
Aku menendang kasar Abel, kemudian melipat lengan di depan dada. Tangan gadis itu pun terlepas dari kakiku. Kutatap tajam gadis yang kini berdiri sambil terus menunduk itu. Abel mengusap wajah yang telah dibanjiri air mata.
"Maaf, Mbak. Maaf ... aku juga terpaksa melakukannya." Abel menangkupkan kedua tangannya sambil terus mengiba.
"Pulanglah! Ingat hal ini baik-baik. Kamu sudah merusak Pager Ayu rumahtanggaku! Hukum timbal balik masih berlaku. Jika di masa yang akan datang rumahtanggamu baik-baik saja, jangan senang dulu!" Aku mendekat ke arah Abel lalu menjepit kedua pipinya dengan jemariku.
"Bisa jadi, anak cucumu kelak yang akan menerima hukuman dari Allah karena perbuatanmu hari ini! Camkan ini!"
Aku mendorong tubuh gadis itu keluar rumah, lalu membanting pintu kasar, dan masuk ke rumah. Di depan Abel, aku berusaha terlihat kuat. Namun, setelah pintu rumah tertutup, hatiku kembali terasa nyeri.
Aku bersandar pada daun pintu kemudian tubuhku merosot ke lantai. Dadaku sesak bukan main. Aku benar-benar tidak menyangka Mas Natan bisa berbuat sejahat ini kepadaku.
Menghianatiku yang terus mencintainya, walaupun akhir-akhir ini dia selalu menorehkan kekecewaan di hati. Kupukul dadaku, berharap rasa sesak ikut terhempas keluar. Aku menangis sesenggukan.
Niat awalku yang ingin segera menyusul Mas Natan ke Rumah Sakit, seketika menghilang. Aku tidak ingin melihat wajah lelaki itu. Aku meraih ponsel, dan mencoba menghubungi ibu.
Pada nada sambung ketiga, ibu langsung mengangkat panggilanku. "Na, kamu di mana?"
Aku berusaha mengatur suara agar ibu tidak tahu kalau aku sedang menangis. "Bu, aku lelah. Malam ini aku nggak bisa nyusul ke rumah sakit."
"Ya sudah, ini Bapakmu juga nyusul. Biar ibu yang pulang ke rumahmu."
"Baik, Bu."
...****************...
Jam menunjukkan pukul delapan malam, ketika ibu sampai di rumah. Aku membuatkan beliau teh dan menyiapkan makanan untuknya. Ibu tidak pernah bisa makan jika sedang menunggu kerabat yang dirawat di Rumah Sakit. Beliau selalu merasa pusing dan mual, setiap mencium aroma obat-obatan.
"Diminum, Bu. Tehnya."
Aku menyodorkan secangkir teh, dan sepiring nasi dengan ayam goreng dan sambal bawang di atasnya. Ibu menyesap teh yang aku buatkan, kemudian meletakkan kembali ke atas meja.
Aku terus menunduk, tak berani menatap ibu. Aku berusaha menyembunyikan sisa tangisku. Mataku mulai bengkak dan memerah. Ibu pasti akan langsung paham jika aku baru saja menangis dengan sekali lihat.
"Na, kamu kenapa dari tadi menunduk terus?"
"Nggak pa-pa, Bu. Kayaknya Nana salah posisi tidur. Susah digerakkan kepalaku."
Tiba-tiba ibu merangkum wajahku. Kini beliau bisa menatapku dengan leluasa. Aku membuang pandangan ke arah lain. Aku benar-benar tak sanggup melihat wajah ibu.
__ADS_1
"Na, kamu habis nangis?"
"Tadi pas pulang, kaca helm gabisa ditutup, Bu. Nana pake softlens tadi, sepertinya iritasi."
"Bohong! Ibu ingat betul kamu nggak pakai soflens tadi! Katakan, kamu kenapa!"
Aku memberanikan diri untuk menatap ibuku. Kutarik napas panjang, lalu mengembuskannya kasar. Aku meraih lengan ibuku, sehingga rangkumannya terlepas dari wajah tirusku.
"Bu, ijinkan aku bercerai."
"Na, sudah berapa kali, Ibu bilang? Allah ...."
Aku memotong ucapan ibuku. "Sangat membenci perceraian. Aku paham betul masalah itu, Bu. Tapi ... apa ibu membenarkan sebuah penghianatan?"
Ibu menautkan kedua alisnya. "Maksudmu?"
Bibirku gemetar. Lidahku seakan kelu karena tidak sanggup mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, aku harus tetap mengungkapkan semuanya pada ibu.
"Bu, Mas Natan membeli keperawanan seorang gadis," ucapku lemah.
"Na, apa maksudmu!"
"Kamu jangan bercanda, Na. Ini tidak lucu!" Ibu seakan tidak terima dengan apa yang aku ucapkan.
"Aku nggak bercanda, Bu. Gadis itu bernama Abel. Dia menjual keperawanannya pada Mas Natan."
Aku menatap ibu sambil bercucuran air mata. Hatiku terasa begitu nyeri, karena harus mengorek luka yang baru saja Mas Natan torehkan. Ibu terbelalak.
"Apa kamu punya bukti?" Sepertinya ibu masih belum percaya kepadaku, putrinya sendiri.
"Noda darah keperawanan gadis itu tertinggal di sprei, kalung dengan liontin inisial namanya, dan ...." Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar.
"Dia tadi datang ke sini lalu mengakui semua perbuatannya dengan Mas Natan."
Sontak air mataku bercucuran membasahi pipi. kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Ibu membawaku ke dalam pelukannya.
"Na, kalau memang ini adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan hatimu ... lakukan. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu."
"Terima kasih, Bu."
__ADS_1
Malam itu aku tidur meringkuk dalam dekapan ibu. Mencari kekuatan untuk kembali tegar menjalani hidup. Aku sudah memantapkan hati untuk berpisah dengan Mas Natan.
Kurasa ini adalah jalan satu-satunya agar bisa menjaga hatiku. Kesalahan lain Mas Natan, bisa kumaafkan dengan mudah. Akan tetapi, untuk penghianatan aku tidak akan pernah memaafkan apalagi melupakannya.
...****************...
Jam menunjukkan pukul 10:00 aku menatap satu amplop cokelat berisi dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan gugatan cerai. Hari ini Kantor Pengadilan Agama di daerahku tingga, terlihat begitu padat. Agaknya banyak yang mengajukan gugatan cerai.
Sebagian besar yang datang adalah perempuan. Pandanganku tertuju pada seorang perempuan muda yang sedang memangku seorang balita laki-laki. Aku mendekati perempuan itu, kemudian tersenyum lembut.
"Halo, adik ganteng. Mau coklat?" Aku menyodorkan tiga bungkus coklat berbentuk koin, yang dibungkus dengan kertas berwarna keemasan.
"Mama, boleh Claude makan cokelat?"
Balita menggemaskan itu mendongak, mentap sang ibu untuk meminta persetujuan. Perempuan cantik itu mengangguk sambil tersenyum.
"Boleh, tapi nanti Claude langsung sikat gigi setelah sampai rumah. Mengerti?"
Balita laki-laki bernama Claude itu mengangguk mantab. Dia menengadahkan tangan, kemudian menerima kepingan coklat yang kuberikan.
"Mau ajukan gugatan juga?" tanyaku ramah.
"Iya, Mbak. Bapaknya bocah sudah lama nggak pulang ke rumah. Kukasih kabar kalau anaknya demam saja nggak mau menengok."
Perempuan cantik berkulit putih itu menceritakan sekelumit alasan kenapa dia mengajukan cerai. Aku tersenyum kecut kemudian kembali menatap antrean loket yang masih penuh.
"Kamu nikah muda kayak aku, ya sepertinya?" tebakku asal.
Perempuan itu menatapku kesal, kemudian mengehela napas kasar. "Kecelakaan, Mbak."
"Kecelakaan?"
"Hehe ... hamil sebelum nikah, Mbak."
Aku tersenyum canggung. Pantas saja. Kurasa umurnya baru menginjak 20 tahun, tetapi memiliki putra berumur sekitar 3 tahun. Jaman sudah semakin gila.
Aku jadi membayangkan bagaimana generasi anak-anakku nantinya? Jika generasi muda sekarang saja begini. Melakukan hubungan badan sebelum sah menjadi suami istri.
Tunggu, anakku nanti? Aku tersenyum kecut. Sepertinya aku enggan merajut kasih lagi dengan seorang laki-laki. Biarlah luka ini sembuh dengan sendirinya. Aku enggan memikirkan menjalin hubungan kembali dengan lelaki.
__ADS_1