
Setelah Jacelyn melihat Pratama yang penuh dengan darah dan luka Jacelyn langsung menariknya membawanya ke ruang tamu.
Pratama berjalan dengan terhuyung-huyung, Jacelyn menyuruh Pratama untuk duduk, sebenarnya Jacelyn sudah menyarankan Pratama untuk pergi ke rumah sakit dan akan di antar oleh Jacelyn, tetapi Pratama menolaknya.
Jacelyn pergi menuju ruangan untuk mengambil kotak P3K, setelah Jacelyn kembali dia membersihkan luka dan darah yang tetap menetes di wajah Pratama.
" Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Jacelyn sembari membersihkan luka Pratama.
" Nanti aku jelaskan, tetapi bersihkan dulu luka ini." Jawab Pratama yang menahan sakit.
Jacelyn juga sadar dengan keadaan Pratama sekarang, dia tidak memaksakan kehendaknya untuk bertanya lebih lanjut, dia akan menunggu penjelasan Pratama dengan kemauan Pratama itu sendiri.
Jacelyn terfokus dengan luka-luka yang ada di wajah Pratama, terutama di pelipis mata Pratama yang sedari tadi tetap mengeluarkan darah.
Jacelyn tetap mencoba untuk memberhentikan darah yang terus keluar dari pelipis mata Pratama dengan mengoleskan obat merah dan membersihkan pasir yang menempel di luka itu.
Ketika Jacelyn tanpa sengaja menyentuh luka itu dengan sedikit kasar, Pratama meringis menahan sakitnya.
" Maaf, aku tidak sengaja, karena aku mudah panik jika melihat darah." Ucap Jacelyn meminta maaf.
" Tidak apa-apa, maaf sudah merepotkan mu." Jawab Pratama dengan suara berat.
" Jangan memikirkan itu sekarang, aku juga tidak merasa kamu repot kan." Jawab Jacelyn dengan tegas.
Jacelyn kembali berfokus mengobati Pratama, dengan lembut dia membersihkan luka di wajah itu.
Sampai luka itu benar-benar bersih.
" Sekarang lukanya sudah bersih dan sudah tertutup semua kulit yang luka, kamu tunggu di sini sebentar, aku akan mengambilkan air hangat untuk mengompres luka lebam mu itu." Kata Jacelyn.
Pratama hanya mengangguk tanda mengiyakan perkataan Jacelyn.
Sampai beberapa menit kemudian Jacelyn kembali lagi ke tempat Pratama duduk dengan membawa handuk kecil dan air hangat.
" Lebih baik kamu tiduran, lebih mudah untuk mengompresnya." Ucap Jacelyn.
Pratama langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu.
Jacelyn dengan teliti dan pelan-pelan mengompres luka lebam Pratama.
__ADS_1
Pratama yang mengamati wajah Jacelyn dengan tatapan yang tajam menuju ke arah mata Jacelyn membuat Pratama berfikir.
" Andaikan saja kamu tahu identitas ku yang sebenarnya, mungkin kamu sudah menjadi milikku saat ini, sayangnya aku masih ingin mencoba ketulusan mu untuk ini." Ungkapnya dalam hati.
Jacelyn yang menyadari bahwa Pratama tengah menatapnya sekarang, membuat jantungnya berdentum dengan cepat.
Jacelyn ingin sekali membuang pandangannya ke arah lain tapi seakan dia tidak bisa menahannya dan membalas tatapan tajam Pratama.
Sekarang kedua mata itu sedang berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, nafas berat dan hangat Pratama yang menghembus ke arah Jacelyn.
Membuat Jacelyn semakin tegang dengan keadaan itu, wajah Jacelyn yang semakin dekat seperti ingin mencium bibir Pratama, Jacelyn yang berusaha keras untuk menahannya tetap saja dia tidak bisa menahan rasa yang menimpanya sekarang.
Kedua orang itu sekarang tengah mendapatkan sesuatu yang sama-sama mereka inginkan.
Jacelyn dengan mulutnya yang terbuka seakan ingin menguasai bibir Pratama dengan penuh.
Sampai beberapa saat Jacelyn melepaskan ciumannya itu.
" Apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidak bisa menahannya, dasar wanita bodoh." Jacelyn merutuki dirinya sendiri.
" Maafkan aku." Kata Pratama.
" Tidak, bukan kamu yang salah disini, aku yang tidak bisa menahannya, maafkan aku." Jawab Jacelyn dengan menahan rasa malu.
Pratama tidak mau meneruskan ucapannya karena dia tau jika dia berbicara lagi itu akan membuat Jacelyn menjadi emosi.
" Lupakan saja kejadian ini!" Terus Jacelyn.
" Tapi...?" Pratama yang ingin menjawab ucapan Jacelyn dengan cepat Jacelyn memotongnya.
" Yang terpenting lupakan saja, aku tidak ingin ada orang yang tahu kejadian ini dan aku tidak ingin terbawa lebih dalam dari ini." Ucapan Jacelyn yang memotong pembicaraan Pratama.
Mendengar penjelasan Jacelyn itu membuat Pratama duduk.
" Bagaimana aku bisa melupakannya? Sedangkan ini adalah ciuman pertama ku?" Ucap Pratama dengan suara yang meninggi.
Mendengar itu Jacelyn terkejut dengan mulut ternganga.
" Apa? Ini ciuman pertamamu?" Tanya Jacelyn.
__ADS_1
" Iya benar, ini adalah ciuman pertamaku, sebelumnya aku sudah pernah bercerita tentang kisah cintaku, aku belum pernah menjalin sebuah hubungan dengan siapapun." Jelas Pratama.
Jacelyn terdiam sejenak mendengar penjelasan Pratama.
" Maafkan aku." Ucap Jacelyn dengan nada menyesal.
" Tidak apa-apa, semua sudah terjadi, jadi biarkan saja, tapi jika untuk melupakannya aku tidak bisa, aku juga tidak akan pernah bilang ke siapapun tentang kejadian ini." Jawab Pratama dengan tenang.
Jacelyn hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang.
" Baiklah, sekarang aku bertanya, siapa yang melakukan semua ini kepadamu? Sampai kamu babak belur begini?" Tanya Jacelyn yang mengganti topik pembicaraan.
" Aku tidak tahu, tadi aku pergi ke tempat teman ku, ketika aku ingin pulang di tengah-tengah perjalanan aku di hadang oleh dua orang, dia bertanya kepada ku dimana aku menyembunyikan kamu, tetapi aku menjawab tidak tahu, setelah aku menjawab mereka berdua langsung memukuli aku sampai seperti ini." Jelas Pratama.
Sebenarnya Pratama sudah tahu pelakunya tetapi Pratama tidak membalasnya karena dia tahu yang melakukan ini adalah orang tua Jacelyn terutama ibunya Jacelyn yang sangat membenci Pratama.
Tetapi Pratama tetap memegang janjinya, Pratama pernah berjanji, dia akan membalas perbuatan lebih dari yang telah dia dapatkan, kecuali untuk keluarga Jacelyn.
Janji itu yang membuat Pratama tidak bisa apa-apa, walaupun dia akan di bunuh tetap saja dia akan diam saja jika yang melakukan itu adalah keluarnya Jacelyn.
" Tapi kenapa? Kenapa kamu melakukan ini? Kamu juga bisa membela diri kamu kan?" Ucap Jacelyn dengan heran.
" Jika aku benar aku akan membalas perbuatan mereka tetapi jika aku salah aku akan menanggung konsekuensinya, aku sudah berbohong kepada mereka kalau aku tidak tahu tentang mu, padahal kenyataannya sekarang kamu berada bersama ku, itulah yang dia ajarkan orang tuaku sebelum mereka meninggalkan aku." Jelas Pratama.
" Terus untuk apa kamu menyembunyikan keberadaan ku? Sedangkan aku juga bisa pergi dari sini kapanpun dan balik ke rumah ku." Tanya Jacelyn.
" Karena aku tahu apa yang kamu rasakan, kamu pergi dari rumah karena kamu punya alasan untuk itu, karena kamu sendiri ingin menenangkan diri kamu, jika aku memberi tahu keberadaan kamu sekarang dan sebenarnya kamu belum ingin kembali ke rumah kamu, itu akan membuat kamu menjadi benci kepada ku, aku tidak menginginkan itu terjadi." Jawab Pratama.
" Tapi kenapa kamu harus melakukan ini semua? Sedangkan aku sendiri hanya merepotkan mu." Tanya Jacelyn mencoba memancing jawaban lebih dari Pratama.
" Kamu masih tanya kenapa?" Jawab Pratama sedikit kesal.
" Iya.. kenapa kamu melakukan ini demi aku?" Ucap tegas Jacelyn.
" Karena aku suka sama kamu." Jawab Pratama dengan tegas.
Jacelyn kaget dengan jawaban itu, walaupun itu adalah jawaban yang dia inginkan.
Jacelyn seperti berada di atas awan mendengar jawaban itu, jawaban Pratama membuat dia menjadi lega, karena perasaan yang sama tengah dia rasakan.
__ADS_1
Jacelyn juga suka dengan Pratama, walaupun Pratama adalah orang yang bukan sederajat dengan dirinya, tetapi dia tidak memikirkan hal itu.