
"Kamu jangan keterlaluan Miya! Di mana rasa empatimu?" teriakku frustrasi.
Miya seakan tak mempedulikan ucapanku. Dia justru berjalan terus ke arah Abel. Dia melipat lengan di depan dada, kemudian tersenyum miring.
"Kamu harus tetap mengganti kerugian yang kualami," ucap Miya penuh penegasan.
"Ta-tapi aku nggak punya uang, Mbak." Suara Abel terdengar bergetar.
"Miya, kamu jangan begitu dong!" teriakku penuh emosi.
"Na, kamu diam! Nggak usah ikut campur! Ini urusan antara aku dan dia!" Miya menatapku tajam dan nada bicaranya meninggi.
"Mbak, untuk sehari-hari saja aku kesulitan. Bagaimana bisa aku mengganti semuanya? Aku benar-benar nggak punya uang." Abel tertunduk lesu sembari meremas ujung kaosnya.
"Siapa bilang kamu harus menggantinya dengan uang?"
Aku terbelalak mendengar ucapan Miya. Kulihat Abel pun terkejut. Gadis itu mendongak kemudian menatap Miya heran.
"Mulai besok, kamu bantu aku di butik. Ibumu akan kubawa ke rumah sakit. Seluruh biaya, aku yang tanggung! Kamu hanya perlu fokus belajar dan juga sedikit bekerja lebih keras di butik."
Aku terperangah. Miya memang perempuan yang begitu baik. Aku bangga memiliki sahabat seperti dia. Rasa haru menyeruak ke dalam dadaku.
__ADS_1
Abel menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangan. Bahunya bergetar, dan mulai terdengar isak tangis. Aku dan Miya memeluk gadis itu. Semoga setelah ini, Abel bisa memiliki kepribadian serta kehidupan yang lebih baik.
Aku tahu dia melakukan hal buruk ini karena terpaksa. Namun, selama ini dia juga tidak ada yang membimbing. Ibunya sakit, dan kebetulan ayahnya seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab. Menelantarkan anak istri, bahkan cenderung menyusahkan mereka.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu dibanting kasar. Kami semua menoleh ke arah pintu rumah rapuh itu. Pintu berbahan tripleks itu hampir copot dari kusen karena dibanting oleh seorang lelaki bertato dan terlihat garang.
"Bel! Mana duit!" teriak lelaki berambut panjang dan berjenggot tebal itu.
Abel melepaskan pelukan kemudian berjalan ke arah pria tersebut. Abel menarik lengan kekarnya lalu membisikkan sesuatu kepada tersebut. Entah apa yang ia ucapkan kepada lelaki itu.
Tanpa kuduga, Dia mendorong tubuh Abel hingga tersungkur di atas lantai. Bahkan Abel diinjak-injak dan ditendang. Aku langsung berteriak, lalu menghampiri mereka.
"Dasar anak ******! Kamu sama saja seperti ibumu! Dasar perempuan kere! Murahan!"
"Pak, ampun! Abel benar-benar lagi nggak ada duit!"
Aku menduga lelaki itu adalah ayah dari Abel. Namun, kenapa begini sikapnya kepada Abel? Sangat kasar dan tidak manusiawi. Tindakan Ayah Abel lebih mirip seperti binatang. Tunggu, kurasa masih lebih baik sifat hewan!
"Halah alasan!" Ayah Abel terus menginjak kaki putrinya, dan terus menendang.
"Pak, sadar! Dia putrimu!" Aku berusaha menepis kaki Ayah Abel, tetapi tidak banyak berpengaruh.
__ADS_1
Kekuatanku tidak sebanding dengan tenaga lelaki garang ini. Dia terus melancarkan tendangan kepadaku dan juga Abel. Badanku terasa begitu nyeri. Senyeribhatiku yang melohat sikap biadap lelaki yang dipanggil bapak oleh Abel.
Taknlama kemudian Lion datang. Dia menarik baju ayah Abel dan melempar tubuhnya sampai tersungkur ke atas lantai. Lion menindih tubuh lelaki itu, kemudian menghujaninya dengan pukulan.
Lion terus memukul wajah ayah Abel hingga babak belur. Tak jarang lelaki itu mengucap umpatan seiring bogem mentah yang mendarat di wajah Ayah Abel. Sudut bibir lelaki bertato itu pun sobek. Darah segar mulai mengalir keluar dari lukanya. Tak ada perlawanan sedikit pun dari ayah Abel. Dia hanya diam menerima setiap pukulan yang diberikan oleh Lion.
...****************...
Setelah baku hantam beberapa menit yang lalu, Lion melaporkan perbuatan ayah Abel ke polisi. Lalu kekerasan yang ia lakukan, dianggap sebagai pembelaan diri. Abel membawa ibunya ke rumah sakit, diantar oleh Miya.
Sedangkan aku kembali ke tempat kos diantar oleh Lion menggunakan sepeda motor. Sepanjang perjalanan, aku hanya terdiam. Sebuah kejanggalan menggangguku. Bagaimana bisa Lion tahu keberadaanku?
Sedetik kemudian aku terbelalak. Aku baru menyadari kalau Miya sama sekali tidak mendekat ke arah Abel untuk membantu. Seingatku dia sibuk dengan ponselnya. Aku yang dihantui rasa penasaran, akhirnya memutuskan untuk menanyakan hal ini kepada Lion.
"Lion, apa kamu mengenal Miya?"
Sama halnya seperti Miya. Kini Lion menarik tuas remnya, hingga tubuhku terbanting dan menumbuk punggung lelaki ini. Walaupun aku bukan psikolog, bisa dipastikan ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.
"Benar, 'kan kalau kalian saling mengenal? Lalu ... apakah Hanabi itu adikmu?"
Aku bisa melihat jelas ekspresi Lion dari kaca spion. Bibir lelaki itu menganga lebar, dan bola matanya bergerak cepat. Fix, mereka bertiga saling mengenal!
__ADS_1