
Pak Arka membanting kalkulator di depannya ke atas lantai. Benda berwarna hitam itu kini hancur. Aku menelan ludah kasar. Sepertinya aku sedang membangunkan singa yang sedang tertidur pulas. Berulang kali aku merutuki kebodohanku malam ini.
"Jika ada yang salah dengan hitunganku, maka ...." Pak Arka menaikkan satu alisnya sambil tersenyum miring.
"Kalkulatornya yang rusak! Bukan otak atau pun jari-jari saya!"
Bibirku menganga lebar. Manusia bernama Arka ini ternyata begitu sombong sampai menganggap dirinya paling sempurna dan tidak pernah salah. Astaga! Berasal dari planet Bumi bagian mana Pak Arka? Tingkat kesombongannya melebihi ambang batas wajar yang dianjurkan.
"Jadi, kapan mau bayar?" tanya Pak Arka.
"Tunggu gajian, Pak. Kalau sekarang, saya sedang tidak ada uang." Aku mengucapkan kalimat itu dengan mada mengiba. Berharap Pak Arka hanya sedang mengerjaiku saja, atau paling tidak mengurangi nominal yang harus aku ganti.
"Baiklah. Yuli, karena bulan depan gajian cash, langsung potong gaji Nana!" seru Pak Arka kepada Yuli, staf admin toko tempatku bekerja.
Aku terbelalak seketika. Ternyata Pak Arka tidak main-main dengan ucapannya. Aku mendengus kesal kemudian keluar dari kantor. Sepanjang perjalanan kembali ke kasir aku terus menggerutu. Namun, memang kesalahanku juga karena tidak teliti dengan apa yang aku kerjakan.
"Kusut banget, mukamu? Kenapa?" tanya Uni sembari mengosongkan isi lacinya.
"Kena denda aku! Kampret, sih!" gerutuku sambil memasukkan nominal tutup kasir ke dalam komputer.
"Kelihatan sih! Hari ini kamu nggak fokus, Na! Ya sudah, aku tutup kasir dulu!" Uni melangkah masuk ke kantor, sedangkan aku kembali membereskan meja kasir dan juga nota Uni yang berserakan ke mana-mana.
Jam menunjukkan pukul 21:39 ketika aku mulai melajukan motor di ruas Jalan Adi Sucipto. Jalanan masih ramai dengan para pedagang kuliner malam yang berjajar di pinggir jalan. Mulai dari Nasi Liwet, Mi Ayam Bakso, warung tenda Susu Segar, hingga Sego Hik (Nasi Kucing). Aku menelan ludah kasar untuk menahan keinginanku makan malam.
Perutku sebenarnya sudah protes karena tinggal berisi angin, yang berulang kali terbuang lewat saluran cerna bagian akhir. Namun, rasa penasaran akan ucapan Abel tadi siang tak dapat kubendung lagi sehingga aku berhasil mengabaikan cacingku yang mulai protes. Setelah sampai di parkiran motor Rumah Sakit mewah pusat kota Solo, aku langsung menghubungi Abel agar menjemputku di lobi rumah sakit.
"Oke, aku ini sambil jalan ke lobi. Kutunggu, ya?"
Aku mengakhiri sambungan telepon, kemudian memasukkan benda pipih tersebut ke dalam tas. Tangan kananku sibuk menenteng parcel buah yang tadi kubeli di Supermarket. Sambul melangkah menuju lobi, aku mengamati arsitektur Rumah Sakit Mewah ini.
"Gila, sih! Ini lebih mirip seperti hotel bintang lima daripada tempat merawat orang sakit!"
Aku menggeleng sambil berdecak kagum. Bangunan sepuluh lantai itu memiliki lobi dengan sofa empuk layaknya lobi pada hotel. Sebagian besar bangunannya terbuat dari kaca, sehingga aku bisa melihat suasana malam hari dari dalam gedung.
__ADS_1
Tak lama kemudian, bahuku ditepuk pelan. Ketika menoleh, Abel sudah tersenyum lebar kepadaku. Aku pun membalas senyuman gadis itu.
"Ayo, Mbak!" Abel menarik pelan lenganku.
Aku mengangguk lalu mengekor di belakang Abel. Lima menit kemudian, kami sudah sampai di ruang inap Ibu Abel. Aku kembali dibuat takjub oleh ruang rawat Rumah Sakit ini.
Ruangan yang aku rasa lebih mewah daripada hotel bintang lima sekalipun. Ruangan ini memiliki sofa dan juga dapur kecil. Bahkan dilengkapi fasilitas lain seperti lemari pendingin, kompor, microwave, dan masih banyak lagi.
"Gila! Ini sih udah macem apartemen!" gumamku.
Ternyata Abel mendengar gumaman yang kupikir tidak begitu jelas jika didengar orang lain ini. Dia tertawa kecil, sepertinya takut mengganggu istrirahat sang ibu. Gadis itu sampai membungkam bibir agar tawanya tidak pecah.
"Kenapa, Bel?" tanyaku sembari menautkan alis.
"Mbak Nana baru pertama kali ke sini? Padahal saudaranya yang punya loh!" Kini Abel sudah melepaskan tangannya dari atas bibirku.
Aku menautkan kedua alis. Saudaraku? Saudara yang mana? Perasaan aku nggak pernah tahu kalau punya saudara sekaya ini. Ah, mungkin Abel salah.
"Nih diminum dulu, Mbak!" Abel menyodorkan sebotol air mineral yang sudah mengembun di bagian luar wadahnya.
Aku langsung membuka tutupnya dan mulai meminumnya perlahan. Kerongkonganku pun basah. Merasa masih haus, aku kembali meneguk air itu untuk menghilangkan dahaga.
"Yang punya Rumah Sakit ini, 'kan ayahnya Makutha, Mbak!"
Sontak aku tersedak mendengar ucapan Abel. Sampai sebagian air keluar dari hidungku. Aku terbatuk-batuk dan merasa hidungku tak nyaman.
"Kak, pelan-pelan minumnya." Abel menepuk pelan punggungku.
"Aku benar-benar nggak tahu kalo Om Reza pemilik Rumah Sakit ini!" seruku setelah batukku reda.
"Yang benar, Mbak?" Kini giliran Abel yang terbelalak.
Aku mengangguk tanpa ragu. Sejujurnya aku tidak terlalu memperhatikan atau benar-benar memedulikan pekerjaan Om Reza. Bagiku bisa melihat Bulik Liontin hidup bahagia bersamanya sudah menjadi berkah bagiku.
__ADS_1
Aku masih ingat betul bagaimana ibu menceritakan kisah masa lalu Bulik Liontin. Beliau terus menangis setiap menceritakan kisah tersebut. Sepertinya menjadi luka tersendiri bagi seorang kakak, karena melihat kesedihan sang adik. Selain itu, ibu berkata bagaiman para warga dengan teganya mengusir Bulik.
"Mbak?" Abel menggerakkan telapak tangannya di depan wajahku hingga membuat aku mengerjap berulang kali.
"Mbak, Makasih, ya," ucap Abel sambil tersenyum lembut.
"Terima kasih untuk apa?"
"Aku sudah bersikap buruk terhadap Mbak Nana, tapi Mbak membalasnya dengan banyak sekali perbuatan baik. Sejujurnya aku malu, Mbak."
"Nggak pa-pa, Bel. Itu masa lalu. Jangan pernah diingat lagi jika membuat hati sakit. Cukup jadikan sebuah pelajaran hidup."
"Mbak Nana sebenarnya sangat cocok dengan Mas Natan. Kenapa harus berpisah?"
Hampir saja aku lupa! Aku ingin menanyakan maksud perkataan Abel tadi siang, tetapi malah mengobrol tidak jelas. Aku menelan ludah kasar sebelum menjawab pertanyaan Abel.
"Karena kami sudah tidak cocok. Terlebih lagi dia sudah menodai pernikahan kami dengan meniduri kamu."
Gadis ini kenapa malah mengingatkanku mengenai luka yang belum kerinh itu? Apa dia sengaja? Aku melirik Abel. Dia tertunduk lesu.
"Maaf karena hari itu aku sudah bohong ke Mbak Nana."
"Bohong gimana?" tanyaku semakin kebingungan.
"Sebenarnya kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri itu. Aku juga masih perawan sampai sekarang. Aku terpaksa berbohong karena begitu membutuhkan uang dari Mas Natan. Maaf, Mbak."
"Tunggu, jadi yang kamu ucapkan suamiku ngasih uang secara cuma-cuma itu beneran?"
Abel mengangguk. Tatapannya kini berubah nanar. Gadis itu juga mulai berkaca-kaca.
"Aku bingung! Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Sebenarnya ...."
__ADS_1