Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 30. POV Abel: Natan


__ADS_3

Dua hari sebelum Natan kecelakaan ....


Aku menatap nanar ibu yang terduduk lesu di atas ranjang. Semakin hari badannya semakin kurus. Cahaya matanya berubah sayu sejak menjalani hemodialisis karena gagal ginjal yang beliau derita. Sebulan sekali aku harus mati-matian membujuknya agar mau diajak ke rumah sakit.


"Bel, ibu nggak pa-pa. Nggak perlu cuci darah atau yang lain!" sanggahnya sambil melipat lengan di depan dada.


"Bu, Ibu jangan keras kepala!" teriakku frustrasi.


Entah ini penolakan ibu yang keberapa setiap jadwal cuci darah. Aku harus menunggunya lemas, baru bisa membawa beliau ke Rumah Sakit. Begitu pula hari ini.


Sudah terlambat dua hari ini. Harusnya kemarin lusa aku membawa ibu ke Rumah Sakit. Namun, karena kendala biaya aku jadi tidak bisa membawa beliau tepat waktu. Giliran ada uang, justru ibu ngambek tidak mau berangkat cuci darah.


Sudah bisa dipastikan tim medis akan memakiku habis-habisan. Tahu apa mereka? Kondisi keuangan sulit menjadi penghambat utama untuk kalangan kelas bawah seperti kami. Semua orang sakit pasti ingin sembuh.


Aku yakin ibu juga ingin lekas sembuh. Namun, butuh biaya lebih bukan agar tetap hidup? Aku mendengus kesal. Berusaha menenangkan otot serta syarafku agar tidak tegang. Kupijat lembut kepala yang mulai berdenyut.


"Bu, kita ke rumah sakit sekarang, ya? Biar Ibu kembali segar. Kalau melewatkan jadwal cuci darah bisa lemas Ibu nanti." Aku terus berusaha membujuk ibu.


Namun, bukan Bu Runi namanya kalau penurut. Bisa kalian bayangkan bagaimana keras kepalanya ibuku ini ketika sehat? Saat sakit saja dia sukses berperan sebagai 'Tukang Ngeyel', apalagi ketika sehat? Auto tiap hari geleng kepala sambil mengelus ginjal!


"Bu, Ibu udah pucat banget itu!"


"Dih, nggak! Mana ada! Nih, Ibu masih kuat berdi--"


Ibu mencoba bangkit dari ranjang dan langsung berdiri tanpa tumpuan. Hasil akhirnya kalian bisa tebak! Ibu malah jatuh dan tersungkur di atas lantai. Sontak aku berteriak panik dan membantu ibu kembali berbaring ke atas ranjang.


"Bu, tuh kan mulai lemas! Kita ke rumah sakit sekarang!" Aku segera berlari ke luar rumah, untuk mencari bantuan.


Oh ya, sebenarnya aku tinggal di sebuah kompleks perumahan mewah. Bukan karena aku ini anak orang kaya. Bukwn! Aku bisa tinggal di kompleks perumahan elit karena dulu ibuku enggan menjual tanah kepada pihak kontraktor. Jadi, rumah kami terlihat begitu kontras jika dibandingkan dengan rumah lain yang ada di dalam kompleks.


Aku terus mempercepat langkah dan mengetuk hampir semua pintu yang ada di gang tempatku tinggal. Namun, tak ada yang mau membukakan pintu untukku. Ketika ada yang mau membuka pintu, justru cacianlah yang aku dapatkan. Mereka bilang aku mengganggu jam tidur siang mareka.


Tinggal satu rumah yang belum aku datangi. Rumah itu tepat berada di sampingku. Kabarnya si pemilik jarang ada di rumah. Jadi, aku menempatkannya pada opsi terakhir.

__ADS_1


Tanganku gemetar ketika menekan tombol putih yang ada di luar pagar. Setelah tiga kali memencet bel, barulah seorang laki-laki paruh baya dengan memakai seragam satpam keluar.


"Ada apa, Mbak?" tanyanya ramah.


"Pak, bo-boleh saya minta tolong? Ibu saya sakit, dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Bisa minta tolong antar kami? Kalau pakai taksi online takutnya lama."


"Waduh! Sebenarnya saya bisa saja bantu. Tapi, saya ijin dulu ke majikan saya, ya?"


"Ba-baik, Pak. Terima kasih!" seruku sembari membungkukkan badan berulang kali.


Tak lama kemudian pintu gerbang rumah itu terbuka lebar. Sebuah mobil Mercy keluar dari kandangnya. Seorang lelaki muda keluar dari sana dan mulai melajukan mobil mendekatiku. Lelaki itu membuka kaca mobil kemudian melambaikan tangan, aku pun melangkah mendekat ke arahnya.


"Rumahmu, di mana?" tanya lelaki itu.


"Itu Pak, di samping persis rumah Panjenengan," ucapku sambil menunjuk gubuk reyotku dengan jari jempol.


"Oh, baiklah!"


Lelaki itu memintaku naik ke mobil, tetapi aku menolaknya halus. Aku memilih untuk segera berlari ke dalam rumah dan menyiapkan keperluan ibu, kemudian segera mengajaknya pergi ke Rumah Sakit.


...****************...


"Kok nggak langsung pulang, Pak?" tanyaku.


"Ah, aku ada jadwal kontrol juga hari ini. Oh ya, panggil aku Mas Natan saja. Aku tidak biasa dipanggil Pak." Mas Natan tersenyum tipis.


Ah, jantungku yang kurang ajar ini berdetak lebih cepat karena senyumannya! Sial!


"Oh ya, tadi itu rumah adik-adikku. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan bilang saja sama mereka."


"Baik, Mas. Terima kasih!" seruku sambil tersenyum lebar.


Sejujurnya aku begitu tertarik dengan lelaki tampan di hadapanku ini. Dia terlihat begitu cemerlang dan tampan. Namun, ada yang aneh. Lelaki ini terlihat sedikit lebih pucat dari manusia normal lainnya.

__ADS_1


"Oh ya, Mas Natan mau kontrol juga? Memangnya sakit apa?" tanyaku penasaran.


"Kanker paru-paru."


Aku mengerutkan dahi sambil menyipitkan mata. Aneh sekali rasanya orang mengidap kanker paru-paru tapi bisa setenang ini. Namun, dilihat dari kondisi tubuhnya memang terlihat sekali kalau dia kurang sehat.


"Kenapa bisa dia setenang ini ketika mengidap penyakit mematikan?" gumamku yang tanpa aku sadari terdengar oleh Mas Natan.


"Aku sudah pasrah. Aku berobat hanya untuk memperpanjang hidup. Aku bahkan tidak memberitahu istriku kalau sedang sakit. Agar dia tidak merasa terbebani."


Aku terbelalak mendengar pengakuannya. Namun, setelah dipikir lagi mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan diam-diam pergi dari orang yang kusayangi agar tidak ada kesedihan yang tertinggal di hati mereka nantinya.


"Ya sudah, Mas. Langsung periksa saja, lekas sembuh!" seruku sambil mengepalkan tangan dan meninju udara.


Mas Natan tersenyum sekilas, kemudian berlalu meninggalkanku menuju ruang konsultasi dokter khusus paru-paru. Aku pun kembali fokus pada ibu dan masuk ke dalam ruangan untuk menemani beliau.


Keesokan harinya aku datang ke kediaman Mas Natan. Dia bilang akan memberikanku sejumlah uang untuk biaya cuci darah beberapa bulan ke depan. Ketika aku mengetuk pintu tak ada jawaban.


Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba masuk. Saat kubuka tuas pintu, ternyata tidak dikunci. Aku memanggil nama Mas Natan berulang kali, dan masih belum ada jawaban. Sampai akhirnya aku mendengar suara orang yamg sedang batuk dari kamar.


Aku membuka pintu kamar yang sedikit terbuka, dan seketika terbelalak saat melihat Mas Natan terkulai lemah di samping ranjang.


"Mas Natan!" teriakku dan langsung menghampirinya yang sudah lemas di tepi kasur.


Mulut Mas Natan mengeluarkan banyak darah sampai mengotori seprai. Aku panik bukan main. Tubuh lelaki dewasa di depanku mulai menggigil.


"Bentar, aku panggilkan taksi, Mas!"


Aku langsung merogoh ponsel dan memesan sebuah taksi online melalui aplikasi. Sambil menunggu taksi tersebut datang, aku berusaha memapah Mas Natan keluar rumah. Saat itulah kalungku tak sengaja terlepas, karena panik aku berniat mengambilnya besok saja.


Aku pun tak menyangka semua ini berujung pada sebuah kekacauan Rumah Tangga Mbak Nana! Aku menyesal kenapa mengikuti ucapan Mas Natan untuk berbohong bahwa aku telah menjual keperawananku kepadanya demi uang. Sebuah penyesalan yang aku harap bisa diperbaiki suatu saat nanti.


POV Abel & Flashback Off

__ADS_1


...****************...


__ADS_2