
"Mas, ta-tadi aku udah mau kasih makan. Tapi ...."
"Tapi, tapi! Kamu berani jawab ya!"
Aku bungkam seketika. Bukannya tak berani. Namun, jika aku terus menimpalinya yang ada akan semakin kacau. Mas Natan memasukkan Kaja ke sebuah kotak alumunium, dan menaikkannya ke motor.
"Aku mau bawa dia ke dokter hewan!"
Mas Natan berlalu begitu saja. Dia bahkan sudah melupakan aku yang juga dalam kondisi sakit. Sesak sekali rasanya melihat Mas Natan lebih mementingkan Kaja daripada aku. Air mataku seakan tak mau berhenti bercucuran.
Tak lama kemudian aku merasakan nyeri luar biasa pada perut. Aku meringis menahan sakit, sambil berjalan masuk ke rumah. Aku berjalan tertatih menuju kamar.
Kuraih ponsel yang tergeletak di atas meja rias, berusaha menghubungi Mas Natan. Berharap dia kembali dan segera mengantarku ke rumah sakit. Namun, panggilanku tak diangkat.
Sebenarnya juga percuma melakukan panggilan kepada Mas Natan. Dia tidak mungkin menjawab karena baru saja pergi, dan sedang mengendarai motor menuju klinik hewan. Akhirnya aku membuka aplikasi ojek online, lalu memesan kendaraan untuk menuju rumah sakit.
"Duh, jam sibuk. Nggak ada yang mau pick up! Gimana ini! Akkk, perutku sakit banget!"
Aku terus meringis sambil memegang perutku yang terasa begitu nyeri. Sambil menunggu ojek yang mau mengangkutku, aku memutuskan untuk jalan ke depan kompleks setelah mengunci pintu.
Keringat dingin mengucur membasahi dahi dan juga punggungku. Perutku seperti diremas-remas. Aku berhenti melangkah, ketika merasakan ada sesuatu yang keluar dari inti tubuh.
Aku menunduk, lalu mengangkat sedikit gamis yang kupakai. Alangkah terkejutnya aku saat melihat cairan berwarna merah pekat mengalir dari sana. Melihat darah segar itu, membuatku terbelalak.
"Aku datang bulan? Ta-tapi kenapa rasanya sakit sekali?"
__ADS_1
Aku memutuskan untuk duduk di pinggir jalan, lalu mencoba untuk kembali menghubungi Mas Natan. Akan tetapi, suamiku itu masih belum mengangkat panggilan. Kepalaku mulai terasa berat.
Rasa pusing luar biasa kini menyerangku. Tiba-tiba sebuah motor bebek mirip punya Mas Natan berhenti di hadapanku. Lelaki yang mengendarainya turun dari motor, lalu menghampiriku.
"Mbak, kenapa?" tanya lelaki itu panik.
"Tolong antar Saya ke rumah sakit, bisa? Perutku sakit!" rengekku kepada pria yang sebagian wajahnya tertutup masker itu.
"Ya udah, ayo, Mbak!"
Lelaki itu membantuku berdiri lalu menuntunku ke motornya. Dia memintaku untuk melingkarkan lengan pada pinggangnya. Sepanjang perjalanan, keringat dingin terus mengucur membasahi dahi. Bibirku tak henti-hentinya mengucap istighfar.
Lima belas menit kemudian, aku sampai di Rumah Sakit Umum. Aku dibawa oleh tim medis ke IGD. Rasa nyeri pada perutku semakin menjadi. Bahkan aku merasa kram pada perut.
Tak selang berapa lama, rasa kram tersebut berubah menjadi rasa mulas. Tanpa sadar aku mengejan, dan mengeluarkan sesuatu dari jalan lahir. Aku sempat bingung. Tim medis yang menanganiku saling tatap kemudian menggeleng.
Rasa kantuk kembali menyerangku. Mataku terasa begitu berat. Pandanganku kabur, dan akhirnya aku menyerah. Aku tertidur.
...****************...
Terdengar suara deru mesin yang kuyakini adalah kipas angin, menyapa pendengaranku. Aku mulai membuka kelopak mata secara perlahan. Di sampingku kini, ada ibu dan juga bapak yang menatapku khawatir.
"Na, apa yang kamu rasakan?" tanya ibu.
Mata ibuku terlihat masih basah. Sepertinya beliau baru saja menangis. Bapak yang awalnya duduk sembari bersandar pada dinding pun mendekat. Beliau menanyakan hal yang sama seperti ibu.
__ADS_1
Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Tenggorokanku terasa begitu kering. Badanku rasanya remuk redam, seperti baru saja dirajam dengan batu. Sakit sekali.
"Kamu haus? Mau minum?" tanya ibu sembari tersenyum.
Aku hanya bisa mengangguk. Aku melihat ibu meraih botol berisi air mineral yang ada di atas meja samping ranjang. Sedangkan ayah mengambil sedotan yang juga ada di dekat botol.
Ibu membuka tutup botol, memasukkan sedotan, lalu menyodorkannya kepadaku. Aku menyedot air tersebut untuk membasahi kerongkongan. Rasanya segar sekali. Seakan aku tidak minum selama berhari-hari.
"Mas Natan mana, Bu?" tanyaku lemah.
"Na, ngapain kamu nanyain lelaki nggak bertanggungjawab kayak dia!" seru bapak dengan mata melotot.
"Pak ...." Ibu meraih lengan bapak sambil menggeleng.
Aku mengerutkan dahi melihat sikap keduanya yang seakan menyembunyikan sesuatu. Ibu kembali menatapku sembari tersenyum lembut.
"Mau makan? Biar ibu siapin."
"Boleh."
Ibu kembali beranjak dari kursi, kemudian meraih nampan berisi makanan. Ayah membantuku duduk bersandar pada kepala ranjang. Ibu menyuapkan bubur ke dalam mulutku dengan sabar.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki yang tidak kukenal masuk ke bangsal tempat aku dirawat. Sontak aku mengerutkan dahi. Lelaki itu terlihat todak asing.
Seketika pupil mataku melebar saat mengingat siapa lelaki yang kini ada di hadapanku itu. Aku menunjuk wajahnya. Dia tersenyum simpul sambil mengangguk.
__ADS_1
"Ka-kamu, kenapa ada di sini?"