
Aku menatap tajam Miya yang kini menggenggam erat roda kemudi. Perempuan itu terlihat panik. Beberapa kali dia melirik ke arahku dan menunduk berulang kali.
"Miya, jadi ... Lion itu sebenarnya siapa?"
"Na, maaf. Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku memiliki sebuah janji dalam kontrak perjanjian kerja untuk tidak membeberkan identitas Lion kepada siapa pun."
Aku mengembuskan napas kasar, untuk mengusir rasa kesal sekaligus pemikiran burukku. Barang kali Lion yang Miya kenal, bukanlah Lion yang aku kenal. Aku menanamkan dugaan itu sementara ini.
Aku kembali teringat ucapannya tadi pagi, ketika aku bertanya mengenai Hana. Mungkin saja Lion yang Miya kenal memang benar-benar kekasih barunya. Bisa jadi, Miya masih enggan membuka hubungan asmaranya kepadaku. Aku tidak bisa memaksanya.
"Ya sudah, ayo lanjutkan lagi perjalanannya. Biar kita cepat sampai di rumah Abel."
"O-oke," ucap Miya sambil mengembuskan napas kasar.
Jalanan Kota Solo terlihat lumayan ramai, karena ini adalah malam minggu. Banyak orang yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga mereka, sehingga jalanan kota ini terlihat lebih ramai dari biasanya.
Aki tersenyum kecut, melihat situasi ini. Di saat orang lain sedang bersuka cita menghabiskan akhir pekan bersama keluarga atau kekasih mereka, aku harus berakhir berdua bersama Miya untuk mengejar Abel.
"Na, bener ini rumahnya?"
Pertanyaan Miya membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke luar jendela, kemudian kembali melirik secarik kertas bertuliskan alamat Abel. Di sana aku juga menulis ciri-ciri fisik rumah gadis tersebut, sesuai dengan apa yang disebutkan Mas Natan.
Mas Natan menyebutkan bahwa Abel tinggal di rumah dengan tembok berwarna hijau muda. Di depan rumah tersebut ada sebuah pohon mangga, dan rumahnya terlihat teduh.
"Sepertinya benar." Aku membuka pintu mobil, kemudian turun dan melangkah mendekati rumah dua lantai yang terlihat begitu mewah.
"Rumahnya gede, loh! Anak orang kaya sepertinya. Buat apa juga dia mencuri?" tanya Miya keheranan.
"Ada banyak hal yang bisa memicu seseorang melakukan tindakan kriminal. Apalagi Abel masih remaja. Bisa jadi, hal itu dia lakukan hanya untuk mencari perhatian dari orang lain."
__ADS_1
"Mencari perhatian polisi maksudmu?" Miya terkekeh sambil menyipitkan mata.
"Ya, mungkin gebetannya polisi, jadi selalu cari gara-gara biar dapat perhatian khusus dari polisi itu!" Aku tersenyum konyol untuk menanggapi candaan Miya.
Tawa Miya pecah, begitu juga aku. Kalau dipikir-pikir memang benar. Dulu ketika sekolah, aku sering membuat ulah hingga sering dipanggil ke ruang BP. Alasannya? Ingin sering bertemu dengan guru BP-ku yang begitu tampan! Konyol, tapi memang begitu adanya. Jiwa muda memang suka dengan tantangan dan perhatian lebih dari orang yang mereka sukai.
Setelah berdiskusi ringan dan menebak-nebak alasan Abel mencuri, aku dan Miya melangkah mendekati pintu pagar, kemudian memencet bel bergambar lonceng. Tak lama kemudian, keluar seorang satpam dengan kumis tebal menghias wajahnya.
"Sore, Pak. Bisa ketemu orang tuanya Abel?" tanya Miya sopan.
"Abel, siapa, ya?" Satpam bernama Mamat itu mengerutkan dahi.
"Abel, anak pemilik rumah ini, Pak." Kini giliran aku yang angkat suara.
"Nggak ada yang namanya Abel," kata Pak Mamat kebingungan.
"Ah, Abel ini masih sekolah di bangku SMA, Pak." Miya kembali angkat suara.
"Sepertinya Bapak ini nggak bohong, Ya," bisikku pada Miya.
"Kalau begitu, Bapak mengenal gadis ini atau tidak?" Miya menunjukkan ponselnya. Di dalam layar ponselnya terdapat foto Abel yang sedang berdiri di belakang mobil sambil memainkan ponsel. Agaknya Miya mengambil foto tersebut dari hasil rekaman CCTV mobilnya.
"Oalah ... Mbak Abel?"
Aku dan Miya saling bertatapan kemudian menepuk dahi bersamaan. Kesal rasanya, dari tadi menyebutkan nama Abel, tetapi satpam di hadapanku ini selalu berkilah dan menyangkal bahwa Abel tinggal di rumah ini.
"Hla iya, Pak! Dari tadi kami nanya gadis yang bernama Abel!" seru Miya sembari bersungut-sungut.
Aku mengusap lengan sahabatku ini. Dia menoleh ke arahku, kemudian aku menggelengkan kepala agar Miya tidak tersulit emosi. Abel membuang napas kasar kemudian kembali menanyakan keberadaan orang tua Miya.
__ADS_1
"Jadi, orang tua Abel ada, Pak?" tanya Miya.
"Ibunya sakit, Mbak. Bapaknya juga nggak pernah pulang. Sekalinya pulang, cuma ngamuk minta uang lalu pergi lagi!" Pak Mamat mulai berbicara dengan nada tinggi.
"Kalau Abelnya ada, Pak?" tanyaku penasaran.
Aku sedikit kasihan mendengar cerita mengenai Abel dari Pak Mamat. Aku ingin menemui gadis itu segera untuk memastikan kebenaran cerita dari Pak Mamat.
"Langsung datang saja ke rumahnya, Mbak. Rumah Mbak Abel ada di samping rumah ini." Pak Mamat menunjuk ke arah selatan.
Aku terbelalak melihat bangunan reyot yang hampir roboh itu. Terlihat begitu kontras dengan rumah mewah yang kudatangi sekarang ini.
"Jadi, rumah Abel bukan di sini?" tanyaku.
"Bukanlah, Mbak! Kan dari tadi saya sudah bilang kalau di sini nggak ada yang namanya Mbak Abel! Kalau kalian berdua mencari Mbak Abel, rumah itu adalah rumahnya!" Pak Mamat terlihat kesal, dan kini membanting pintu pagar kasar.
Aku dan Miya sampai tersentak kaget karenanya. Kami saling pandang, kemudian langsung beranjak dari tempat itu. Aku dan Miya berjalan mendekat ke arah bangunan yang bisa dibilang jauh dari kata layak ini.
Memang benar, rumah tersebut memiliki cat berwarna hijau. Namun, bukan hijau muda. Melainkan warna hijau yang sudah mulai luntur karena dimakan waktu. Di depan rumah ini juga ada pohon mangga, sehingga halaman rumahnya terlohat teduh.
Mas Natan nggak salah, sih. Cuma ekspetasiku saja yang terlalu tinggi, karena melihat penampilan Abel yang terlihat begitu canyik, putih, terawat, dan modis. Alu pikir dia tinggal di rumah mewah tadi. Ternyata penampilan memang bisa mengecoh siapa pun yang melihatnya.
"Aku jadi nggak tega mau nyamperin, Ya."
"Na, kamu jangan mudah terkecoh! Bisa saja keduanya salong bekerja sama untuk menutupi kesalahan gadis ini!"
Miya benar. Namun, jika saja ini benar-benar rumah kediaman Miya, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus memaafkan perbuatannya yang jelas-jelas keliru, atau aku harus tetap membuat perhitungan dengan Abel agar dia tidak melakukan lagi hal yang sama.
Aku membuang napas kasar. Berharap mendapat jalan keluar terbaik untuk masalah ini. Aku dan Miya saling tatap ketika sudah berada di depan pintu rumah Abel. Aku mengangguk, kemudian Miya mulai mengetukkan kepalan tangannya di atas pintu yang terbuat dari tripleks itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian pintu terbuka. Kami terbelalak, begitu juga dengan Abel. Gadis itu langsung menutup lagi pintu rumah. Aku berhasil menahannya, tetapi sialnya jari-jariku terjepit sebelum Abel membuka lagi pintu rumahnya.
"Kita bicarakan semuanya baik-baik! Tolong ijinkan kami masuk!" teriakku sambil meringis menahan sakit.