mungkin.


Abel langsung mendekat dan memegang pergelangan kakiku. Gadis itu menangis meraung-raung sembari meminta maaf. Aku membuang muka sambil mengusap air mata kekecewaan yang membasahi pipiku.


"Maaf, Mbak! Aku terpaksa menjual keperawananku pada suami Mbak Nana!"

__ADS_1


"Oh, jadi kami tahu kalau Mas Natan sudah beristri? Lagian kenapa kamu mau menjual harga dirimu itu pada suamiku yang kere? Masih banyak orang kaya di luaran sana yang sanggup membayarmu mahal!"


Dadaku kembang kempis menahan gejolak amarah. Dia pikir dengan bersujud di kakiku, akan membuat hatiku luluh dan memaafkannya? Biarlah aku tetap memelihara dendam ini! Aku benar-benar tidak bisa memaafkan sebuah penghianatan!


__ADS_2