Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 17. On Proses


__ADS_3

Setelah mengantri selama tiga puluh menit, akhirnya tiba giliranku menyerahkan berkas-berkas kepada petugas. Dua orang petugas sedang melayani aku dan ibu dari Claude. Keduanya menerima berkas dan mengeceknya satu per satu.


"Ada apa, sih? Akhir-akhir ini kantor kita dibanjiri istri-istri yang menggugat cerai suami mereka," ucap pegawai bernama Nonik.


"Untuk apa nikah, kalau akhirnya berpisah. Mending kayak aku, udah berumur tapi nggak nikah. Bisa bebas ke sana ke mari tanpa pusing dengan ikatan status pernikahan!" seru petugas lain bernama Cici.


Telingaku terasa panas mendengar ucapan keduanya. Mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam sebuah hubungan rumahtangga. Kenapa mereka sibuk menghakimi kami? Istri-istri yang menggugat suaminya.


Aku rasa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki impian untuk bercerai? Mereka pasti ingin bahtera rumahtangga tetap berlayar mengarungi lautan kehidupan. Menikmati setiap badai yang datang, sehingga bisa menyaksikan pelangi setelahnya.


Kurasa tidak ada yang mau kapal mereka karam karena menabrak tebing karang, atau gunung es lalu hancur berkeping-keping layaknya kapal Titanic. Aku mencoba menahan emosi, dan berusaha mengacuhkan celoteh dua manusia tak berperasaan ini.


Namun, semakin lama obrolan mereka semakin membuat darahku mendidih. Kukepalkan jemari, aku dapat merasakan rahang yang mulai mengeras. Sontak aku beranjak dari kursi, lalu melipat lengan di depan dada.


"Mbak, saya yakin Anda berdua orang-orang berpendidikan! Untuk apa mengurusi penyebab kami memutuskan untuk bercerai? Anda tidak pernah tahu, seberapa dalamnya lautan dan makhluk apa saja yang ada di dalamnya. Anda juga tidak pernah tahu seberapa besar tekanan di bawah laut, karena tidak pernah menyelaminya! Jadi, hentikan obrolan tak bermutu kalian!"


Nonik dan Cici saling menatap. Lalu Cici berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya. Kulihat jemarinya mulai meremas rok yang ia pakai.


"Maafkan saya, Mbak," ucapnya penuh sesal.


"Kami memiliki alasan tersendiri. Jadi, cukup bantu proses perceraian kami! Lakukan saja apa yang menjadi tugas kalian! Kami tidak memerlukan komentar dari kalian!"


Dua perempuan di hadapanku ini saling sikut. Aku mendengus kesal kemudian menanyakan perihal kelengkapan dokumen yang aku bawa.


"Su-sudah lengkap, Bu. Ibu boleh pergi."


Aku langsung melangkah pergi meninggalkan loket. Terdengar suara derap langkah kaki yang mengikutiku. Ketika menoleh, Claude dan ibunya sedang mengejarku. Aku pun menghentikan langkah, berniat menunggu keduanya.


Saat sampai di hadapanku, ibu Claude mengulurkan tangannya. "Mbak, Saya Silva."

__ADS_1


"Ya?"


"Tadi kita belum sempat berkenalan. Nama saya Silvanna, panggil saja Silva." Perempuan itu tersenyum lembut.


Aku menyambut uluran tangannya kemudian ikut menyunggingkan senyuman. "Nana."


"Mbak Nana tinggal di mana?"


"Nggak jauh dari sini, kok."


"Ayo, saya antar!"


Silva menarik lenganku dan menuntunku ke arah parkiran. Dia menuju mobil Tesla berwarna merah. Aku terperangah. Perempuan ini ternyata orang kaya! Dia memiliki mobil berharga miliaran rupiah itu.


"Mbak? Masuk!"


Suara lembut Silva menyapa pendengaranku. Aku langsung memasuki mobil mewah itu, lalu mendaratkan bokongku di atas kursi penumpang. Aku menatap kagum interior mobil tersebut. Seperti berada di dalam akuarium, ketika menaiki mobil ini. Kacanya lebar dan bening. Di bagian atas juga begitu, sehingga aku bisa melihat pemandangan sekitar dengan leluasa.


...****************...


Mas Natan selalu mencoba menghubungiku, tetapi selalu kuabaikan selama hampir satu minggu. Aku juga melarang ibu dan juga bapak pergi menjaganya. Aku sadar perbuatanku ini jahat.


Akan tetapi, bukankah apa yang sudah ia lakukan kepadaku jauh lebih jahat? Aku selalu menuruti apa kemauannya. Berusaha menjadi istri penyabar yang baik hati, layaknya istri-istri yabg ada di sinetron ikan terbang. Namun, Mas Natan justru semakin menginjakku dan menghancurkan hatiku begitu saja.


Aku menatap nanar kamar yang sudah menemaniku dua tahun terakhir. Hari ini Mas Natan diperbolehkan pulang, dan aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini. Aku bahkan sudah mendapatkan kamar kos di pusat Kota Solo.


Aku juga menghubungi temanku, dan mencoba menanyakan pekerjaan kepadanya. Dia bilang ada lowongan. Hari ini aku akan langsung mendatangi butiknya.


Aku menghela napas, kemudian mengambil semua barang bawaanku. Taksi online yang aku pesan sudah sampai di depan rumah. Aku langsung keluar dan menghampiri sopir taksi yang sudah menunggu di mobil.

__ADS_1


"Pak, ada lumayan banyak barang bawaanku. Tolong tunggu sebentar, ya?" Aku tersenyum lembut, diikuti anggukan dari si sopir.


Aku memasukkan tas ke dalam mobil, dan kembali ke rumah untuk mengambil Winter serta White. Ketika semua hampir selesai, tiba-tiba sebuah mobil lain berhenti di depan rumahku.


Ayah mertuaku dan juga Mas Natan keluar dari mobil. Kondisi Mas Natan terlihat begitu menyedihkan. Dia menggunakan sebuah kursi roda, dan dibantu bapak untuk bergerak.


"Kamu mau ke mana?" tanya Mas Natan dengan nada dingin.


"Bukankah ibu sidah menjelaskan semuanya kepada Mas Natan?"


"Jangan pernah pergi dari sini, atau kamu akan menyesal seumur hidup!"


"Justru aku akan lebih menyesal seumur hidup jika tetap berada di sini, Mas! Aku akan terus kau sakiti terus menerus! Aku tidak mau hal itu terjadi!" Alu menatap tajam Mas Natan.


"Oh, jadi begini kelakuan seorang istri? Langsung meninggalkan suaminya saat dia terpuruk, bagus sekali!" ujar ayah mertuaku sambil bertepuk tangan dan tersenyum sinis.


"Anak Bapak yang salah! Dia terus menyakitiku belakangan ini. Bahkan dia mengotori rumahtangga kami dengan sebuah hubungan terlarang! Aku tidak bisa memaafkan itu, Pak!" teriakku.


Mataku mulai memanas. Air mata berdesakan ingin keluar dari persembunyiannya. Namun, aku menahannya sekuat mungkin agar tidak lolos. Mas Natan mengeluarkan secarik kertas kemudian menyobeknya menjadi beberapa bagian. Sepertinya itu adalah undangan dari pengadilan untuk melakukan persidangan.


Dia menatapku tajam, lalu melemparkan sobekan kertas tersebut ke arahku. "Sampai kapan pun aku tidak sudi menceraikanmu! Kamu tidak boleh pergi ke mana pun!"


"Nggak mau! Aku harus mendapatkan kebahagiaanku! Kurasa di sini bukanlah tempatku untuk bahagia."


"Nana!" teriak Mas Natan.


Aku tak lagi memedulikan calon mantan suamiku itu. Aku terus berjalan menuju mobil, lalu meminta sang sopir untuk segera melajukan mobilnya.


Ketika mobil mulai menjauh dari rumah, air mataku seketika meleleh. Bahuku bergetar hebat menahan isak tangis agar tidak lolos.

__ADS_1


"Jangan menangis. Kamu pantas untuk mendapatkan kebahagiaan. Kurasa keputusanmu saat ini sudah tepat!"


__ADS_2