
Aku masih menatap tajam ke arah Lion. Perutku rasanya sudah penuh, tetapi lelaki di depanku ini enggan kembali berbincang. Dia masih sibuk dengan aneka daging sapi Australia panggang di hadapannya.
"Lion, udah belum makannya?" tanyaku ketus.
"Bentar lagi," jawab Lion singkat.
Aku mendengus kesal kemudian meraih ponsel dalam tasku. Aku membuka aplikasi ojek online. Setelah mendapatkan pengemudi, aku kembali memasukkan ponsel ke dalam tas. Setelah itu, kuraih selembar uang seratus ribuan dan selembar lima puluh ribuan. Aku meletakkannya di atas meja.
"Aku harap setelah ini kita tidak bertemu. Aku malas berurusan denganmu lagi!" seruku.
Aku beranjak dari kursi kemudian keluar dari restoran. Telingaku masih bisa mendengar Lion meneriakkan namaku berulang kali. Namun, aku enggan menggubrisnya. Aku terus melangkah tanpa memedulikannya.
"Nana! Berhenti! Sorry!" teriak Lion berulang kali.
Lion berhasil menyusulku. Lelaki itu kini menarik lenganku, hingga mau tak mau aku menghentikan langkah. Aku menatap kesal ke arah Lion.
"Maaf, Na. Maaf karena telah banyak membohongimu. Tapi, percayalah. Aku melakukannya demi kebaikanmu. Untuk menjaga hatimu." Lion menatapku nanar.
"Mana ada? Seharusnya sejak awal kamu bilang! Kalau niat bantu ya bantu aja! Nggak perlu pakai acara bohong!" seruku.
Dadaku naik turun menahan amarah. Selain karena mengetahui kebohongan Lion, aku kesal dengan sikapnya yang terlihat tidak serius ketika diajak bicara. Lion Melepaskan lenganku, kemudian menunduk.
"Kalau sejak awal aku jujur, apa kamu bisa menerima kenyataannya?"
"Kenyataan apa?" tanyaku sembari menautkan kedua alis.
"Kenyataan bahwa aku melakukan ini semua untuk menyiapkan hatimu di masa depan, agar tidak merasa sedih atau pun sakit hati."
Aku membuang muka, tersenyum miring, kemudian kembali menatap sinis ke arah Lion. Aku benar-benar tidak suka sikap basa-basi lelaki ini. Semua ucapannya kini lebih terdengar seperti bualan belaka.
"Aku capek! Besok aku akan pergi ke butik untuk terakhir kalinya. Setelah itu jangan pernah mencariku lagi!"
"Kamu mau ke mana?" Lion tampak mengerutkan dahi.
"Sebenarnya sangat mudah menemukanmu. Aku bisa melakukannya kapan pun. Jadi, percuma jika kamu terus menghindar!"
"Lion, lihatlah bulu kudukku sekarang berdiri semua! Apa kamu semacam psikopat? Berikan sedikit saja ruang untukku bernapas tanpa ada kamu!"
Aku menghela napas kasar. Muak sekali rasanya melihat sikap Lion yang keras kepala dan jauh lebih dominan. Dia mengucapkan semua kalimat tadi tanpa beban sedikit pun. Seakan benar-benar memiliki banyak mata yang ada di sekelilingku.
Aku yakin, setelah ini aku akan banyak berprasangka buruk terhadap orang yang berada dekat denganku. Sesak sekali rasanya mengetahui bahwa Lion bisa dengan mudah menemukanku. Seperti aku kehilangan ruang untuk bernapas. Tak lama kemudian ojek yang aku pesan datang.
"Aku pergi!" seruku tanpa memedulikan Lion lagi.
"Nana!" teriak Lion.
Aku memakai helm, lalu menatap sekilas Lion sebelum si tukang ojek melajukan motornya. Lion terlihat begitu kacau. Lelaki itu mengacak rambut frustrasi sambil menendang udara.
__ADS_1
Aku sudah tidak ingin lagi berurusan dengannya. Terlepas dengan banyaknya bantuan yang ia berikan, rasa kecewa jelas bersemayam kuat di hatiku.
...****************...
Suasana di butik pagi ini terlihat canggung. Hana masih seperti biasa. Bersikap ketus dan sinis kepadaku. Entah apa yang membuat dia bersikap seperti itu. Aku tidak pernah merasa membuat masalah untuknya, tetapi sejak awal pertemuan kami dia sudah terlihat tidak menyukaiku.
Miya hanya bungkam ketika berada di ruang kerjaku. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Aku berusaha bersikap profesional. Tetap fokus dengan pekerjaanku. Sesekali aku memergokinya menatap ke arahku sambil terlihat berpikir. Agaknya Miya ingin mengatakan sesuatu, tetapi enggan mengungkapkannya.
Satu jam berlalu, kesunyian menyelimuti ruangan berukuran empat meter persegi ini. Aku meregangkan otot setelah selesai mengerjakan semua tugasku. Aku berniat keluar dari kantor dan membantu yang lain di depan. Namun, Miya menghadangku.
"Kenapa?" tanyaku dengan suara dingin.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Miya.
"Bicara apa? Aku rasa tidak ada yang oerlu kita bicarakan lagi?" Aku tersenyum miring, menepis lengan Miya, kemudian meraih tuas pintu.
"Tolong jangan begini, Na."
"Jangan begini bagaimana? Sudahlah, aku kecewa sama kamu! Aku pikir kamu benar-benar sahabatku. Tapi, apa ini? Kamu justru menarikku ke dalam permainan Lion!"
"Na, percayalah! Ini semua demi kebaikanmu! Aku rasa kamu akan lebih sakit jika mengetahui kebenarannya!"
"Kebenaran yang mana lagi? Ha! Coba katakan kebenaran yang mana!" teriakku frustrasi.
Miya tertunduk lesu. Bibirnya mendadak terkunci rapat. Aku melipat lengan di depan dada kemudian menatapnya sinis.
Aku memutar tuas pintu. Ketika hendak melangkahkan kaki ke luar. Miya kembali bersuara.
"Ini semua karena permintaan Natan. Kami melakukan ini karena keinginan Natan."
Kenapa jadi menyebut nama Mas Natan? Ada apa dengan calon mantan suamiku itu? Teka-teki ini semakin membuat kepalaku berdenyut.
"Aku tidak bisa menjelaskan detailnya, maaf. Tapi, ini semua keinginan suamimu."
"Kamu bercanda?"
Miya mulai mengangkat wajahnya. Mata sahabatku ini mulai berkaca-kaca. Bibirnya terlihat gemetar.
"Aku nggak bercanda, Na."
"Entah aku masih bisa percaya sama kamu apa nggak. Kepercayaan itu seperti kertas. Sekali diremas, maka nggak akan bisa kembali seperti semula! Mereka akan tetap terlihat kusut."
"Na, please. Kali ini percaya saja padaku dan jangan banyak bertanya." Tatapan Miya terlihat mengiba. Namun, aku tidak mau percaya padanya begitu saja.
"Sudahlah, di atas meja ada surat pengunduran diriku. Tolong nanti ditandatangani."
Aku tak lagi memedulikan Miya yang terus mencoba menghalauku. Kuputar tuas pintu, lalu melangkah keluar menuju konter butik.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
CUPLIKAN:
Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.
"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.
"Sudah," jawab Luna singkat.
"Ayo kuantar pulang!"
Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.
Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.
"Terima kasih, Luna."
Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.
'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.
"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."
****
Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.
Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.
CLUP
Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.
"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.
"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.
Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.
"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."
Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.
'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.
__ADS_1