
"Kalian sedang apa?"
Mendengar suara ibu, sontak aku dan Lion menoleh ke arah sumber suara. Ibu sedang berdiri di teras rumah, sambil menatap kami penuh tanya. Sepertinya beliau salah paham terhadap aku dan juga Lion. Aku melangkah mendekati perempuan yang sudah berjasa mengandungku selama sembilan bulan itu, lalu menggenggam lengannya.
"Nggak pa-pa, Bu. Nana barusan mengucapkan terima kasih sama Lion karena sudah banyak membantu beberapa hari terakhir ini."
"Oh, ya sudah. Aku pikir kamu benar-benar ada hubungan dengan lelaki itu."
Astaga, kenapa ibu jadi keturalan Mas Natan. Kenapa mereka tidak mempercayaiku? Sudah kubilang berulang kali bahwa aku baru melihanya sebulan lalu. Tahu namanya pun baru tiga hari ini?
"Na, kamu masih istri orang. Nggak baik berduaan dengan lelaki lain, bisa menimbulkan fitnah. Kamu paham 'kan soal itu?" Ibu menatapku tegas.
Aku mengangguk tanda mengerti. Tanpa ibu ingatkan pun sebenarnya aku menyadari hal itu. Hampir saja aku masuk ke dalam perangkap setan. Aku sempat terpesona oleh sosok pria selain suamiku.
Aku merasa berdosa, telah mengangkat pandanganku kepada laki-laki lain. Bahkan aku berani menatap mata lelaki bernama Lion itu. Aku terus mengucapkan istighfar dalam hati, berharap Allah mengampuni khilafku.
"Lion, masuk dulu, yuk! Istirahat dulu," ajak ibu.
Kini kami semua duduk di ruang tamu sambil menikmati kue buatan ibu ditemani satu poci teh hangat. Taka lama kemudian, ibu melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Aku berjalan menghampiri ibu, berniat untuk membantunya. Namun, ibu memintaku untuk kembali beristirahat. Aku menolak permintaan beliau. Kutarik kursi lalu duduk di atasnya.
"Bu, maaf, ya. Karena Nana bikin Ibu dan Bapak jadi khawatir?" ucapku sembari bertopang dagu.
"Ngomong apa, sih, kamu, Na? Sudah sana tiduran saja. Kamu harus segera pulih dan pulang ke rumahmu sendiri," ucap ibu sembari tersenyum lembut.
"Bu, misalnya aku bercerai dengan Mas Natan ...."
Belum selesai aku bicara, ibu menghentikan aktivitasnya, lalu menatapku tajam. Aku tertunduk lesu, meremas jari-jariku sendiri. Pasti ibu marah dengan ucapanku barusan.
"Na, kamu nggak lupa, 'kan? Kalau perceraian itu salah satu hal yang dibenci Allah?"
Aku diam, tak menjawab. Aku benar-benar tidak pernah melupakan hal itu. Aku tahu dan paham betul mengenai hal itu. Namun, jika Mas natan tidak berubah. Bukankah hanya batinku yang akan terus tersakiti?
Aku rasa aku sudah cukup memikirkan perasaan orang lain. Kini saatnya aku menjaga hatiku sendiri. Menjaga perasaanku sendiri supaya tetap waras.
__ADS_1
"Aku, capek, Bu. Aku istirahat dulu, ya?" Aku beranjak dari dapur lalu masuk ke kamar, untuk menghindari perdebatan dengan ibu.
Aku sedikit membuka pintu kamar. Kamarku berada tepat di samping ruang tamu, sehingga masih bisa mendengar percakapan bapak dan juga Lion. Bapak mengingatkan Lion untuk menjauhiku.
"Lion, aku tahu kamu ada ketertarikan kepada Nana. Aku lelaki, jadi paham betul apa yang sedang kamu rasakan saat ini."
"Saya tidak ...."
"Kamu bisa saja berkata tidak. Tapi, sorot matamu tak bisa membohongiku. Pulanglah."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."
"Ya, terima kasih sudah mengantar kami jauh-jauh sampai sini. Hati-hati di jalan."
Mendengar percakapan mereka membuatku tersenyum miris. Mereka benar-benar salah paham. Sudahlah, yang terpenting sekarang aku ingin menenangkan hatiku. Mencoba berdamai dengan keadaan. Berharap rasa sedih karena kehilangan calon bayiku sedikit terobati.
Aku meraih kantong plastik berlogo Rumah Sakit Umum tempatku dirawat. Mengeluarkan beberapa butir obat dari sana, kemudian menelannya. Tak lama kemudian, rasa kantuk menyerangku. Aku terlelap.
...****************...
"Benar-benar cintamu tak sebesar yang aku kira, Mas," gumamku.
Aku mengecek laman internet yang menampilkan hasil pencarianku. Setelah mencatat semua yang diperlukan untuk mengajukan gugatan ke pengadilan, aku kembali ke kamar. Bersiap untuk langsung pergi ke Pengadilan Agama pagi ini juga.
Baru saja hendak melangkahkan kaki keluar rumah, sebuah panggilan telepon masuk ke ponselku. Deretan huruf membentuk nama Gatot terlihat pada layar benda pipih ini. Aku mengernyitkan dahi.
"Ada apa, Gatot meneleponku sepagi ini?"
Aku menggeser tombol hijau ke atas, lalu menempelkan benda pipih itu pada daun telinga. Suara Gatot menyapa pendengaranku. Dia terdengar begitu panik.
"Na, pulanglah sekarang! Natan mengalami kecelakaan!"
Aku terbelalak, kakiku lemas seketika. Tubuhku limbung, dan jemariku seakan kehilangan kekuatan. Ponselku yang memang sudah retak, kini kembali jatuh ke lantai, dan hancur berkeping-keping. Ibu mendekat, lalu menarik pelan lenganku.
"Na, kenapa, Nduk?"
__ADS_1
"M-mas Natan, kecelakaan, Bu."
"Ya Allah! Bagaimana bisa? Ayo, Ibu antar ke pulang! Di bawa ke Rumah Sakit mana suamimu itu?" tanya Ibu panik.
"A-aku nggak tahu, Bu."
Tangisku seketika pecah. Mendapat kabar buruk mengenai Mas Natan, ternyata berefek lumayan buruk terhadapku. Aku menangis sejadi-jadinya. Ibu merengkuh tubuhku, mengusap punggung, dan terus menenangkanku. Tak lama kemudian, Bapak yang mendengar tangisku datang menghampiri kami.
"Kenapa, Bu? Kenapa Nana nangis begitu?" tanya Bapak panik.
"Katanya Natan kecelakaan, Pak!"
"Apa! Kalau gitu kita segera ke sana. Ibu coba hubungi ponsel Natan, siapa tahu diangkat sama seseorang!"
Aku sudah tidak memperhatikan lagi apa yang kedua orang tuaku lakukan. Pikiranku begitu kalut. Berbagai praduga buruk datang dan pergi silih berganti.
Bapak minta tolong kepada seorang tetangga untuk mengantar kami ke kota dengan mobilnya. Sekitar satu jam kemudian, kami sudah sampai di Rumah Sakit tempat Mas Natan dirawat.
"Ba-bagaimana keadaan Mas Natan?" tanyaku pada Gatot yang menunggu suamiku di depan ruang operasi.
"Tulang kakinya patah, Na. Kamu yang sabar, ya?"
Aku harus menerima kenyataan pahit lainnya. Ketika aku merasa suamiku sudah tidak membutuhkanku, kenapa ini terjadi? Padahal seminggu belakangan aku sudah berusaha untuk mengikhlaskan semuanya.
Jika aku tetap menggugat Mas Natan, bagaimana nasibnya nanti? Aku pasti dituding sebagai perempuan tidak baik. Meninggalkan suami ketika dia sedang terpuruk.
Akhirnya aku mengurungkan niat burukku untuk bercerai dengan Mas Natan. Mungkin saja Allah akan mengembalikan Mas Natan-ku yang dulu. Mas Natan yang bertutur kata lembut, penyabar, dan penyayang.
"Dia tadi baru akan menjemputmu, dia baru saja pulang kerja. Sepertinya dia mengantuk dalam perjalanan, dan akhirnya tertabrak truk. Untungnya nyawa suamimu masih tertolong."
Mendengar penjelasan Gatot, jantungku seakan berhenti berdetak. Aku sudah salah sangka. Aku pikir Mas Natan sudah tidak menginginkanku kembali. Rasa bersalah kembali merasuki hatiku.
"Natan berusaha menjual Kaja ke sana ke mari, dan baru laku kemarin. Makanya dia baru mau menjemputmu hari ini."
Aku benar-benar salah sangka. Ternyata ini alasan kenapa Mas Natan tidak segera menjemputku. Jika dipikir lagi aku memang kekanak-kanakan. Aku menyesal sempat berpikir ingin berpisah dengan suamiku ini.
__ADS_1
Tangisku tak mau berhenti. Air mata terus mengalir membasahi pipiku. Untaian doa kuucapkan dalam hati, meminta Allah melancarkan proses operasi. Semoga Mas Natan juga bisa segera pulih seperti sedia kala.