
Tubuhku seakan tak bertulang usai mendengar penjelasan dari Abel. Aku menatap gadis itu penuh rasa tak percaya. Seakan mengerti isi kepalaku, kini Abel menyodorkanku sebuah pesan Whatsapp yang menunjukkan sebuah foto.
"Mas Natan!" Mataku membulat sempurna. Bibirku pun menganga lebar tak percaya dengan penglihatanku sendiri.
Mas Natan sedang terbaring lemah di atas brankar dengan bantuan ventilator untuk bernapas. Bahkan dia terlihat menutup mata. Entah sedang tertidur atau pingsan.
Tanganku gemetar menyaksikan foto tersebut. Hampir saja ponsel Abel terjatuh jika gadis itu tak sigap menangkapnya. Aku menatap tak percaya ke arah Abel.
"Aku nggak bohong, Mbak. Mas Natan pun dirawat di sini. Mbak mau kuantar ke sana?"
"Ng-nggak! Mungkin lain kali." Aku langsung beranjak dari sofa.
"Mbak? Mau pulang sekarang?" tanya Abel setengah panik.
"Iya. Salam, ya buat Ibu kalau sudah bangun. A-aku pulang dulu!"
Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan tersebut. Aku melangkah secepat yang aku bisa untuk sampai ke dalam lift.
Begitu pintu tertutup, tubuhku limbung. Untungnya ada dinding lift yang berhasil menopangku. Tubuhku berhasil merosot ke atas lantai. Aku menangis sesenggukan. Ada sebuah perasaan kecewa.
__ADS_1
Kecewa terhadap diriku sendiri yang enggan membuka mata serta mencari tahu lebih banyak mengenai Mas Natan. Memang sikapnya aneh, selama beberapa hari sebelum aku menggugatnya. Seperti sengaja melakukan semuanya.
Mas Natan seperti sengaja membuatku frustasi hingga berakhir dengan pengajuan gugatan cerai ke pengadilan. Air mataku mengalir deras membanjiri pipi. aku menenggelamkan wajah yang sudah basah kuyup ke dalam telapak tangan.
Aku berniat untuk segera menemui Lion setelah libur tiba. Kuhapus air mataku, kemudoan berdiri perlahan. Seakan Allah hendak mengungkapkan semua kebenaran detik ini juga. Ketika pintu lift terbuka, di hadapanku sudah berdiri tegap lelaki yang ingin aku temui.
"Nana! Ka-kamu ngapain di sini?" tanya Lion dengan mata terbelalak.
"Bukan urusanmu!" seruku ketus kemudian melewati tubuh tegap lelaki tampan itu.
"Aku ingin menjenguk Natan. Kamu mau ikut?"
"Ayo, ikut aku!"
Sejujurnya aku ingin sekali bertemu dengan Mas Natan. Namun, kenapa kakiku seakan terpaku di atas lantai? Berat sekali rasanya untuk kembali mengikuti Lion.
Aku masih belum bisa mempercayai apa yang lelaki ini ucapkan. Akan tetapi, jika aku tidak memastikan sendiri, siapa yang bisa kupercaya lagi saat ini? TIDAK ADA!
Perlahan aku mendekati Lion dan mengekor di belakangnya. Setelah kami masuk ke dalam lift, dan pintunya tertutup, Lion langsung menekan tombol bertuliskan angka 6. Kami hanya diam tanpa kata. Lion pun enggan buka suara.
__ADS_1
Denting benda pengangkut ini pun berbunyi dan pintu terbuka. Lion melangkah keluar dari lift dan aku mengekor di belakangnya. Lorong sepi lantai 6 membuat jantungku berdegup semakin kencang.
Aku benar-benar ketakutan. Berbagai pikiran buruk hinggap di dalam kepala. Aku takut kalau yang sudah diceritakan oleh Abel, semuanya adalah sebuah fakta yang sengaja disembunyikan oleh Mas Natan.
Lion berhenti di sebuah kamar yang kuketahui itu adalah ruang ICU. perlahan dia memutar tuas pintu. Di dalam ruangan itu suasana terlihat gelap. Hanya ada sebuah ranjang dengan sedikit penerangan di atasnya.
Semakin mendekati brankar tersebut, jantungku berdetak semakin cepat. Kakiku seketika lemas saat mengetahui siapa yang terbaring lemah di atas ranjang pasien itu. Mas Natan!
Kondisinya benar-benar menyedihkan. Kepalanya licin, tanpa rambut sehelai pun. Matanya tertutup rapat. Bibir Mas Natan terlihat begitu pucat dan kering. Banyak sekali alat bantu yang dipasang pada tubuhnya.
"Kondisinya langsung memburuk begitu mengetahui kamu mengajukan gugatan cerai waktu itu," ucap Lion.
Isak tangisku tertahan. Ingin sekali aku berteriak detik itu juga. Namun, seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokanku untuk mengeluarkan suara. Sesak sekali rasanya.
"Maaf sudah membohongimu, Na. Tapi semua ini keinginan Natan! Si bodoh ini benar-benar tak mau kamu mengetahui semuanua!"
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku dengan suara gemetar.
Aku menatap tajam ke arah Lion. Lelaki itu terlihat menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Lion menatapku sendu.
__ADS_1
"Sebenarnya ...."