
Perlahan aku melangkah mendekati Mas Natan. Kugenggam jemari kurusnya. Tangannya terasa hangat, tetapi terlihat begitu rapuh.
Tangan yang dulu kerap menggenggam jemariku, memberi pelukan, serta mengusap air mata, kini tak berdaya. Tak ada kekuatan di sana. Dadaku sesak melihatnya.
"Mas Natan. Maaf, apa aku datang terlambat? Apa aku masih bisa memiliki kesempatan untuk merawatmu? Apa Allah masih mengijinkan kita untuk tetap bersama?"
Tangisku tertahan. Sesak sekali rasanya melihat keadaan Mas Natan yang terkulai lemah tak berdaya. Satu hal yang aku sesalkan. Kenapa Mas Natan tidak jujur mengenai keadaannya?
Jika saja dia berterus terang, aku justru akan terus berada di sampingnya. Aku akan menyemangati Mas Natan dan menemaninya berjuang melawan penyakit ganas ini.
"Mas, bangun! Apa Mas Natan tidak ingin mengucapkan sesuatu kepadaku? Bukankah Mas Natan seharusnya meminta maaf kepadaku?" Air mataku mulai meluncur membasahi pipi.
"Kak, sebaiknya Kak Nana pulang. Bukankah besok harus bekerja."
"Aku mau menemani Mas Natan malam ini. Siapa tahu setelah ini dia mau kembali membuka mata?"
"Kak, kemungkinannya untuk kembali membuka mata sangatlah kecil!"
Hatiku seakan terbakar mendengar ucapan Lion. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Bukankah seharusnya Lion berdoa yang terbaik untuk kakaknya?
"Tutup mulutmu!" seruku sembari menatap tajam Lion.
Aku mendekati lelaki bermata hijau itu, mencengkeram kerah kemejanya, kemudian merapatkan gigi kuat-kuat. Lion terlihat salah tingah dan membuang muka.
"Bukankah kamu seharusnya berdoa dan mengucap kesembuhan untuk Kakakmu? Kenapa ucapanmu terdengar pesimis? Semua masih bisa diusahakan, Lion!"
"Kak, kenyataannya tidak seperti itu! Dokter memvonis umur Kak Natan nggak lama lagi!"
Darahku terasa mendidih mendengar ucapan adik iparku ini. Kenapa lelaki menyebalkan ini mendahului kehendak Allah? Tanpa sadar, aku melayangkan tangan ke udara kemudian mendaratkannya tepat di pipi Lion.
Wajah Lion sampai berpaling. Pipi mulusnya kini terlihat sedikit merah. Lelaki itu perlahan kembali menatapku sambil mengusap pipi.
"Lion, apa kamu yakin sudah melakukan semua yang bisa diusahakan? Apa kamu tidak percaya dengan kekuatan doa? Kita masih punya Allah! Kita memiliki Tuhan Yang Maha Kuasa. Kun fayakun!"
Mataku terasa panas. Pandanganku pun mulai buram karena air mata yang berdesakan. Aku menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.
"Aku akan kembali lagi besok! Jangan pernah mengatakan hal konyol seperti tadi! Aku sangat membenci hal itu!"
Aku melangkah keluar ICU kemudian membanting pintu kasar. Aku berniat untuk menarik kembali gugatan cerai yang hampir memasuki sidang. Aku ingin menghabiskan sisa umurku bersama Mas Natan. Menemaninya dalam keadaan terendah sekali pun.
...****************...
__ADS_1
Dua orang perempuan di balik loket ini tengah menatapku bingung. Mereka saling sikut dan sesekali saling berbisik. Tak lama kemudian salah satu di antaranya mulai buka suara.
"Baiklah, Bu kalau begitu. Jika nanti pihak kami sudah selesai mengurus semua administrasinya, kami akan segera mengirimkan surel pada Ibu."
"Saya tunggu, ya?" Aku mengulurkan tangan dan disambut oleh keduanya.
Aku langsung beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan tersebut. Baru saja berjalan beberapa langkah, ponselku berdering. Saat mengintip layar benda pipih itu, aku mengerutkan dahi.
"Lion?" Kugeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponselku pada telinga.
"Cepat ke rumah sakit!"
"Ada apa?"
"Kak Natan ...."
Aku tak bisa lagi mendengar ucapan Lion. Duniaku berubah gelap. Aku tersungkur di atas lantai.
...****************...
"Na, Nana ...."
Aku merasa pipiku ditepuk pelan. Suara lembut ibu menyapa pendengaranku. Perlahan kubuka mata. Mataku mengerjap menyesuaikan pupil dengan cahaya yang masuk ke mata.
Aku berusaha mengumpulkan kesadaran. Kembali mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Mataku kembali terbelalak. Aku meronta.
"Mas Natan gimana, Bu? Mas Natan gimana?" Aku terus berteriak histeris.
"Sabar, yang tenang, Na." Ibu merengkuh tubuhku dan berusaha menenangkan aku.
"Bagaimana aku bisa tenang setelah mendapat kabar seperti itu? Aku masih ingin terus bersama Mas Natan! Aku bahkan hari ini mencabut gugatan cerai!"
"Benarkah?" Ibu terbelalak.
"Bagaimana hatiku, Bu? Sakit sekali rasanya! Aku tidak terima! Mas Natan harus bangun dan menjelaskan semuanya! Dia berhutang maaf karena telah membohongiku!" Aku terus berteriak sambil menangis.
Sesak sekali rasanya mendapati kenyataan ini. Mas Natan divonis koma, dan tidak akan terbangun lagi karena fungsi otaknya semakin lemah. Dokter mengatakan bahwa hidup Mas Natan bergantung pada semua alat yang saat ini menempel pada tubuhnya.
"Na, kamu harus ikhlas. Kasihan Natan kalau terus begini. Dokter sudah angkat tangan. Kondisi Natan sudah tidak bisa diharapkan lagi."
"Masih ada kekuatan doa, Bu!" Aku terus menyangkal ucapan ibuku. Aku terus menolak kenyataan.
__ADS_1
"Na, kamu harus ikhlas. Ayo lihat Natan sekali lagi. Maka, kamu akan menemukan keikhlasan di sana."
"Nggak mau! Dia berhutang kata maaf padaku, Bu!"
"Dia sudah meminta maaf."
Aku terdiam. Ibu mengeluarkan secarik kertas dari kantongnya, dan menyodorkannya padaku. Kutatap nanar surat itu.
"Buka dan bacalah!"
Tanganku gemetar ketika meraih kertas itu, kemudian membuka perlahan lipatannya. Air mata tak hentinya menetes saat membaca surat itu. Aku menangis tergugu di atas ranjang. Ibu merengkuh tubuh, kemudian menepuk pelan punggungku.
"Bagaimana? Ikhlaskan Natan pergi, Na. Dia tidak bisa terus begini. Kasihan."
"Lalu bagaimana denganku, Bu!" Aku terus menangis dan memukul dadaku yang terasa begitu sesak.
"Kesedihanmu hari ini pastinakan sembuh seoring berjalannya waktu. Ayo lihat keadaan Natan sekaranh, dan ambil keputusanmu."
Aku turun dari ranjang kemudian melangkah menuju ruang ICU dengan dipapah oleh ibu. Sesampainya di ruangan itu, jiwaku kembali terguncang. Benar kata ibu, jika terus tergantung pada alat-alat itu kasihan Mas Natan.
"Baiklah, aku ikhlas Mas Natan pergi."
Ibu memelukku erat, terus menguatkan. Tak lama kemudian seorang dokter dan beberapa perawat mulai masuk dan melepas semua alat bantu yang menempel pada tubuh Mas Natan.
PIIIPPP ....
Monitor pendeteksi detak jantung berubah. Awalnya seperti sandi rumput, kini menjadi satu garis lurus dengan suara dengung yang memekakan telinga.
Aku sudah mengikhlaskan Mas Natan pergi. Semoga ini menjadi jalan terbaik untuk kita, Mas. Aku akan terus mencoba tetap kuat! Selamat jalan Mas Natan. Semoga Allah mempertemukan kita di surga.
...----------------...
Teruntuk perempuan yang paling aku cintai,
Nana, maaf telah membuat hatimu kecewa karena ketidakjujuranku. Aku benar-benar menyesal karena telah mengingkari salah satu janji yang kuucap. Aku ingkar karena telah banyak menciptakan kebohongan untukmu.
Aku mengidap kanker dan baru mengetahuinya sebulan terakhir. Aku memang bodoh karena banyak membuatmu kecewa. Tidak jujur dengan apa yang kualami. Aku bahkan melakukan sandiwara konyol yang berujung penyesalan.
Setelah surat gugatan itu sampai ke tanganku, aku justru merasa sangat terpukul. Padahal aku ingin kamu meninggalkanku, karena aku paling tidak bisa meninggalkanmu. Walaupun pada akhirnya aku harus pergi selama-lamanya dari sampingmu karena penyakit ini.
Na, maafkan aku. Maaf belum bisa membuatmu bahagia. Maaf karena tidak bisa jujur sampai akhir. Ketika kamu membaca ini, kamu harus mengikhlaskan aku pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Salam sayang,
Mas Natan-mu.