Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 14. Bibit Pebinor


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 16:06. Aku meminta ibu untuk menjaga Mas Natan, sementara aku pulang ke rumah untuk bersih-bersih. Aku memilih untuk memesan ojek online daripada harus berdesakan di dalam kendaraan umum.


Jarak antara Rumah Sakit tempat Mas Natan dirawat, sampai rumah sekitar 30 kilometer. Jika ditempuh menggunakan motor, akan memakan waktu selama 30 menita


Setelah menunggu selama lima menit, sebuah motor yang tak asing menghampiriku. Aku terbelalak. Entah ini kebetulan atau sebuah kesengajaan, yang jelas ini semua merupakan skenario yang sudah diciptakan Sang Maha Kuasa.


Tukang ojek yang akan mengantarku ternyata adalah Lion. Aku mengerutkan dahi ketika mengetahuinya. Lion tersenyum ramah seperti biasa.


"Ayo, naik!" serunya.


Aku masih diam, mematung, dan enggan beranjak dari tempatku berdiri. Lion turun dari motor, kemudian menarik lenganku. Dia menatap ke arah langit.


"Sebentar lagi hujan. Kamu mau kehujanan di jalan?"


Aku ikut mendongak. Benar saja, langit terlihat begitu gelap. Angin dingin mulai berhembus. Kurasa sebentar lagi hujan pasti turun.


"Oke, bisa agak ngebut?"


Lion tak menjawab. Dia melangkah mendekati motor, kemudian menatapku. Lelaki itu memiringkan kepalanya, dan memintaku untuk naik.


"Naiklah! Kita pasti bisa segera sampai ke rumah, asal kamu segera naik ke motor!" serunya sambil tersenyum lembut.


Aku mendekat, dan Lion menyodorkan helm berwarna merah muda bergambar karakter Hello Kitty. Aku tersenyum simpul. Apa ini sebuah kebetulan lagi? Helmnya sama persis dengan milikku.


Aku langsung naik ke motor tanpa menunggu lebih lama lagi. Lion pun segera memutar tuas gas membelah jalanan yang mulai padat karena jam pulang kantor. Dia menyalip ke kanan dan kiri dengan gesit.


Titik air hujan mulai turun dan membasahi jalanan beraspal. Aroma tanah basah menguar dan menyapa indra penciumanku. Lion terus memutar tuas gasnya berusaha mencapai kecepatan maksimal.


"Pegangan yang erat! Aku mau ngebut. Kalau takut, merem aja!" teriak Lion di tengah rintik hujan yang semakin deras.

__ADS_1


Mau tidak mau aku melingkarkan lenganku pada perut Lion. Lelaki itu mengendarai motor seperti orang kesetanan. Jantungku berdegup semakin kencang. Tanpa sadar aku menahan napas. Bibirku komat-kamit terus mengucapkan istighfar.


Sesuai perintah Lion, aku yang mulai takut langsung memejamkan mata, dan mengencangkan pelukanku pada perut lelaki itu. Ketika memasuki kompleks perumahan, langit tak lagi sanggup menampung air hujan.


Hujan langsung turun begitu deras. Membanjiri jalanan beraspal. Lion dan aku langsung turun dari motor, lalu berlari ke teras untuk segera berteduh.


"Kamu tunggu di sini dulu, ya? Aku ambilkan handuk sama baju ganti."


Aku langsung masuk ke rumah setelah membuka kunci pintu. Lalu melangkah menuju kamar, mengambil handuk, dan juga pakaian Mas Natan untuk dipakai Lion. Setelah itu, aku kembali ke teras dan memberikan pakaian itu kepadanya.


"Kamu, ganti pakaian dulu, gih. Nanti kedinginan."


Lion melongo. Aku mengerutkan dahi karena lelaki di hadapanku ini tidak menerima pakaian kering yang aku sodorkan.


"Aku, ganti bajunya di mana?" tanya Lion dengan wajah kebingunan.


Aku berusaha memutar otak untuk mencari jalan terbaik bagi kami. Setelah berpikir sesaat, akhirnya aku meminta Lion masuk ke rumah dan berganti pakaian secepat mungkin. Sedangkan aku akan duduk di luar sambil menunggu dia selesai ganti pakaian dan keluar.


"Maaf, ya, merepotkan. Aku akan segera keluar."


Aku mengangguk, kemudian Lion masuk ke rumah. Aku mendaratkan tubuhku ke atas kursi, sembari memeluk tubuhku sendiri. Sesekali kuusap lengan atasku untuk mengusir rasa dingin yang menghujam.


Tubuhku mulai menggigil. Rasa dingin kini menusuk hingga ke tulang. Aku mengatupkan gigi erat karena tak sanggup lagi menahan dingin. Bibirku mulai gemetar.


"Na, sudah. Terima kasih, ya?" Lion keluar dari rumah.


Aku langsung berdiri, lalu masuk ke rumah untuk berganti pakaian. Aku tak mengucapkan sepatah kata pun karena sudah tidak bisa menahan dingin.


Setelah selesai berganti pakaian, aku menuju dapur untuk menyeduh teh. Kasihan juga kalau Lion tidak diberi minum. Pasti saat ini dia juga kedinginan sama sepertiku.

__ADS_1


"Diminum tehnya, Lion." Aku menyodorkan secangkir teh kepada Lion.


Lelaki itu tersenyum lembut, lalu mengambil alih cangkir berisi teh dari tanganku. Dia meniupnya pelan, sebelum menyesap air teh tersebut. Sebenarnya aku enggan berlama-lama bersama Lion.


Namun, aku bingung harus bagaimana. Rasanya tidak sopan jika meninggalkan dia sendirian di teras rumah. Akan tetapi, jika aku terus menemaninya pasti akan menimbulkan gosip aneh di kalangan ibu-ibu kompleks.


Warga kompleks ini memang terlihat tidak begitu peduli dengan urusan orang lain. Namun, aku yakin ketika mereka berkumpul, entah ketika sedang belanja, arisan, bahkan pengajian sekalipun pasti akan ada acara memakan daging saudaranya sendiri. Sebut saja dengan ghibah atau bergosip lebih mudahnya.


"Lion, aku ke dalam ya. Nggak enak kalau ada tetangga yang melihat," ucapku sembari tersenyum lembut. Lion pun mengiyakan dengan anggukan.


Aku masuk ke rumah lalu duduk di ruang tamu. Ternyata Winter dan juga White masih hidup dengan sehat. Aku mengamati dua hamster kesayanganku itu.


"Hai, kesayangan Emak! Apa kabar? Ternyata bapak merawat kalian dengan baik, ya?"


Aku mengajak dua makhluk menggemaskan itu berdialog. Walau tahu kalau mereka tidak mengerti, paling tidak aku merasa ada dua pasang telinga yang siap mendengar keluh kesah kami kapan saja.


Ketika asyik mengobrol dengan dua hamster lucu itu, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh tepat di pangkuanku. Mataku membulat sempurna ketika mengetahui apa yang sekarang ada di atas pahaku ini.


Seekor anak ular! Ukurannya masih sangat kecil, tapi tetap saja aku takut. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri agar ular ini tidak terkejut. Aku mengetuk kaca jendela, berharap Lion menyadarinya.


Aku terus mengetuk kaca jendela. Ular itu mulai merayap pelan ke arah perutku. Ketukan tanganku semakin cepat seiring gerakan hewan melata itu. Tak lama kemudian pintu terbuka dan dibanting kasar.


Lion langsung berlari ke arahku, lalu mengambil ular itu tanpa rasa geli sedikitpun. Lelaki itu membawa anak ular tersebut keluar rumah. Aku bisa bernapas lega sekarang. Akan tetapi, jemariku masih gemetar hebat.


Air mataku mengalir karena masih terkejut dengan apa yang barusan kualami. Lion kembali masuk, dan menghampiriku. Lelaki itu tiba-tiba merengkuh tubuhku, kemudian mengusap punggungku perlahan.


"Nggak pa-pa. Sudah kubuang, ularnya. Kamu yang tenang."


Berdosanya aku karena tidak menolak pelukan dari lelaki itu. Aku masih terlalu takut. Pelukan Lion memberikan perasaan aman dan nyaman terhadapku. Seketika aku merasa bersalah, karena sudah bersentuhan dengan lelaki selain suami dan bapakku.

__ADS_1


__ADS_2