Burung Suamiku Meresahkan

Burung Suamiku Meresahkan
Bab 13. Suamiku yang Egois


__ADS_3

Operasi Mas Natan berjalan lancar. Aku bersyukur dalam hati. Paling tidak Mas Natan masih bisa hidup. Jika sampai dia tak selamat, pasti rasa bersalah akan menghantuiku seumur hidup.


Kutatap nanar lelaki di hadapanku ini. Dia masih tertidur pulas karena pengaruh obat bius. Aku mencoba membangunkannya sesuai instruksi dari dokter. Dia baru bisa dipindahkan ke bangsal, jika sudah membuka mata.


"Na, kamu makanlah. Biar ibu yang gantian jaga suamimu."


"Nggak, Bu. Nana mau temenin Mas Natan sampai dia sadar." Aku menggenggam jemari Mas Natan sambil terus menatapnya.


Mungkin orang akan menganggapku wanita bodoh. Masih mempedulikan lelaki yang lebih mementingkan burung peliharaan daripada anak dan istrinya sendiri. Namun, hanya aku yang mengerti bagaimana perasaanku.


Rasa cintaku kepada Mas Natan mengubah segalanya. Aku bisa memaafkannya secepat itu. Hal itu aku lakukan, karena Mas Natan sudah memiliki niat untuk kembali bersamaku.


Buktinya ia menjual Kaja, dan ingin menjemputku kembali. Meski pada akhirnya semua berujung menyedihkan. Dia harus mengalami kecelakaan ini, dan terbaring tak berdaya di atas brankar.


Tak lama kemudian, aku merasakan jemari Mas Natan mulai bergerak. Dia perlahan membuka mata. Aku mendekatkan wajah pada Mas Natan, kembali memanggil namanya agar segera terbangun.


"Mas, sudah sadar? Apa Mas Natan membutuhkan sesuatu?"


Mas Natan membuka mata lebar. Aku melihat ada sorot kerinduan terpancar dari kedua netranya. Bibir suamiku ini mulai bergerak, hendak mengucapkan sesuatu.


"Aku mau minum," ucapnya lemah.


"Mas Natan nggak boleh minum dulu setelah operasi. Tunggu efek obat biusnya hilang dulu, supaya pencernaan Mas Natan berfungsi lagi."


Ketika aku sedang berbicara dengan Mas Natan, seorang perawat menghampiri. "Bapak sudah sadar, Bu?"


"Sudah, Sus," jawabku singkat.


"Baiklah, Bapak kami bawa ke bangsal. Kebetulan sudah ada kamar kosong. Mari, Bu." Suster tersebut langsung mendorong brankar dan aku mengikutinya, begitu juga dengan ibu.


Setelah sampai di kamar inap, Mas Natan dipindahkan ke ranjang pasien oleh dua orang perawat pria. Para perawat tersebut mengatur infus dan memastikan keadaan Mas Natan baik-baik saja, sebelum mereka semua pamit.


"Bu, saya pamit, ya? Nanti kalau ada apa-apa segera hubungi kami di konter perawat."


"Baik, Sus."


"Oh, ya. Bapak baru diperbolehkan minum setelah buang gas, itu pun tidak boleh banyak-banyak, ya? Berikan bertahap dalam jumlah sedikit."


Aku mengangguk kemudian tersenyum tipis. Perawat cantik itu berlalu meninggalkan kami. Mas Natan memanggil namaku, sehingga membuatku segera mendekat.

__ADS_1


"Na," panggil Mas Natan.


"Iya, Mas. Gimana?"


"Maaf, ya, sudah bersikap egois terhadapmu?"


"Sssttt ... Mas Natan nggak boleh begitu. Aku sudah memaafkan Mas Natan. Sekarang Mas Natan pulihkan kondisi dulu, ya?"


Mas Natan mengangguk kemudian kembali memejamkan mata. Aku rasa suamiku ini masih dalam pengaruh obat bius. Ibu menepuk pelan bahuku.


"Na, kamu makanlah. Sejak pagi kamu belum makan apa pun.


"Baik, Bu." Aku tersenyum kepada ibu, kemudian kembali menatap Mas Natan.


Aku keluar kamar, lalu menyusuri koridor rumah sakit. Aku memutuskan untuk membeli makanan di kantin, dan membawanya kembali ke ruang Mas Natan dirawat.


Ketika sampai di depan kamar inap Mas Natan, aku mendengar sesuatu dibanting ke atas lantai. Aku langsung membuka pintu, dan mendapati ruangan itu sudah berantakan.


Tiang menyangga infus sudah roboh ke lantai. Selangnya pun sudah tidak lagi menempel pada tangan Mas Natan. Darah segar mengalir dari tangan Mas Natan, dan membasahi sprei serta lain.


"Astaghfirullah, Mas! Kamu kenapa?"


"Mas Natan kenapa?" tanyaku.


"Semua gara-gara kamu!" teriaknya.


"Aku mengalami kecelakaan ini, dan sekarang tidak bisa berjalan karena kamu!" Dada Mas Natan naik turun dengan mata memerah seperti menahan tangis.


Aku langsung bungkam. Kenapa jadi aku yang kembali disalahkan? Aku mendekati Mas Natan, dan berusaha menenangkannya lagi.


"Mas, apa salahku?"


"Kalau saja kami nggak pakai acara pulang ke rumah orang tuami, pasti ini semua nggak akan terjadi!" teriak Mas Natan.


Ternyata aku salah. Suamiku memang bukanlah Mas Natan yang dulu. Dia benar-benar sudah berubah. Detik itu juga aku memutuskan untuk meninggalkannya. Aku tak mau lagi hidup dengan lelaki sepertinya.


"Mas, aku ingin bertanya satu hal kepada Mas Natan." Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.


"Mas Natan masih mencintaiku atau tidak?"

__ADS_1


"Apa maksudmu menanyakan hal itu?" Mas Natan mengerutkan dahi.


"Sebenarnya pagi ini aku ingin memasukkan berkas ke pengadilan agama untuk menggugat cerai Mas Natan."


Kulihat ekspresi wajah Mas Natan berubah. Dia terbelalak dengan bibir menganga lebar. Aku membuang napas kasar lalu menatapnya tajam. Bibirku sedikit gemetar ketika hendak melanjutkan ucapanku.


"Aku ingin kita berpisah. Aku tidak mau terus disalahkan olehmu, Mas. Padahal menurutku, aku tidak pernah melakukan suatu hal yang keliru."


Mas Natan tersenyum miring, lalu membuang pandangannya. Tak lama kemudian dia kembali menatapku tajam, dan senyumannya seketika lenyap.


"Jadi pergi dari rumah tanpa ijin suami itu tidak keliru? Kamu memilih pulang ke rumah orangtuamu tanpa ijinku, Na! Apa itu bukanlah hal yang keliru?" Mas Natan sepertinya mencoba untuk membalikkan keadaan.


"Itu aku lakukan karena kondisiku yang masih lemah pasca keguguran dan pendarahan, Mas! Aku butuh ibu untuk merawatku!"


"Kan bisa ibu yang menginap di rumah kita! Nggak harus kamu yang ikut pulang ke sana!"


"Ibu ada tanggungan pekerjaan di kampung, Mas! Memangnya Mas sanggup mengganti biaya hidup ibu jika beliau tinggal di sini?"


"Alasan saja, kamu! Kamu nggak boleh ke manapun sampai aku bisa berjalan lagi! Setelah itu kita bercerai!"


Jantungku seakan berhenti berdetak. Mataku terasa begitu panas, dan hatiku seakan teriris sembilu. Kenapa harus menunggu dia bisa kembali berjalan untuk bercerai?


Itu artinya dia hanya memanfaatkanku saja! Aku tidak sudi lagi dipermainkan oleh Mas Natan. Aku tersenyum miring kemudian melipat lengan di depan dada.


"Aku tidak mau menuruti keegoisanmu kali ini, Mas! Aku akan tetap mengajukan gugatan cerai tanpa menunggu kamu pulih!"


Tanpa kusadari ternyata ibu sudah ada di belakang kami. Beliau berjalan ke arahku, dan menepuk pelan bahuku. Aku menoleh, menatap wajah ibuku yang mulai menua.


"Bu, ikhlaskan aku untuk bercerai dengan Mas Natan. Ibu lihat sendiri, 'kan? Bagaimana sikapnya sekarang? Dia bukan lagi Mas Natan yang dulu, Bu." Tak terasa air mataku jatuh ke pipi.


Aku benci harus meneteskan lagi air mata hanya karena lelaki egois ini. Dia sudah memperlakukanku seburuk ini, tetapi kenapa masih sudi meneteskan air mata untuknya?


"Na, bertahanlah sedikit lagi. Dia membutuhkanmu. Natan hanya shock atas keadaannya sekarang. Sebagai istri, seharusnya kamu tetap berada di sampingnya. Memberinya kekuatan."


"Bu ...," rengekku.


Ibu mengusap pipiku kemudian tersenyum lembut. Namun, aku bisa melihat jelas kepedihan terpancar dari sorot matanya. Aku kembali dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Tunggu, aku bahkan tidak memiliki pilihan lain. Aku tersenyum kecut.


Seorang perawat masuk ke kamar, lalu kembali memasang selang infus ke tangan Mas Natan. Aku berpamitan kepada ibu hendak keluar sebentar mencari angin. Menenangkan hatiku sendiri yang tengah kalut. Aku harus kembali berdamai dengan keadaan.

__ADS_1


Jika bukan karena permintaan ibu. Aku tidak akan sudi mengurus suami egoisku ini. Aku hanya bisa berharap, dia bersikap seperti tadi karena sedang terkejut. Semoga setelah ini, dia kembali seperti Mas Natan yang dulu.


__ADS_2