
Jam menunjukkan pukul 07:45 ketika aku sampai di butik Miya. Suasana masih sepi. Aku harus menunggu di luar butik, karena orang yang memegang kunci butik belum datang.
Tak lama kemudian, perempuan judes yang kemarin menyambutku dengan tidak baik pun datang. Dia menatapku sekilas kemudian mendekati pintu utama dan membukanya.
Perempuan itu langsung menuju kasir dan membersihkan area tersebut. Aku mendekatinya, lalu mencoba mengajak berbicara. Aneh saja kalau rekan kerja tidak saling mengenal.
"Nana." Aku mengulurkan tangan mencoba memperkenalkan diri padanya.
Perempuan itu melirik tanganku sekilas, kemudian kembali mengelap meja kasir. Akhirnya aku menggenggam lagi jemariku dan menggaruk kepala yang tertutup jilbab.
"Namanya ... siapa, Mbak?"
"Hana," jawabnya ketus.
Aku tersenyum kecut melihat tingkah perempuan di hadapanku ini. Akan tetapi, aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
"Baiklah, aku ke ruang kerjaku dulu, ya?" pamitku sambil mengulaskan senyum ramah.
"Hem." Lagi-lagi Hana menjawabku ketus.
Aku mencoba mengabaikan tingkah buruknya itu. Aku langsung masuk ke ruang admin dan membersihkan ruangan tersebut sebelum mulai bekerja.
Lima belas menit berlalu, ruangan yang akan jadi tempat bekerjaku ini sudah bersih. Aku mulai membuka laporan penjualan kemarin. Selain itu aku meneliti lagi stok produk serta hasil penjualan. Apakah sama, atau ada selisih.
Setelah meneliti semuanya, ada sedikit kejanggalan. Sejak pembukaan, toko ini belum melakukan pengecekan stok produk. Sehingga data stok barang dan barang yang ada di toko masih rancu.
Aku mencoba menanyakan hal ini kepada Miya. Dia langsung mengangkat telepon begitu nada tunggu pertama selesai terdengar. Aku menatap layar komputer sambil mengobrol dengan sahabatku itu.
"Ada apa, Na?"
"Nggak kok, Ya. Aku cuma ingin memastikan sekaligus meminta ijin."
__ADS_1
"Kenapa, Na? Sepertinya serius sekali?"
"Kamu belum ngadain stock opname, ya? Selama ini?"
"Kalo stock opname memang aku belum pernah mengadakannya, Na. Belum sempat juga. Butik masih terhitung ramai."
"Aku boleh bantu cek jumlah produk yang ada?"
"Wah, boleh sekali!" Suara Miya terdengar sangat bersemangat.
"Baiklah, setelah aku selesai mengerjakan administrasi, aku akan mengecek ketersediaan stok untukmu!" seruku penuh semangat sembari tersenyum lebar.
"Oke! Aku tunggu laporannya!"
...***...
Aku menatap beberapa lembar kertas bertuliskan deretan angka. Kupijat pelipis yang mulai berdenyut. Ada banyak sekali selisih antara data dengan barang yang ada di toko.
Miya melempar asal tasnya ke atas sofa kemudian berjalan ke arahku. Dia duduk di atas kursi, kemudian menyandarkan punggungnya pada kepala kursi.
"Bagaimana bisa, Na? Dua lusin lebih loh, ini!" seru Miya sambil memijat pelipisnya.
"Entahlah, Ya. Nanti kamu bisa ulang hasil perhitunganku. Siapa tahu aku salah."
"Nyesel aku dari kemarin nggak ngadain stock opname." Miya mengembuskan napas berat.
"Ada CCTV, 'kan?" tanyaku.
"Sialnya aku baru pasang seminggu yang lalu. Jadi nggak tahu sebelumnya apa saja yang terjadi sebelum CCTV dipasang."
"Baiklah, yang terlanjur biarlah. Yang penting sekarang kita bisa mengupayakan pencegahan. Semoga hal seperti ini nggak terjadi lagi, Ya. Kamu yang sabar, ya?" Aku mengusap lembut lengan sahabatku ini.
__ADS_1
"Thanks, Na."
"Oh, ya. Hana itu ... memang orangnya seperti itu, ya?" tanyaku penasaran.
"Maksudnya?"
"Dia selalu ketus, kalau sama aku, Ya. Jadi ngerasa nggak nyaman kalau situasinya begini."
"Abaikan saja. Biasa ... dia itu adik dari pemilik butik ini. Jadi ...." Mendadak Miya menghentikan ucapannya kemudian memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.
"Dia adikmu?" Aku membulatkan mata.
Setahuku Miya adalah anak tunggal. Dia tidak memiliki saudara. Aku tahu betul hal itu, karena dulu kami sering bergantian menginap di rumah ketika libur bersamaan. Aku mulai merasa aneh.
"Di-dia ...." Miya terlihat berpikir, kini tubuhnya duduk tegap.
"Ah, dia calon adik iparku!" Miya tersenyum canggung kemudian menggaruk puncak kepalanya.
"Wah, kamu udah ada calon suami? Kok nggak dikenalin?"
"Dia lagi di luar negeri, Na. Urus mamanya yang lagi sakit!"
"Weh, asyik nih, dapet bule!" godaku.
Miya tersipu malu. Kemudian mencubit lenganku. Aku terkekeh mengetahui fakta bahwa Miya sudah memiliki pengganti.
"Semoga dia pria yang baik, ya?" Aku tersenyum lebar sambil menatap lembut perempuan di hadapanku ini.
"Iya, dia pria yang sangat baik, Na."
Bibir Miya mengucapkan hal itu sembari tersenyum. Akan tetapi, ada yang janggal. Tatapannya menerawang jauh. Entah apa yang sedang dipikirkan temanku ini. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.
__ADS_1