Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 19. Uangku!


__ADS_3

Aku langsung memesan ojek online untuk kembali ke rumah Mas Natan. Aku ingin menanyakan ke mana perginya uang-uang yang sudah aku kumpulkan selama dua tahun lebih itu. Jika dihitung-hitung, seharusnya ada sekitar 12 juta rupiah di dalam rekeningku. Namun, semuanya hilang dalam sekejap.


Tak lama kemudian seorang tukang ojek kembali menghampiriku dan aku langsung naik ke motornya. Sepanjang perjalanan pikiranku begitu campur aduk. Aku sungguh penasaran ingin tahu digunakan untuk apa uangku itu?


Aku juga berniat untuk memintanya kembali bagaimana pun caranya. Uang itu adalah uang yang aku sisihkan selama ini. Tak rela karena tiba-tiba Mas Natan mengambil semuanya tanpa menyisakan sedikit pun bahkan menggunakannya tanpa seijinku!


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, aku sampai di depan rumah Mas Natan. Aku menggedor pintu kasar sambil meneriakkan namanya.


"Mas Natan! Buka pintunya!" teriakku.


Telapak tangan serta ruas jariku mulai memerah. Namun, tak ada jawaban dari dalam sana. Aku mencoba untuk menelepon Mas Natan. Akan tetapi, sama sekali tidak ada jawaban.


"Angkat, Mas!" gerutuku sambil terus memasang telinga mendengar nada sambung yang terdengar.


Setelah mencoba menghubungi beberapa kali, barulah panggilanku dijawab. Namun, bukan Mas Natan yang mengangkatnya, melainkan ayah mertuaku.


"Pak, Mas Natan mana?"


"Untuk apa nyari-nyari Natan? Bukankah kamu sudah membuangnya?" suara mertuaku terdengar begitu ketus.


"Pak tolong berikan ponselnya pada Mas Natan! Aku mau bicara sama dia!"


"Dia nggak bisa bicara sekarang. Dia sedang menjalani terapi. Kalau ada urusan, tunggu saja di rumah, atau kamu datang ke rumah sakit!"


Sambungan telepon terputus. Aku mendengus kesal sambil mengusap wajah frustrasi. Aku memutuskan untuk menunggu di depan rumah, karena percuma jika menyusulnya ke sana.


Aku tahu betul sifat ayah mertuaku ini. Jika aku datang ke Rumah Sakit, sudah bisa dipastikan beliau akan memaki dan mempermalukanku habis-habisan di depan umum.


Satu jam berlalu, dan langit sudah berubah menjadi gelap. Aku menghela napas kasar, dan memutuskan untuk pulang dan kembali lagi besok. Aku beranjak dari kursi, meraih tasku, dan berjalan gontai keluar dari pekarangan rumah.


Baru saja melangkah keluar dari pagar, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Ayah mertuaku turun lebih dulu sambil membawa kursi roda. Beliau membuka lipatan kursi tersebut, dan tak lama ayah membuka pintu mobil lagi.


Lelaki paruh baya itu menggendong Mas Natan, kemudian mendudukkannya di atas kursi roda. Hatiku terasa nyeri melihat kondisi Mas Natan. Namun, segera kutepis. Aku kembali mengingat tujuan utamaku ke sini.


"Ada apa?" tanya Mas Natan dingin.

__ADS_1


Aku mengeluarkan kartu ATM serta struk saldo rekeningku. Aku menatap tajam ke arah Mas Natan dengan gigi yang saling beradu hingga menimbulkan suara.


"Mas, kamu ngambil uangku yang ada di ATM ini?"


"Memangnya kenapa?" tanyanya ketus.


"Itu hasil ngumpulin dari uang belanja yang Mas Natan kasih! Aku berencana menggunakannya untuk membayar kontrakan ini!"


"Ya, artinya ini uang aku juga dong!"


"Nggak gitu, Mas! Itu uang aku! Mas Natan udah ngasih uang belanja ke aku, artinya semuanya adalah hakku!" teriakku frustrasi.


Beberapa tetangga kami menatap penasaran. Aku baru sadar kalau sudah mengundang perhatian banyak orang. Aku menunduk penuh penyesalan.


"Maaf, Pak. Maaf, Bu," ucapku sembari terus menunduk.


Akhirnya aku mengajak Mas Natan untuk membicarakan hal ini di dalam rumah. Bapak mendorong kursi roda ke dalam rumah, dan aku mengikuti mereka. Sekarang kami duduk bersama di ruang tamu.


"Mas, kamu kok bisa tahu kata sandi kartu ATM-ku?" tanyaku penuh selidik.


"Gimana, ya? Kamu itu terlalu mudah ditebak, Na. Kita saling mengenal sudah lama. Bergelung dalam selimut yang sama sudah dua tahun lebih. Jadi aku sangat tahu kebiasaanmu!"


Aku tertegun. Apa yang dikatakan Mas Natan memang benar. Aku selalu menggunakan tanggal jadian kami berdua untuk semua akun sosial media, serta akun bank yang kumiliki. Hal itu kulakukan karena memang Mas Natan adalah cinta pertamaku.


"Jadi, Mas Natan pakai untuk apa uang-uang itu?" cecarku.


"Untuk apa, ya? Mungkin untuk menggantikan tugasmu sebagai seorang istri karena telah meninggalkanku waktu itu? Yah, anggap saja ini seperti hukuman untukmu karena tidak patuh kepada suami!" Mas Natan tersenyum miring, sembari menaikkan satu alisnya.


Seakan disambar petir di siang bolong mendengar ucapan Mas Natan. Lelaki itu ternyata menggunakan uangku untuk membeli keperawanan Abel? Kepalaku langsung berdenyut keras.


Aku mulai memijat kepalaku dan mencoba mengatur napas, agar emosiku tidak meledak. Inhale ... exhale .... Aku menghirup udara dalam kemudian membuangnya perlahan melalui mulut.


"Aku nggak nyangka Mas Natan setega ini! Aku mau Mas Natan mengembalikan uangku secepatnya!"


"Perhitungan sekali sama suami?"

__ADS_1


Darahku langsung mendidih mendengar ucapan Mas Natan. Apa dia tidak berkaca? Bukankah dia yang perhitungan terhadapku? Dia selalu mengungkit uang belanja sejak kedatangan Kaja. Aku sampai membuat laporan keuangan setiap harinya kepada Pak Sidik.


"Apa Mas Natan tidak keliru? Siapa di sini yang lebih perhitungan? Aku atau Mas Natan?" Aku tersenyum miring kemudian melirik motor yang terparkir di teras rumah.


"Kemarikan kunci motor!" Aku menengadahkan tangan sambil menggerakkan ujung jari meminta kunci motor Mas Natan.


"Untuk apa?" Mas Natan mengerutkan dahi.


"Aku mau ambil motor sebagai jaminan! Agar Mas Natan tidak seenaknya sendiri ketika harus mengembalikan uangku!" ucapku tegas.


"Kamu keterlaluan!"


"Aku nggak peduli, Mas. Mana kunci motornya! Sekalian BPKB-nya!"


Mas Natan mendengus kesal, kemudian pergi meninggalkanku, dan masuk ke kamar. Tak lama kemudian, Mas Natan menghampiriku dan melemparkan kunci motor ke atas meja.


"BPKB-nya ke mana?" tanyaku.


"Sekolah, biar pinter!" seru Mas Natan dengan nada ketus.


"Mas gadaikan di mana?"


Rasanya kepalaku seakan ingin meledak melihat tingkah suamiku ini. Kenapa bisa dia sampai menggadaikan BPKB motor? Untuk apa uangnya? Sepertinya suamiku ini menyimpan banyak hal yang sama sekali tidak kuketahui.


Mas Natan pandai sekali menyembunyikan semuanya! Aku meraih kunci motor kemudian beranjak dari sofa. Kutatap tajam lelaki di hadapanku ini.


"Berapa pinjaman yang kamu ambil, Mas?"


"Nggak banyak 1 juta belum termasuk bunga. Tapi aku memang tidak membayar bunga beberapa bulan. Mungkin sekarang jadi sekitar lima juta!" Mas Natan menunjukkan kelima jarinya kepadaku.


"Mas, kamu gila, ya? Aku nggak rela kalau sampai motor ini ditarik renternir atau semcamnya! Ini motor kenangan! Mas harus usaha lebih banyak supaya bisa segera melunasi hutang, dan menebus kembali BPKB motor ini!"


Aku keluar dari rumahitu, membanting pintu kasar, kemudian mulai melajukan motor. Kubelah jalanan dengan motor matic kesayanganku ini.


Setelah sampai di alun-alun, aku menghentikan laju motor. Aku duduk di sebuah bangku taman di pinggir alun-alun dengan pencahayaan minim. Kutenggelamkan wajah dalam telapak tangan, dan mulai menumpahkan air mata kekecewaan yang sudah kutahan hingga detik ini.

__ADS_1


"Mas Natan, kenapa kamu berubah? Dulu kamu merupakan pribadi yang apa adanya. Bahkan pantang bagimu untuk berhutang. Tapi apa ini? Kamu melakukan semua hal yang tidak pernah kamu lakukan semasa hidup. "


"Mbak, wedhang ronde? Anget-anget enak, loh!"


__ADS_2