
"Jangan menangis. Kamu pantas untuk mendapatkan kebahagiaan. Kurasa keputusanmu saat ini sudah tepat!" seru sopir yang sebagian wajahnya tertutup oleh masker itu.
Aku mendongak, menatapnya melalui kaca spion. Lelaki itu membuka maskernya kemudian tersenyum lebar. Aku pun terbelalak. Dia adalah Lion! Bagaimana bisa lelaki ini yang ada di sini? Banyak sekali pekerjaannya?
Lion selalu ada di mana-mana! Dia seperti tim pemadam kebakaran yang selalu datang ketika hatiku mengalami kebakaran, atau sedang ada di tengah bahaya. Apa dia menyelipkan alat penyadap?
"Ka-kamu kok bisa ...."
"Hapus air matamu! Lelaki sepertinya tidak pantas kamu tangisi!"
Aku menghapus air mataku. Lion benar. Lelaki ini bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menangisi semuanya.
"Kamu kok ada di mana-mana, sih?" tanyaku heran.
Lion terkekeh. Dia terus fokus pada jalanan sambil sesekali melirikku dari kaca spion.
"Mana aku tahu. Aku memiliki banyak pekerjaan, dan kebetulan kita selalu bertemu."
"Lalu mobil ini? Kamu punya mobil, artinya orang kaya! Kenapa juga harus repot-repot jadi sopir taksi online?"
Tawa Lion meledak. Lelaki itu menghentikan mobilnya, karena ternyata lampu merah sedang menyala. Kini dia memutar tubuh, hingga tatapan kami bertemu.
"Memangnya menjadi jaminan, orang yang punya mobil itu orang kaya?" tanyanya sambil tersenyum miring.
"Ya, bisa beli mobil, 'kan artinya punya uang lebih buat beli dan juga biaya perawatan mobil? Punya biaya lebih juga buat pajak setiap tahun?"
"Belum tentu! Banyak kok, di luaran sana orang yang bosa beli mobil, tapi nggak pernah bisa servis. Pajak mobil dimatikan! Mereka adalah orang yang bergaya tidak sesuai dengan isi dompet! Akhirnya utang sana-sini buat bayar cicilan mobil."
Aku kembali tersentak mendengar ucapan Lion. Dia benar. Jaman sekarang banyak sekali orang model seperti itu. Hutang sana-sini demi bergaya. Mereka relanmengeluarkan banyak uang agar terlihat kaya, padahal semua hasil dari berhutang.
Ketika ditagih, mereka mendadak miskin, atau pura-pura amnesia. Bahkan tak jarang bersikap lebih galak dari orang yang memberinya pinjaman. Apa kalian juga memiliki teman macam ini?
"Sesuai aplikasi, 'kan?" tanya Lion.
"Iya," jawabku singkat kemudian kembali memperhatikan jalanan.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, kami sudah sampai di sebuah rumah kos dua lantai khusus perempuan. Aku langsung menemui pemilik kos untuk mengambil kunci kamar. Lion membantuku menurunkan serta memasukkan barang bawaan.
"Makasih, sudah membantuku." Aku tersenyum ramah kemudian mengantar Lion mengantar sampai gerbang rumah kos.
"Sama-sama. Kamu rencana mau kerja di mana setelah ini?"
"Aku menghubungi temanku. Nanti sore aku akan menemuinya di butik."
"Mau ... kuantar?"
"Nggak usah, nanti ngrepotin."
"Ya sudah, lagi pula nanti malam aku ada kerja paruh waktu di resto korea."
Aku merasa sedikit menyesal menolak tawaran Lion. Dih, kenapa aku jadi ketergantungan kepadanya? Lelaki itu berpamitan, kemudian meninggalkanku yang masih menatap kepergiannya dari balik pagar.
...****************...
"Sore, Kak. Bisa ketemu Bu Miya?" tanyaku kepada seorang perempuan yang sedang berdiri di belakang meja kasir.
Aku menatap perempuan itu hingga menghilang di balik pintu bertuliskan kata kantor. Aku melangkah menuju sebuah cermin besar yang menggantung pada dinding.
"Sepertinya nggak ada yang salah denganku. Rapi dan sopan kok bajuku." Aku bergumam sembari mengamati pantulan diriku dari dalam cermin.
"Na, udah nunggu lama?"
Aku balik badan. Sosok cantik sahabatku kini menyapa. Perempuan itu terlihat begitu memesona dalam balutan mini dress berbahan spandek dengan motif polkadot. Rambut ikalnya terurai panjang dihiasi bando bermoyif senada dengan pakaiannya.
"Nggak, kok, Miya. Baru saja."
Aku menoleh ke arah karyawan Miya, kemudian mengangguk sopan dan tersenyum tipis. Perempuan itu justru memalingkan wajah dan mengacuhkanku. Aku menggeleng heran sambil tersenyum kecut. Jaman memang sudah gila! Di mana hilangnya sopan santun? Oke, boleh saja dia tidak menyukaiku, tetapi bukankah harusnya tetap menghargai sapaanku?
Miya mengajakku duduk di atas sofa, dan kami mulai membahas masalah pekerjaan yang akan kulakukan. Seorang karyawan lain yang jauh lebih ramah dari si kasir datang dengan membawa dua gelas es teh serta beberapa potong brownies.
"Terima kasih, Kak," ucapku ramah.
__ADS_1
"Sama-sama, Mbak. Silahkan, saya permisi, nggih?"
Perempuan itu langsung pergi, dan aku kembali melanjutkan obrolanku bersama Miya. Miya menyesap teh, sebelum kembali menanyaiku mengenai pekerjaan tersebut.
"Gajinya nggak banyak, Na. Kalau dibanding angka yang diberikan toko dulu. Gajimu dulu besar. Aku cuma bisa gaji sesuai UMK ditambah bonus kalau penjualan ramai."
"Nggak pa-pa, Mi. Bagiku sekarang bisa cepet kerja."
Miya mengangguk, kemudian meletakkan cangkirnya ke atas meja. Kamu kembali berbincang, dan berbagi kisah selama tidak lagi bekerja bersama. Miya benar-benar memulai usahanya dari nol.
Dia bercerita bahwa dicampakkan kekasihnya, dan mengisi hari-hari dengan mencoba berbisnis. Miya pun tak menyangka kalau hasilnya akan semanis ini. Aku benar-benar kagum kepadanya.
Miya memang perempuan yang sangat hebat. Orang lain mungkin akan meratapi nasibnya dengan terus menangis. Tengkurap di atas kasur sambil menangis seharian bahkan sampai berminggu-minggu. Akan tetapi, Miya tidak melakukannya.
Dia justru menjadikan hal itu sebagai pemicu untuk terus bergerak lebih maju. Miya bilang ingin membuat mantan kekasihnya itu menyesalnkrena telah mencampakkannya.
Mendengar ucapan sahabatku itu, sontak membuatku semakin bersemangat untuk melanjutkan hidup. Melupakan Mas Natan, dan mengisi hari-hariku dengan banyak kegiatan menyenangkan, yang tidak bisa aku lakukan ketika bersamanya.
"Kamu kerja mulai besok saja. Masuk jam delapan pagi, pulang jam empat sore. Hanya mengerjakan administrasi dan membantu karyawan lain ketika selesai."
"Oke, makasih udah mau bantu aku. Aku pamit dulu, ya?"
Aku beranjak dari kursi kemudian mengylurkan tangan. Miya menyambut uluran tanganku, lalu memelukku erat. Aku langsunh melangkah keluar butik.
Begitu keluar dari bangunan tersebut, aku melihat ada mesin ATM. Aku berniat mengambil sejumlah uang, dan ingin kugunakan untuk membeli produk perawatan kulit, make-up, serta pergi ke salon dan beberapa pakaian.
Setelah sampai di ruangan kecil itu, aku langsung memasukkan kartu ATM dan memasukkan enam digit angka, serta menekan nominal uang yang ingin kuambil. Mataku terbelalak ketika melihat tulisan yang muncul di layar monitor.
[MAAF, SALDO ANDA TIDAK CUKUP]
Setelah itu, aku mengecek saldo rekening tersebut. Kakiku lemas seketika. Uang 500 ribu yang aku kumpulkan setiap bulan lenyap tak tersisa. Tubuhku merosot ke atas lantai. Tangisku seketika pecah.
Uang yang kumpulkan tiap bulan dengan menahan diri untuk tidak membeli kosmetik ataupun produk perawatan kulit. Tiba-tiba hilang begitu saja. Sesak sekali rasanya.
Setelah mengambil lagi kartu atm yang dimuntahkan mesin, aku berjalan gontai keluar dari ruangan itu. Aku tahu siapa yang menggunakan semua uang tersebut. Mas Natan, aku yakin dia orangnya, karena aku menemukan kartu ATM dan buku tabunganku di dalam saku jaketnya.
__ADS_1