Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 6. Memancing Keributan


__ADS_3

"Sekali ini aja, ya? Besok balik lagi berhemat." Mas Natan terlihat kesal, tetapi masih bisa menahan emosinya.


"Iya, Mas. Tapi, nggak apa-apa kalau tiap hari cuma makan tahu, tempe, sama telor saja?" Aku tersenyum lebar berusaha menampar Mas Natan dengan obrolannya bersama Gatot tadi siang.


Mas Natan terdiam. Lelakiku ini mengembuskan napas kasar. Aku akhirnya meraih lengannya, dan bergelayut manja. Kami berdua melangkah masuk ke resto Korea tersebut.


Ketika baru sampai di ambang pintu, seorang pelayan perempuan dengan memakai celemek menghampiri kami. Dia tersenyum ramah dan mengantar kami ke sebuah meja kosong.


"Selamat datang di Simhae Korean Grill. Kami menyediakan dua paket All You Can It." Perempuan yang kuketahui bernama Kadita itu tersenyum ramah. Aku mengetahui namanya dari nametag yang menggantung di lehernya.


"Paket apa saja, Mbak?" tanyaku.


"Paket standar dan premium, Kak."


"Bedanya apa, ya?" tanyaku antusias.


Aku tersenyum lebar sembari sesekali melirik Mas Natan yang sedang celingukan. Agaknya dia sedang mencari-cari sesuatu. Pandangannya tidak fokus.


"Kalau paket standar, nanti Kakak sudah dapat daging tanpa lemak, daging berlemak, ikan dori, dan juga aneka bakso. Untuk paket premium, tentu saja nanti kualitas daging yang didapatkan akan berbeda," jelas pelayan tersebut ramah.


"Nggak ada daftar harga, Mbak?" tanya Mas Natan tanpa basa-basi.


Oh, aku tahu sekarang, apa yang sedang Mas Natan cari dari tadi. Daftar menu dengan deretan harganya. Aku tersenyum simpul melihat kepanikan Mas Natan.


"Untuk paket standar 99 ribu belum termasuk PPN, sedangkan paket premium harganya 119 ribu belum termasuk PPN."


"Kalau begitu kami mau pesan paket ...."


Baru saja mau memesan paket premium, Mas Natan memotong ucapanku. Dia memilih paket standar. Aku tersenyum miring melihat tingkah suamiku ini.


"Baiklah, silahkan ambil sendiri di lemari penyimpanan. Anda berdua bisa makan sepuasnya dalam waktu 90 menit, ya? Jika ada daging yang tersisa, akan kami kenakan denda sebesar 50 ribu rupiah per 100 gram daging."


Aku dan Mas Natan langsung beranjak ke lemari penyimpanan dan memilih semua yang kami ingin makan. Kami kembali ke meja dan mulai memanggang daging yang tadi sudah kami pilih. Aroma wangi dari saus dan bawang membuat air liurku menetes seketika.


Aku melirik Mas Natan yang sedari tadi hanya diam dengan ekspresi wajah datar. Aku yakin dia sedang berusaha menahan emosi. Satu hal yang membuatku salut terhadapnya.


Semarah apapun Mas Natan, dia tidak akan pernah berbicara kasar terhadapku di depan umum. Dia memiliki prinsip untuk tidak memakiku di tempat khalayak ramai. Itu adalah salah satu hal yang bisa aku syukuri sampai saat ini.

__ADS_1


Tak terasa, 90 menit berlalu. Beberapa piring kotak berwarna hitam sudah tertumpuk rapi di meja kami. Aku menghitung jumlah piring, untuk mengetahui seberapa banyak daging yang telah kami habiskan.


"Satu, dua, tiga ... wah! Sebelas piring! Kita hebat sekali, Mas!" teriakku sembari bertepuk tangan girang layaknya anak kecil.


Kulihat Mas Nata tersenyum tipis. Dia beranjak dari kursi, dan mengikutinya. Kami langsung menuju kasir untuk membayar. Seorang laki-laki muda yang merupakan kasir dari restoran itu menatapku genit. Tampan sih, tetapi aku tidak menyukai tatapannya.


Padahal kepalaku tertutup jilbab yang menjuntai hingga bawah dada, tetapi dia masih menatapku jelalatan seperti itu. Tingkahnya benar-benar membuatku tidak nyaman.


"Kenapa, Mas?" tanya Mas Natan ketus.


Sepertinya suamiku ini juga menyadari kalau si kasir sedang memerhatikan aku. Pipiku bersemu merah, kemudian kuraih jemari Mas Natan dan bergelayut manja. Aku begitu senang mengetahui suamiku ini tidak suka aku ditatap oleh lelaki lain.


"Ah, nggak, Pak." Lelaki itu menundukkan pandangan lalu kembali fokus dengan layar komputer yang ada di depannya.


"Jadi, totalnya 219.780 rupiah, Pak."


Mas Natan terdiam, sepertinya dia menunggu sesuatu. Aku mengerutkan dahi, kemudian menatap ke arahnya. Mas Natan mendekatkan bibirnya ke telingaku.


"Bayar, gih!"


Aku tersenyum miring, kemudian bergantian berbisik kepada suamiku itu. "Adik lupa nggak bawa dompet, Mas."


Akan tetapi, aku tetap mengantongi sejumlah uang di dalam sakuku. Berjaga-jaga kalau Mas Natan juga melakukan hal yang sama. Kebiasaannya selama ini memang begitu, memintaku untuk selalu membayar makanan setiap kami makan di luar.


"Gimana, sih?" bisiknya sambil memasang wajah masam.


"Ya, maaf. Namanya juga lupa." Aku tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan gigi.


Akhirnya Mas Natan mengambil dompet dan mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan, lalu menyerahkannya kepada kasir. Setelah menerima kembalian, kami berjalan ke luar restoran.


"Wah, dapet es krim gratis! Makan ini dulu, baru pulang ya, Mas?" tanyaku tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Hem."


Aku menikmati keberhasilanku membuat Mas Natan jengkel sembari menghabiskan sebatang es krim coklat favoritku. Sedangkan Mas Natan terus diam sambil menatap kendaraan yang lalu lalang di jalan raya.


...****************...

__ADS_1


Setelah sampai rumah, Mas Natan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Aku melangkah menuju kamar untuk menghapus riasan dan juga berganti pakaian. Namun, Mas Natan mencegahku.


"Na, sini! Mas mau ngomong."


"Ada apa, Mas?" tanyaku santai sambil berjalan mendekati Mas Natan.


Mas Natan menengadahkan tangan seperti meminta sesuatu dariku. Aku mengerutkan dahi karena tidak mengerti apa yang sedang diminta oleh suamiku ini.


"Mana uangnya?"


"Uang apa, Mas?" tanyaku sembari terus menautkan kedua alis.


"Uang buat makan tadi, mana? Ganti!"


Mendengar ucapan Mas Natan, sukses membuatku menganga. Mataku terbelalak seketika. Aku merasa seperti ada batu besar yang menghalangi tenggorokan. Kesal sekali rasanya melihat sikap Mas Natan.


"Kok harus ganti, Mas?" tanyaku heran.


"Iyalah! Itu uang dua ratus ribu jatah bensin dua minggu! Memangnya dua minggu ke depan, aku harus jalan kaki buat kerja?"


"Perhitungan sekali, sih Mas, sama istri!" Aku merogoh saku jaket kemudian meletakkan tiga lembar uang berwarna merah ke atas meja.


"Loh, kamu tadi bawa uang? Kok kamu bohong, Na sama aku!" teriak Mas Natan.


"Aku nggak bohong! Aku tadi kan bilang kalau nggak bawa dompet!" seruku tak mau kalah.


"Berani ya, kamu sama suamimu!" seru Mas Natan.


"Aku nggak akan begini kalau Mas Natan nggak mulai semuanya! Sekarang aku tanya, kenapa Mas Natan bohong tentang kenaikan gaji!" teriakku frustrasi.


"Gaji apa maksudmu?" tanya Mas Natan gugup.


Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar. "Sebenernya Mas Natan gajinya naik, 'kan? Kenapa menyembunyikan hal itu dariku?"


"Itu aku lakukan karena ngerti sifatmu yang boros dan suka foya-foya itu! Terbukti kan sekarang? Begitu tahu aku naik gaji, kamu ngajak makan di luar! Dasar boros!"


"Boros Mas Natan bilang? Boros yang bagaimana maksud Mas Natan!"

__ADS_1


Dadaku kembang kempis karena menahan gejolak amarah. Mataku terasa begitu panas. Air mata berdesakan ingin keluar, tetapi kutahan sekuat hati.


"Iya, boros! Dikasih uang bulanan 2 juta selalu habis! Padahal makan juga cuma seadanya!"


__ADS_2