
Setelah beberapa saat ketika Pratama sudah mengetahui alasan Jacelyn belum juga datang, akhirnya Jacelyn datang ke apartemen Pratama.
Pratama yang sedang membersihkan meja dari makanan yang sudah dingin, makanan itu sudah tidak enak lagi jika di makan dengan kondisi yang dingin.
Jacelyn yang sudah masuk kedalam apartemen itu melihat Pratama yang sedang membuang makanan itu.
" Kenapa kamu membuang makan itu?" ucap Jacelyn.
" Makanan ini sudah dingin, jika di makan dengan kondisi dingin makanan ini sudah tidak enak lagi." jawab Pratama dengan nada datar.
" Maafkan aku.. aku tidak memberi tahu mu kalau aku tidak bisa kesini." ucap Jacelyn meminta maaf karena kesalahannya.
" Tidak apa-apa." Jawab Pratama ketus.
" Kenapa? kamu marah?" Tanya Jacelyn yang melihat sikap Pratama yang berubah cuek.
" Kenapa aku harus marah? Itu kan urusanmu, aku juga tidak ingin mengganggu mu, kamu ada urusan itu juga karena kamu ada hal penting, aku bisa memahami itu." jelas Pratama.
" Baiklah, sebelumnya aku meminta maaf kepadamu karena aku tidak memberitahumu jika aku tidak bisa makan malam denganmu, tadi aku makan malam bersama keluarga ku jadi sepulang dari makan malam itu aku langsung kesini." jelas Jacelyn.
Pratama yang mendengar penjelasan Jacelyn kini terdiam dan melamun, jawaban dari Jacelyn itu berbeda dengan kenyataannya, padahal dia tadi makan malam bersama Andre, tetapi kenapa dia bilang kalau dia makan malam bersama keluarganya.
" Kenapa kamu harus berbohong kepada ku? Apa sebenarnya yang tengah kamu sembunyikan dari aku?" ucap Pratama yang melamun.
Pratama mencoba menyambungkan cerita Jacelyn dengan orang suruhannya itu, seberapa keras Pratama mencoba tetapi tetap saja itu berbeda.
" Agghh... Kenapa jadi seperti ini? Aku tidak suka sama sekali dengan kebohongan, tapi kenapa justru orang yang aku sayang yang membohongiku." rutuk dalam hati Pratama.
Pratama yang langsung berdiri dan langsung kembali membereskan gelas yang masih tersisa di atas meja, kini memandang Jacelyn dengan tatapan yang sangat dingin.
Jacelyn yang melihat itu, kini dia merasa kalau sekarang tidak baik-baik saja.
" Kenapa kamu tidak berbinar sama sekali denganku? Bahkan tatapan mu dingin kepadaku." Ucap Jacelyn.
__ADS_1
Pratama tetap berdiam tidak ada yang perlu di bicarakan dengan Jacelyn, setelah jawaban Jacelyn yang membohonginya kini Pratama hanya berdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
" Kamu ini kenapa? jika kamu marah kepadaku bilang lah, jangan hanya berdiam diri saja." ucap Jacelyn dengan nada yang sedikit kesal dengan sikap Pratama.
Pratama tetap diam, karena dia ingin menahan amarahnya, dia sudah berusaha keras menahan emosinya.
" Aku tidak apa-apa, aku ingin istirahat ini sudah malam, aku tidak ingin membahas ini dulu." Jawab Pratama ketus.
Akhirnya Pratama mau membuka mulutnya, itu yang sebenarnya Jacelyn inginkan dari Pratama, walaupun kata-kata yang keluar dari mulut Pratama menyakiti perasaan Jacelyn bisa menerimanya, karena Jacelyn sadar kalau dia membohongi Pratama dan mengingkari janjinya.
" Baiklah jika kamu ingin istirahat, aku tidak akan mengganggumu, aku kemari hanya untuk berbicara denganmu dan meminta maaf." jelas Jacelyn.
Pratama kembali diam, Pratama tidak memandang Jacelyn sama sekali, dia melewatinya dengan dingin dan masuk kedalam kamarnya.
Jacelyn yang sadar dengan itu pun tidak memaksa Pratama untuk berbicara lagi, Jacelyn meninggalkan Pratama dan kembali ke rumah.
Sesampainya Jacelyn di mobilnya, dia menangis merutuki dirinya sendiri, dia menyesal telah membohongi Pratama dengan mengatakan bahwa dia makan malam bersama keluarga.
" Kenapa aku sebodoh ini? Kenapa?" ucapnya dengan teriak di dalam mobil.
Di tempat Pratama sekarang, Pratama merenungi dirinya menangis tanpa suara tetapi air matanya yang terjatuh menandakan bahwa dia sedang bersedih.
" Kenapa? Kenapa kamu membohongi aku? Salah apa sebenarnya aku denganmu, dan apa yang sedang kamu sembunyi dariku? jika saja dia berkata jujur kepadaku mungkin aku bisa mengerti karena itu urusan bisnisnya." Ucap Pratama sendiri Dangan memukul bantal.
Sampai Pratama tertidur dengan lelap.
Jacelyn yang sudah sampai di rumahnya, dia langsung masuk kedalam kamarnya, tanpa ada suara menyapa orang tuanya yang sedang berada di ruang keluarga.
Setelah Jacelyn masuk ke dalam kamarnya, dia meletakkan tas dan melepaskan pakaiannya, menggantinya dengan baju tidur.
Setelah selesai Jacelyn merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia tetap merenungi kejadian bersama Pratama.
" Apa yang harus aku katakan besok? Jika aku bertemu dengannya mungkin semuanya akan terasa canggung." ucapnya.
__ADS_1
Jacelyn terus memikirkan hal yang sama sampai dia tiba-tiba tertidur tanpa dia sadari.
****
Jacelyn kini tengah berjalan di sebuah taman yang sering dia datangi ketika dia memiliki masalah, ketika dia melamun dengan pikirannya tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
" Jacelyn."
Suara itu terdengar sedikit jauh, suara itu juga yang menyadarkan Jacelyn dari pikirannya, dia berdiri dan langsung mencari sumber suara itu.
" Jacelyn."
Suara itu kembali di telinganya, seketika Jacelyn langsung menoleh ke arah sumber suara itu, ketika Jacelyn menoleh kearah suara itu.
Terlihat seorang pria yang tidak asing baginya, pria itu adalah Pratama.
Bagaimana Pratama bisa tahu kalau Jacelyn berada di tempat itu?
Ketika Jacelyn hendak menuju ke tempat Pratama berdiri, langkahnya tiba-tiba langkahnya terhenti.
" Aku sudah mengetahui semuanya, kamu tidak perlu lagi menjelaskan kepadaku tentang apapun, aku akan pergi sekarang lakukanlah sesukamu." ucap Pratama.
Di saat itu Jacelyn serasa tersambar petir, tubuhnya lemas sampai dia bersimpuh tak berdaya.
" Aku bisa menjelaskan semuanya, kamu salah paham dengan ku." Jawab Jacelyn yang sudah tidak bisa lagi berdiri lagi.
" Kamu tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan semuanya, aku sudah mengetahui semuanya jadi biarkan aku pergi." ucap Pratama dengan senyuman dan berlalu pergi.
Jacelyn yang mencoba berdiri untuk mengejar Pratama usahanya sia-sia, kakinya tidak bisa di gerakkan dan tubuhnya yang terus melemah.
" Jangan pergi Pratama!!" Jawab Jacelyn dengan berteriak.
Tiba-tiba Jacelyn tersadar kalau dia hanya bermimpi, jam menunjukkan sekita pukul tujuh pagi, Jacelyn tidak bisa melupakan kejadian itu walaupun hanya sebuah mimpi dia tetap khawatir dengan Pratama yang mengetahui kebohongannya.
__ADS_1
Kemungkinan terbesar adalah Jacelyn bisa di tinggalkan Pratama, bagaimana tidak, Pratama tidak suka dengan orang yang membohonginya.
...----------------...