Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 22. Sedikit Kebenaran Tentang Lion


__ADS_3

Aku hendak keluar dari kantor setelah menyelesaikan urusan administrasi. Miya sudah pergi beberapa menit yang lalu, setelah menerima panggilan dari desainer yang bertanggung jawab atas rancangan busana butiknya. Saat membuka pinrmtu kantor, aku mendengar Hana sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


"Iya, dia udah mulai kerja hari ini, Kak. Kakak kenapa sih, repot-repot bantu dia terus!"


Aku menghentikan langkah, dan bersembunyi lagi di balik pintu. Aku sengaja membuka sedikit pintu ruang kerjaku, karena ingin mendengarkan percakapan antara Hana dengan orang tersebut. Aku memiliki firasat kalau mereka sedang membicarakan aku.


"Sopan, sih. Cantik juga, tapi aku nggak suka lihatnya! Kak Lion menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan uang demi dia!"


Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar nama Lion disebut. Aku harap yang sedang berbicara dengan Hana adalah Lion yang lain. Bukan Lion yang aku kenal. Aku terus menajamkan pendengaran.


"Kak, kita kembali ke sini untuk menemui Papa dan juga ...."


Telepon di meja kerjaku berdering. Sontak Hana menatap ke arah kantor dan menangkap basah aku yang sedang menguping. Aku jadi salah tingkah dan mencari alasan yang tepat untuk berkilah.


"Kamu nguping pembicaraanku?" Hana menatapku tajam sambil berkacak pinggang.


"Eh, nggaklah! Aku baru mau keluar tadi! Bentar, aku angkat telepon!"


Aku langsung menuju meja kerja dan mengangkat panggilan. Ternyata telepon itu berasal dari Miya. Dia mengabarkan bahwa menemukan sesuatu dari kamera CCTV yang ada di mobilnya.


"Boleh kirimkan aku videonya?" pintaku.


"Baiklah. Aku kirim lewat email saja, ya?"


"Oke, aku tunggu."


Aku mematikan sambungan telepon, kemudian mulai mengecek surel (surat elektronik) yang dikirimkan oleh Miya. Sebuah file dengan format video masuk ke alamat surel-ku. Aku menelan ludah kasar, sebelum menekan tombol putar berbentuk segitiga.

__ADS_1


Tampak seorang siswi SMA datang ke butik. Gadis itu masih menggunakan seragam putih abu-abu ketika berkunjung ke butik Miya. Dia keluar masuk ke butik beberapa kali. Bodohnya, gadis itu mengumpulkan hasil curiannya di belakang mobil milik Miya.


Aku menyipitkan mata, berusaha mengenali siapa perempuan tersebut. Seketika aku terbelalak. Dia adalah Abel! Gadis yang menjual keperawanannya kepada Mas Natan.


Aku meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, dan menghubungi Miya. Aku mengatakan semua mengenai Abel. Aku juga berniat untuk menemui gadis itu.


"Boleh, nanti kita datangi rumahnya!" seru Miya dari ujung telepon.


"Aku akan menanyakan alamatnya pada Mas Natan. Dia pasti tahu di mana gadis bukan perawan ini tinggal!" seruku penuh emosi.


"Oke, aku tunggu kabar baikmu!"


Setelah Miya mematikan sambungan telepon, aku langsung menghubungi Mas Natan. Lelaki itu mengangkat telepon dengan cepat. Suaranya terdengar serak. Agaknya kondisi kesehatan Mas Natan memburuk.


"Ada apa?"


Terdengar Mas Natan menghela napas kasar. "Kamu tuh, kenapa dengan Abel? Sudahlah, nggak usah ganggu dia! Jangan takut uangmu nggak aku balikin!"


"Bukan masalah uangku, Mas! Gadis kurang ajar itu mencuri di butik Miya, tempat aku bekerja!"


"Oh." Nada bicara Mas Natan turun.


"Jadi, dia tinggal di mana?" cecarku lagi.


"Dia tinggal di ...."


Mas Natan menyebutkan alamat Abel, dan aku mencatatnya di atas selembar kertas. Setelah selesai aku menutup sambungan telepon.

__ADS_1


...****************...


Sepanjang perjalanan menuju rumah Abel, aku dan Miya mencoba memikirkan hukuman apa yang pantas untuk Abel. Jika dia dilaporkan pada pihak berwajib, kami berpikir mengenai perasaan orang tuanya.


"Nanti kita bicarakan saja setelah bertemu dengan Abel dan juga orang tuanya, Ya. Kita nggak tahu alasan di balik gadis itu melakukan banyak perbuatan bodoh dan rendahan untuk mendapatkan uang."


"Baiklah. Makasih ya, Na. Kamu benar-benar bisa mengimbangi emosiku yang begitu meledak-ledak ini."


"Nggak masalah, Miya. Bukankah Allah mempertemukan kita sebagai sahabat karena hak ini?" Aku tersenyum tipis sambil menatap lembut sahabatku ini.


"Coba kamu cowok, Na. Udah kukawinin kamu dari dulu!" seru Miya sambil terkekeh.


"Dih, ogah! Kalau aku cowok, nggak bakalan mau aku nikah sama cewek tukang ngambek kayak kamu!" Aku mencembikkan bibir, sengaja meledek Miya.


"Siapa bilang aku tukang ngambek!" Miya mengerucutkan bibir kemudian kembali fokus memperhatikan jalanan.


"Itu namanya bukan ngambek, Shay?" tanyaku sambil tertawa lepas.


Aku enggan memperpanjang rentetan candaanku lagi. Bisa-bisa aku langsung dipecat olehnya jika terus melakukan hal itu. Tiba-tiba aku teringat mengenai pembicaraan Hana dengan seseorang bernama Lion.


"Oh ya, Miya. Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Hem, tanya apa?" Miya melirikku sekilas, lalu kembali menatap jalanan.


"Apa kamu mengenal Lion?"


Raut wajah Miya berubah panik. Perempuan di sampingku ini mengerem mobil secara mendadak. Tubuhku sampai terbanting ke depan. Jika saja tidak memakai sabuk pengaman, bisa dipastikan dahiku yang lebar ini memar karena terbentur dashboard mobil .

__ADS_1


"Miya, kamu kenapa, sih!"


__ADS_2