
Lion terdiam. Aku bisa melihat dari kaca spion, matanya bergerak cepat ke segala arah. Agaknya dia sedang memikirkan jawaban atas pertanyaanku ini.
"Kita bicarakan sambil makan, ya?"
"Terserah," jawabku singkat.
Lion kembali melajukan motornya menuju restoran makanan Korea tempat kami pertama kali bertemu. Ketika memasuki tempat itu, semua karyawan yang melihatnya menunduk penuh hormat. Sebenarnya siapa laki-laki berdarah Indonesia-Finlandia ini?
Lion mengajakkku ke sebuah meja dekat kasir. Persis di mana aku dan Mas Natan terakhir kali ke sini. Aku kembali mengerutkan dahi. Dari sekian banyak meja kosong, kenapa harus di sini? Tak lama kemudian datang seorang karyawan laki-laki mendekat.
"Pak, mau makan apa?" tanyanya sambil memegang buku catatan kecil serta bolpoin.
"Ah, Paket Premium untuk dua orang."
"Baik, Pak." Karyawan tersebut langsung pergi meninggalkan kami tanpa banyak bertanya lagi.
Aku menatap penuh tanya pada lelaki di hadapanku ini. Ketika tatapan kami bertemu, senyuman Lion memudar. Dia berdeham beberapa kali kemudian saling menautkan jemarinya.
"Jadi, sebenarnya kamu siapa?" Aku melipat lengah di depan dada sambil menyipitkan mata.
Lion mengulurkan tangan kemudian tersenyum tipis. "Kita belum berkenalan secara benar. Namaku Cecillion."
__ADS_1
"Aku tidak perlu basa-basi!" seruku sambil tersenyum miring.
Lion menggenggam kembali jemari lalu menurunkan lengannya dari udara. Lelaki di hadapanku ini menghela napas kasar, membuang wajah sekilas, lalu kembali menatapku.
"Begini saja. Apa yang ingin kamu ketahui tentang aku?" Lion menaikkan satu alisnya sambil tersenyum miring.
"Apa waktu itu adalah pertemuan kita pertama kali? Saat aku dan Mas Natan makan di sini?"
"Mmm ... bagaimana menjawabnya ya? Bisa jadi iya, atau tidak." Lion mengusap dagu sambil mengerucutkan bibir.
"Aku tidak suka jawaban berbelit-belit!" ketusku.
"Baiklah, aku akan mengatakannya jujur. Kalau aku melihatmu pertama kali bukan waktu itu. Tapi, itu adalah pertemuan pertama kita bisa bertatap muka."
"Miya partner kerjaku. Sedangkan Hana adikku," jawab Lion.
"Lalu, bagaimana bisa kamu selalu datang di setiap aku mengalami situasi yang tidak menyenangkan. Aku yakin, itu bukanlah sebuah kebetulan!"
"Bingo! Kamu benar, Na! Aku menguntitmu," jawab Lion sambil menunjukku.
"Kamu sudah gila, ya!" teriakku.
__ADS_1
Kini seluruh pengunjung restoran itu menatap kami penuh tanya. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh restoran kemudian mendengus kesal.
"Aku memang sudah gila, karenamu," bisik Lion lelaki itu menyondongkan tubuh ke arahku kemudian tersenyum miring.
Apa dia seorang psikopat yang terobsesi pada sesuatu? Apa kali ini aku yang akan menjadi korbannya? Sontak aku bergidik ngeri.
"Apa lagi yang ingin kamu tanyakan?"
"Jadi, kamu bekerja sama dengan Miya juga untuk menjebakku masuk ke dalam perangkapmu?"
"Lebih tepatnya bukan menjebak. Aku hanya ingin menolongmu, Na. Aku tidak suka kamu meneteskan air mata. Terlebih lagi air mata itu jatuh karena lelaki brengsek itu!" seru Lion penuh emosi. Lelaki itu menyipitkan mata kemudian membuang pandangan.
"Mas Natan? Kamu juga mengenal dia? Apa kamu memiliki sebuah dendam kepadanya di masa lalu?" cecarku.
"Bukan dendam. Hanya ...." Ucapan Lion menggantung di udara, obrolan kami terjeda karena seorang pelayan datang sambil membawa pesanan.
"Monggo silahkan, Pak."
"Iya, makasih, ya."
"Makan dulu, setelah itu kita bicara lagi."
__ADS_1
Aku mendengus kesal. Sebenarnya masih banyak pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Namun, semua itu terkalahkan oleh rasa lapar yang mendera perutku. Akhirnya, aku menuruti ucapannya untuk kembali berbincang setelah makan.