
"Mbak, Wedhang Ronde! Anget-anget, enak!"
Aku dapat mendengar jelas suara laki-laki yang kukira penjual Wedang Ronde sedang menawariku dagangannya. Aku masih terus menenggelamkan wajah ke dalam kedua telapak tangan.
"Nggak! Pergi sana, Mas! Aku nggak mau beli!" usirku.
"Loh, saya nggak nyuruh Mbak Nana beli lo ini? Saya mau kasih Mbak Nana gratis!"
Sontak aku berhenti menangis, bagaimana bisa penjual minuman tradisional inibtahu namaku? Aku mengerutkan dahi, kemudian mendongak. Kalian tahu siapa yang ada di hadapanku sekarang? Ya benar! Lagi-lagi Lion datang kepadaku. Seakan-akan dia mengetahui bahwa hatiku sedang begitu kacau, dan butuh teman untuk berbagi cerita.
"Sumpah! Kamu kok bisa tahu aku di sini?" tanyaku heran sambil mengusap air mata.
"Nih, minum dulu!" Lion menyodorkan semangkuk kecil Wedang Ronde kepadaku.
Aku mengulurkan tangan, menerima mangkuk kecil tersebut, lalu menghirup aroma jahe dan serai yang tercium kuat dari kuah minuman tradisional ini. Aku mulai meniupnya dan menyeruput perlahan. Keronggokanku langsung terasa hangat karena minuman ini.
"Kebetulan aja. Aku tadi habis mengantar pelanggan dekat sini. Jadi, mampir sekalian ke alun-alun buat cari minuman ini."
"Kebetulan, ya ...." Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis.
"Mungkin," jawab Lion singkat.
"Aku penasaran, apa rencana Tuhan di balik kebetulan-kebetulan yang terjadi pada setiap pertemuan kita," ucaplu sambil tersenyum tipis.
Aku menerawang jauh, menatap langit dengan kemerlap bintang. Terlalu banyak kebetulan yang terjadi. Setiap aku bertemu dengan Lion, kondisi hati dan perasaanku pasti sedang tidak baik.
"Kamu tahu Lion? Setiap Tuhan mempertemukan kita dalam sebuah kebetulan, hatiku saat itu sedang begitu kacau dan carut marut." Aku menatap Lion sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
"Memangnya kali ini kenapa lagi?" tanya Lion antusias.
Aku menghela napas kasar kemudian menatap lurus ke depan. "Uang yang aku kumpulkan raib, dipakai oleh Mas Natan untuk menikmati tubuh seorang gadis."
Entah mengapa aku dengan mudahnya menceritakan keburukan Mas Natan kepada Lion. Namun, tidak apalah. Aku sedang butuh teman berbagi cerita. Tidak mungkin jika aku menceritakan hal ini kepada orang tuaku. Mereka bisa kebakaran jenggot, terutama ayah.
"Kurang ajar sekali dia! Masih lama kah proses perceraianmu?" tanya Lion menggebu-gebu.
"Sedang dalam antrian. Bulan depan baru masuk persidangan. Kenapa?" Aku tersenyum kecut sambil menatap Lion.
"Semoga cepet kelar, ya? Aku nggak rela lihat kamu terus disakiti sama Natan."
Aku mengerutkan dahi. Kenapa lelaki ini nggak rela? Kami bahkan baru saling kenal? Dia bukanlah tetangga atau pun saudara. Apa jangan-jangan dia menyukaiku?
Menyadari pemikiran konyol ini membuatku tersipu. Bisa-bisanya aku berpikir terlalu jauh. Mungkin Lion menanyakan hal itu karena peduli kepadaku.
Aku langsung menanyakan alasannya. Aku paling tidak bisa menahan sesuatu yang membuat hatiku merasa mengganjal. Apa yang ingin kuketahui, harus terungkap detik itu juga.
"Ah, itu ... karena ...." Ucapan Lion menggantung di udara. Dia membuang pandangan, lalu menyugar rambut.
"Karena?" cecarku lagi.
Lion berdeham tiga kali, lalu menatapku sambil tersenyum lembut. "Karena aku tidak bisa melihat seorang perempuan menangis. Aku memiliki pengalaman pahit di masa lalu."
Lion memasukkan bulatan kenyal berisi remahan kacang tanah itu, kemudian mengunyahnya perlahan. Mata Lion menerawang jauh menatap langit gelap berhiaskan bintang.
"Sewaktu kecil, ibuku diam-diam menangis setiap malam. Suaranya begitu memilukan. Hal itu berlangsung setiap hari." Lion menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
__ADS_1
"Seiring berjalannya waktu, semakin bertambah dewasa, aku tahu alasan ibu menangis."
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Ayahku. Aku tak ingin menceritakan detailnya, yang jelas ayahku selalu bertindak semaunya dan menganggap ibu tidak ada. Selalu mengambil banyak keputusan tanpa melibatkan ibuku. Sebagian besar keputusan yang diambilnya, membuat kondisi finansial keluarga kami memburuk, dan berakhir dengan kebangkrutan."
"Lalu ... di mana ibumu sekarang?"
"Sudah meninggal, tak lama setelah kami kembali ke Finlandia."
"Lalu kenapa kamu kembali ke sini?" tanyaku.
"Karena sebuah misi rahasia," ucap Lion sambil terkekeh.
"Misi?"
"Iya, sudahlah jangan dibahas lagi. Cepat habiskan dan segera pulang! Bukankah besok kamu mulai bekerja?"
Aku kembali terbelalak. Bagaimana bisa lelaki di hadapanku ini mengetahuinya? Dia seperti seorang sutradara yanh mengetahui alur cerita sebuah film.
"Kok, bisa tahu?" tanyaku heran.
"Haha, bukankah kamu bercerita mengenai hal ini ketika kita pindahan?"
Aku mengerutkan dahi, berusaha mengingat lagi kapan aku menceritakan hal ini kepada Lion. Tapi aku tak menemukan jawaban. Lagi pula aku baru mendapatkan kabar untuk bekerja tadi. Harusnya Lion tidak mengetahui hal ini.
Ada sesuatu yang Lion sembunyikan dariku. Rasanya aneh sekali, Lion bisa mengetahui semua hal yang terjadi di sekitarku. Namun, aku mencoba mengabaikannya dan menganggap semua ini hanyalah tebakan asal Lion yang kebetulan tepat.
__ADS_1