
"Kita bicarakan semuanya baik-baik! Tolong ijinkan kami masuk!" teriakku sambil meringis menahan sakit.
Abel ikut meringis dan mengurangi kekuatannya. Sepertinya dia juga sedang membayangkan rasa sakit yang kualami saat ini. Akhirnya gadis itu membuka lebar pintu rumah.
"Masuk, Mbak." Abel mempersilahkan masuk aku dan Miya.
Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah. Rumah gadis ini terlihat begitu sederhana. Bahkan jauh dari kata layak. Beberapa bagian plafon rumah mulai ambrol.
Di sana-sini terdapat beberapa buah ember yang berisi air. Sepertinya ember tersebut digunakan untuk menampung air hujan. Rumah ini terlihat lembab. Dindingnya pun mulai ditumbuhi jamur.
"Duduk, Mbak. Saya buatkan minum."
"Nggak usah repot-repot, Bel," ucapku sambil mendaratkan bokong ke atas kursi.
"Kamu sepertinya tahu maksud kami datang ke sini, ya?" Miya tersenyum miring sembari melipat lengan.
"Maaf, Mbak." Abel tertunduk lesu, dia memilin celana pendek yang dipakai menggunakan jemari lentiknya.
"Kenapa kamu mencuri? Kamu butuh uang?" tanyaku.
Abel tertunduk lesu. Kini jemari gadis itu mulai meremas pahanya sendiri. Aku meraih jemari gadis itu. Entah mengapa kebencianku kepada Abel menguap seketika saat melihat kondisinya saat ini.
Meski aku tidak membenarkan tindakan kriminal yang ia lakukan, tetapi melihat kondisi Abel yang menyedihkan, membuat rasa empatiku menguat. Abel menatapku sedih. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kami akan membantumu, asalkan kamu mau jujur. Apa alasamu melakukan pencurian di butik Mbak Miya?"
Miya mengehela napas kasar. "Benar yang Nana katakan. Apa alasanmu mencuri di tempatku?"
"Maaf, aku ...." Ucapan Miya menggantung di udara karena terdengar suara seseorang yang terjatuh ke atas lantai.
Sontak aku dan Miya langsung ikut berlari, mengekor di belakang Abel. Langkah kami berhenti ketika sampai di depan sebuah kamar. Dari dalam ruangan tersebut tercium bau yang tidak sedap.
Seorang perempuan bertubuh kurus dengan perut buncit tersungkur tak berdaya di atas lantai kamar. Abel mencoba memindahkan perempuan itu kembali ke atas ranjang.
"Ibu, mau minum? Kenapa nggak panggil Abel?"
"Ibu bisa sendiri, kok." Perempuan itu tersenyum lemah, kemudian menatap ke arah kami berdua.
"Mereka temanmu?" tanya Ibu Abel.
"Iya, Bu. Mereka temanku." Abel menyodorkan segelas air putih kepada ibunya, dan beliau meminumnya menggunakan sedotan.
"Wah, kalian berdua teman pertama Abel yang diajak berkunjung ke rumah reyot ini. Maaf, ya tidak bisa menyuguhkan apa pun untuk kalian?" Ibu Abel terus mengulaskan senyum ramah.
Wajah perempuan itu terlihat pucat pasi. Kulit beliau kering dan keriput. Tubuhnya hanya tersisa tulang yang terbungkus lapisan kulit. Hatiku begitu miris melihat kondisi beliau.
"Bu, Abel ajak mereka ngobrol dulu di luar, ya?" Abel meletakkan kembali gelas ke atas meja samping ranjang.
__ADS_1
Kami beranjak lebih dulu, kembali ke ruang tamu disusul Abel yang seperti sedang mengusap air mata. Aku menatap nanar gadis cantik di hadapanku ini.
"Ibumu sakit apa?" tanyaku.
"Komplikasi. Gagal ginjal, liver, dan ... kanker servik." Abel kembali tertunduk lesu.
"Jadi, kamu mencuri untuk biaya pengobatan ibumu?" Kini Miya angkat bicara. Matanya terbelalak sampai kedua alisnya terangkat.
"Aku juga sedang mengumpulkan uang untuk operasi." Abel mengangkat wajahnya.
Aku bisa melihat matanya yang mulai memerah dan semakin basah karena air mata. Bahu gadis itu mulai bergetar. Aku yakin tangisnya pasti sebentar lagi akan pecah.
"Mbak, tolong jangan laporkan aku ke polisi. Kalau sampai aku ditahan, bagaimana nasib ibuku." Abel kembali menunduk sambil meremas jari-jarinya.
Sesuai dugaanku, tangis Abel pecah seketika. Kini wajah cantiknya dibanjiri air mata. Aku langsung merengkuh tubuh Abel dan menenangkannya. Aku mengusap lembut punggung gadis dalam dekapanku ini.
"Kamu tenang saja, Miya akan melepaskanmu. Kami juga tidak berniat melaporkanmu ke polisi. Kami berdua datang karena ingin mengetahui alasanmu melakukan tindakan seperti ini."
"Tapi kamu jangan senang dulu! Aku tetap ingin memberikanmu hukuman!" seru Miya.
Sontak aku melepaskan pelukan dari Abel, kemudian menatap tajam sahabatku itu. Dia tersenyum miring kemudian berjalan mendekat ke arah kami.
"Aku tidak bisa melepaskan penjahat kecil sepertimu begitu saja!" Miya tersenyum miring.
__ADS_1
"Miya! Kamu keterlaluan! Ikhlaskan saja! Kalau perlu, biar aku yang ganti kerugian yang kamu alami!"
Kesal sekali rasanya, melihat tingkah keras kepala sahabatku ini. Emosiku hampir naik ke ubun-ubun karenanya. Wajah dan telingaku terasa panas karena amarah yang menguasai. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa Miya tidak memiliki rasa empati?