
Mataku membulat sempurna ketika mengetahui siapa lelaki yang baru saja masuk ke kamar inapku itu. Dia adalah kasir yang bekerja di resto Korea, tempat aku dan Mas Natan makan sebulan yang lalu.
"Ka-kamu ngapain di sini?"
"Ah, tadi saya yang nganter Mbak Nana ke sini."
"Iya, tadi Lion yang mengantarmu." Ibu tersenyum lembut lalu menyuruh lelaki itu masuk.
"Ini, Mbak. Di makan, ya."
Lelaki bernama Lion itu menyodorkan beberapa mika berisi buah stroberi. Lalu dia menghampiri bapak, dan duduk di tikar sambil berbincang. Sedangkan ibu kembali sibuk menyuapiku.
Setelah selesai makan, aku langsung menanyakan perihal kondisiku. Kenapa bisa aku mengalami datang bulan, tetapi rasanya begitu luar biasa nyeri. Padahal biasanya aku tidak pernah seperti itu.
Aku hampir tidak pernah merasakan nyeri dan kram perut ketika datang bulan. Paling hanya rasa pegal pada pinggang ketika darah kotor tersebut hendak keluar. Tidak seperti hari ini, rasanya lemas sekali dan nyeri luar biasa.
"Bu, kok aku mau datang bulan nyerinya minta ampun, ya? Padahal sebelumnya aku nggak pernah begini."
Ibu yang tadi tersenyum lebar, mendadak lengkung bibirnya kembali datar. Beliau membuang muka kemudian mengembuskan napas berat. Kulihat bapak dan ibu saling menatap. Sedangkan Lion tertunduk lesu sambil mengusap tengkuk.
"Bu, Pak. Kalian kenapa?" tanyaku sambil mengerutkan dahi.
"Na, sebenarnya kamu keguguran," ucap ibu sembari menghela napas kasar.
Satu kalimat yang diucapkan ibu sukses membuatku bingung. Aku keguguran? Bahkan aku tidak merasa diriku sedang mengandung. Namun, sedetik kemudian aku terdiam. Menyadari kondisi tubuhku yang tidak biasa.
__ADS_1
Aku teringat beberapa jam lalu aku merasa mual, lalu memuntahkan seluruh isi perutku. Aku langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja samping brankar, membuka kalender, meneliti kapan tamu bulananku terakhir datang.
Kini mataku membulat sempurna. Ternyata aku sudah terlambat datang bulan selama dua minggu! Aku menatap ibu yang kini mulai berkaca-kaca. Tubuhku lunglai tak berdaya. Kekuatanku seakan lenyap entah ke mana.
Bumi seakan berhenti berputar. Duniaku rasanya runtuh seketika. Bodohnya aku tidak menyadari kalau sedang mengandung. Ibu dan istri macam apa aku?
"Bu, kenapa aku nggak menyadarinya?" Dadaku terasa begitu sesak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Bu, kenapa aku bisa nggak tahu kalau sedang mengandung?"
"Na, yang sabar, ya?" Ibu merengkuh tubuhku kemudian memelukku erat. Sesekali beliau mengusap punggungku dan terus mengucapkan untaian kalimat untuk menenangkanku.
"Na, semuanya sudah takdir. Kamu yang sabar, ya? Jangan menyalahkan diri sendiri."
Jiwaku benar-benar tergoncang. Aku harus kehilangan apa yang sudah kunanti selama ini. Ketika calon bayiku hadir dalam rahim, aku tak menyadarinya.
Apa ini hukuman dari Allah karena telah lalai dengan titipan-Nya? Akan tetapi, aku benar-benar tidak tahu kalau sedang mengandung. Aku pasti lebih berhati-hati kalau mengetahuinya.
Air mata kini membanjiri pipiku. Isak tangis juga mulai lolos dari bibirku. Ibu terus memeluk dan berusaha menenangkanku. "Nggak pa-pa. Sabar, ya. Semoga nanti Allah segera memberi ganti."
"Tapi kapan lagi, Bu? Ketika Allah memberiku kesempatan, aku tidak menyadarinya. Dan berakhir begitu menyedihkan karena aku tidak memahami kondisi tubuhku sendiri."
Aku terus menyalahkan keadaan dan kebodohanku. Sesak sekali rasanya mengetahui kehilangan calon bayiku. Jika waktu bisa diputar, aku akan lebih berhati-hati dan teliti memerhatikan siklus haidku.
Di tengah keterpurukanku, tiba-tiba pintu bangsal dibanting kasar. Sontak aku, ibu, bapak, dan Lion menatap ke arah pintu. Mas Natan terlihat begitu marah. Dia menatap tajam ke arah Lion, menghampiri lelaki itu, lalu menarik kaosnya hingga kini mereka berdiri sejajar.
__ADS_1
"Natan, hentikan, apa yang kamu lakukan!" teriak Bapak sembari memegang lengan Mas Natan berusaha melerai mereka berdua.
"Siapa pria brengsek ini? Kenapa dia bisa ada di sini!" teriak Mas Natan seperti orang kesetanan.
"Mas, sabar. Saya ...."
Belum sampai Lion menjelaskan semuanya, Mas Natan telah mendaratkan kepalan tangannya pada pipi lelaki tampan itu. Aku berteriak karena terkejut, begitu juga dengan ibu.
"Mas Natan, tolong jangan seperti itu." Aku mencoba menenangkan Mas Natan.
"Na, kamu ada hubungan apa dengan pria ini? Pantas saja waktu itu dia menatapmu genit!" tuduh Mas Natan.
Emosiku seakan memuncak sampai ke ubun-ubun. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran Mas Natan saat ini. Bagaimana bisa aku memiliki hubungan dengan Lion? Kami baru dua kali ini bertemu. Sepertinya ada yang salah dengan isi kepala suamiku ini.
Bapak membantu Lion berdiri, lalu memintanya untuk pergi. "Lion, kamu pergilah. Sebaiknya kamu segera pulang, kami tidak ingin masalah rumahtangga anak-anak kami ketahui orang lain."
Lion mengangguk kemudian berjalan gontai menuju pintu. Bapak mendekati Mas Natan lalu menyodorkan segelas air mineral kepada suamiku itu.
"Minumlah, turunkan amarahmu."
Mas Natan hanya melirik sekilas gelas air mineral itu, kemudian berjalan ke arahku. Rasanya kesal sekali melihat tingkahnya. Bagaimana bisa dia mengabaikan bapakku? Aku benar-benar tidak terima.
Mas Natan sudah bersikap tidak sopan. Dia sama sekali tidak menghormati bapak. Mas Natan menatapku tajam, menarik kursi, kemudian mendaratkan tubuhnya ke atasnya.
"Na, jujur saja sama Mas, siapa laki-laki itu. Mas nggak bakalan marah kalau kamu mau jujur."
__ADS_1
Telingaku sakit mendengar ucapan Mas Natan. Tunggu, bukan hanya telingaku yang sakit. Hatiku pun terasa nyeri. Bagaimana bisa dia malah menanyakan perihal Lion, yang jelas-jelas adalah orang asing? Kenapa Mas Natan tidak menanyakan keadaanku? Di saat aku membutuhkannya untuk menguatkanku, Mas Natan malah membuat hatiku semakin lemah.