
Aku benar-benar miris melihat kondisi Mas Natan yang begitu kacau. Akan tetapi, aku tidak ingin goyah dengan tatapan matanya yang terlihat memelas. Aku sudah memutuskan untuk memilih memenangkan hatiku terlebih dahulu, sekaligus menguji cinta suamiku ini.
"Mas, aku mau pulang ke rumah. Tapi, aku nggak mau lihat Kaja ada di rumah!" seruku kemudian masuk ke mobil.
Aku tidak peduli lagi bagaimana perasaan Mas Natan kali ini. Aku ingin dia memilih. Kaja atau aku istrinya. Aku bahkan sudah mempersiapkan diri kalau ternyata Mas Natan lebih memilih Kaja.
Aku melihat Mas Natan sedang mematung. Dia menatap nanar mobil yang akan membawaku pulang ke rumah bapak dan ibu. Lelaki itu mengusap wajah kasar. Seperti ada perasaan menyesal yang tersirat di wajah suamiku itu.
Namun, aku harus kembali memastikan. Apakah Mas Natan benar-benar menyesal atau tidak. Keputusanku sudah bulat. Aku akan menunggu satu minggu ke depan. Jika Mas Natan menjemputku ke rumah bapak, dan Kaja sudah tidak ada di rumah, aku akan ikut pulang dengannya.
Mobil kami terus melaju membelah jalanan. Berbagai macam pikiran buruk hinggap dalam benakku. Sepanjang perjalanan aku terdiam. Mengamati jalanan yang terlihat ramai. Kendaraan berlalu lalang hendak pergi ke tujuan mereka masing-masing. Begitu juga dengan aku.
Ketika memasuki kawasan perkebunan teh, seluruh pikiran buruk yang ada di kepalaku tiba-tiba lenyap. Hamparan perkebunan teh terlihat menyegarkan mata dan pikiranku.
Aku menurunkan sedikit kaca mobil. Hembusan angin gunung menerpa wajahku. Sejuk dan menyegarkan. Seakan bisa membasuh luka yang menganga di hatiku. Aku tersenyum tipis.
Rasanya sudah lama sekali aku tidak ke sini. Beberapa petani sedang memetik pucuk daun teh, lalu memasukkan ke dalam keranjang yang mereka gendong. Aku ingat sekali sewaktu kecil dulu, sering diajak ibu bekerja di salah satu perkebunan teh ini.
Kaki kecilku berlarian ke sana ke mari. Sesekali bersembunyi di balio perdunya tanaman teh, sehingga membuat ibu terus berteriak memanggil namaku. Jika aku ketahuan, ibu akan memberiku hukuman, yaitu gelitik gemas dari jemari lentik beliau.
Aku benar-benar merindukan masa itu. Saat di mana tak ada beban dalam hidup. Tak ada masalah. Hanya sebatas bermain dan tertawa lepas tanpa beban.
Selain kebun teh, ternyata sudah banyak restoran yang buka di daerah ini. Ternyata aku memang sudah lama tak menjenguk bapak dan ibu. Aku melirik ibu yang kini terlelap dengan bibir sedikit terbuka.
"Ibumu kecapekan itu," celetuk Bapak.
"Iyakah, Pak?" tanyaku.
Aku meraih lengan atas ibu, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu agar beliau tidak mendongak. Dengkuran halus mulai terdengar. Bapak terus bercerita mengenai kegelisahan dan kesibukan ibu menjagaku beberapa hari terakhir.
__ADS_1
"Iya, Pak. Kasihan Ibu." Aku menatap sedih ibu yang terlihat begitu lelah.
"Na, Bapak bisa minta sesuatu sama kamu?"
Bapak terlihat begitu serius. Walaupun aku hanya bisa melihatnya dari kursi penumpang, tetapi dari nada bicara terselip sebuah kekhawatiran di sana.
"Apa, Pak?" tanyaku penasaran.
"Kalau bisa tetap pertahankan pernikahanmu dengan Natan. Kami tinggal di kampung yang pemikiran penduduknya masih kolot. Apa kata orang kalau mengetahui kamu menjanda?"
Aku bungkam seketika. Ternyata kedua orang tuaku masih begitu memikirkan omongan orang lain. Mungkin karena kejadian buruk di masa lalu yang membuat mereka sedikit banyak terpengaruh.
Aku juga pernah menjadi saksi hidup, bagaimana Bulik Ontin diusir dari kampung. Bulikku dulu seorang Tenaga Kerja Wanita yang bekerja di Taiwan. Dia pulang bersama seorang bayi.
Hal itu menimbulkan spekulasi negatif dari warga. Mereka menuding Bulikku benerja sebagai perempuan tidak benar di negeri orang, hingga dia mengandung Makutha. Padahal sebenarnya dulu dia diperkosa oleh majikannya. (Baca kisahnya di Novel Tenaga Kerja Indehoy)
"Jangan pikirkan apa kata mereka, Pak. Jika memang aku benar-benar berpisah dengan Mas Natan, aku nggak mau tinggal di kampung." Aku memalingkan wajah, lalu menatap keluar mobil.
Aku terdiam, enggan menimpali lagi ucapan bapak. Beliau benar, memang selama ini hubunganku dengan Mas Natan baik-baik saja. Sampai Kaja hadir. Burung elang itu menjadi sumber malapetaka bagi rumahtanggaku.
Sekilas aku tersenyum miris, mengingat alasan apa yang akan aku ajukan kepada Pengadilan Agama jika memang perceraian harus terjadi. Burung suamiku yang meresahkan itu? Aku pasti akan ditertawakan, dan kembali dituding terlalu kekanak-kanakan.
Padahal mereka tidak tahu, apa yang aku rasakan. Harus mengalah demi seekor burung. Hampir kehilangan nyawa, bahkan aku kehilangan bayiku, karena suami yang lebih memilih membawa burungnya ke dokter hewan di saat aku juga membutuhkan penanganan medis.
Tak lama kemudian kami sampai di rumah sederhana orang tuaku. Suasana masih terlihat sama. Di halaman rumah, dan juga teras masih tertata rapi pot bunga dan beberapa tanaman hias. Mereka adalah anak ke-dua ibuku.
"Na, ayo, turun!" ajak ibu sambil tersenyum lebar.
Aku mengangguk kemudian mulai melangkah turun dari mobil. Aku berjalan pelan sembari memperhatikan sekitar rumah. Aku seakan kembali ke masa lalu.
__ADS_1
Aku merasakan ketenangan di sini. Ketika sedang sibuk dengan pikiranku, Lion menyejajarkan langkahnya. Lelaki itu hanya diam. Mungkin dia sungkan, atau bingung untuk memulai pembicaraan? Entahlah. Akhirnya aku memutuskan untuk memulai obrolan..
"Terima kasih, ya."
"Terima kasih untuk apa?" tanya Lion.
"Terima kasih karena sudah membawaku ke Rumah Sakit, dan juga mengantarku pulang," ucapku sambil menatap wajahnya.
"Nggak masalah." Lion tersenyum lembut.
Aku baru menyadari kalau lelaki di sampingku ini memiliki lesung pipit. Kulitnya pun bersih tanpa cela. Rahang lelaki ini terlihat tegas. Tanpa kusadari, aku terus menatapnya, hingga tidak memperhatikan tanah yang kupijak.
Kakiku menyandung bongkahan batu lumayan besar, sehingga membuat tubuhku limbung. Beruntungnya Lion dengan sigap menangkap tubuhku. Aku mendongak.
Tatapan kami bertemu. Aku kembali menyadari satu hal indah yang ada dalam diri Lion. Lelaki itu memiliki manik mata berwarna biru. Sontak aku menyatukan alis.
"Lion, matamu ... indah sekali," ucapku tanpa sadar.
Lion memalingkan wajah, lalu membantuku kembali berdiri tegak. Lelaki itu mengusap tengkuk dan tersenyum miring. "Kamu tertipu? Ini cuma softlens."
Aku mengerutkan dahi, dia ingin membohongiku? Aku bisa membedakan lensa mata asli dan softlens dengan jarak sedekat itu.
"Kamu nggak bisa bohongin aku, Lion. Kamu berdarah campuran?" tanyaku basa-basi.
Lion tersenyum tipis, lalu menyugar rambutnya. "Ibuku orang Finlandia."
"Wah, benarkah?" Mataku membulat sempurna.
Tak heran jika lelaku itu memiliki bentuk wajah khas lelaki Eropa. Mata dalam, hidung mancung, bibir tipis, kulit putih bersih, dan juga mata indah. Mata yang bisa menyihir siapapun yang menatapnya termasuk aku.
__ADS_1
"Kalian berdua sedang apa?"
Sontak kami berdua menoleh ke arah sumber suara.