
Akhirnya Pratama memutuskan untuk tetap menyembunyikan identitasnya itu sampai tujuannya benar-benar tercapai.
" Terus kamu sendiri pernah merasakan jatuh cinta?" Pratama berbalik bertanya kepada Jacelyn.
" Pernah." Jawab singkat Jacelyn.
" Kapan?" Pratama penasaran
" Sekarang, tetapi aku sendiri tidak tau apa ini benar-benar perasaan cinta atau hanya sekedar perasaan nyaman." Jawab Jacelyn sembari memalingkan wajahnya dari Pratama.
" Itukan sama saja?" Tanya Pratama.
" Tidak kata cinta dan nyaman itu berbeda arti, jika kamu nyaman dengan seseorang belum tentu kamu cinta dengan orang itu, begitu sebaliknya. Nyaman itu hanya berfokus pada diri sendiri ketika orang memberi rasa nyaman seperti dia baik, sering bantuin dia, dan lain sebagainya. Tetapi jika cinta dia akan menerima kamu apa adanya, walaupun dia cuek, tidak romantis, ataupun itu, dia akan tetap mencintaimu." Jelas Jacelyn.
" Oke sekarang aku paham dengan itu, terus sekarang kamu merasakan apa dari seseorang itu, nyaman atau cinta?" Jawab Pratama ingin menggali lebih dalam rasa penasarannya.
" Untuk saat ini aku sedang merasakan keduanya, aku merasa nyaman berada di dekatnya dan aku juga merasa cinta jika bersamanya." Jawab Jacelyn.
Pratama juga tidak menyadari kalau bahwasanya Jacelyn tengah membicarakan tentangnya.
Dua orang yang saling menyembunyikan perasaannya satu sama lain, membuat mereka merasa tersakiti sendiri.
" Oke, terus kenapa kamu tidak bicara langsung kepadanya dan menjelaskan kalau kamu memang cinta dan nyaman saat bersamanya?" Pratama mencoba memancing ungkapan dari hati Jacelyn.
" Sebelum itu, aku sudah tau kalau orang yang aku cintai sekarang tengah mencintai orang lain, jadi buat apa aku berbicara dengan orang itu mengenai perasaan ini, itu hanya sia-sia." Mood Jacelyn mulai turun.
Pasalnya Jacelyn tengah membicarakan tentang pria yang ada di depannya.
Pratama yang mengetahui mood Jacelyn yang mulai tidak baik, dia mencoba menenangkannya dengan meraih kepalnya Jacelyn untuk bersandar di bahunya dan menepuk pundak Jacelyn.
" Andaikan kamu tau kalau aku memang cinta sama kamu, sedari kamu menyuapi aku di ruangan ku." umpatnya dalam hati Jacelyn. Yang sekarang berada dalam pelukan Pratama.
Setelah berbicara dalam hati tiba-tiba air matanya menetes membasahi pipinya.
Sampai beberapa saat sampai mereka melepaskan pelukan itu di karenakan ada dering telepon Pratama, ketika Pratama melihat di layar hp nya ternyata itu adalah nomor Jacelyn yang dinamai Pratama dengan nama kesayangan.
Pratama pun langsung panik dengan hal itu, dia buru-buru mematikan teleponnya dan pergi dari Jacelyn.
Ketika jauh Pratama langsung mengganti nama itu dengan nama Bu Jacelyn.
Ketika Pratama selesai mengganti dia cepat-cepat kembali ke tempat Pratama duduk bersama Jacelyn tadi.
" Siapa yang telepon? Wanita yang kamu suka?" Tanya Jacelyn yang penasaran karena Pratama yang terburu-buru mematikan teleponnya.
__ADS_1
" B... Bukan, ini tadi teman aku yang punya apartemen telepon, menanyakan sudah di tempati belum apartemennya? Terus aku jawab sudah." Pratama menjelaskan dengan gugup.
" Ohhh.." jawab Jacelyn singkat.
Tiba-tiba handphone itu kembali berbunyi, setelah di lihat ternyata Bu Jacelyn yang tadi sudah di ganti nama oleh Pratama.
Kenapa yang telepon Jacelyn?, ternyata sebelum Jacelyn pergi tadi dari rumah sekertarisnya dia bilang, " kalau nanti sudah dapat barang-barangnya kamu bisa kabarin aku lewat nomor telepon di sana yang bernama Pratama." Itu alasan kenapa ada telepon dari Jacelyn.
" Halo," ucap Jacelyn yang menempelkan ponsel ke telinganya.
" Iya Bu.. dari tadi tidak bisa di hubungi kemana saja Bu?" Tanya sekertarisnya dari seberang telepon sedikit emosi.
" Iya.. iya... Maaf, tadi yang punya ponsel ada telepon dari temannya, sekarang kamu di mana nanti saya kesana untuk mengambil barang-barangnya." Jawab Jacelyn.
" Saya sudah ada di rumah Bu." Jawab sekertarisnya.
" Baiklah saya segera kesana." Jawab Jacelyn buru-buru mematikan teleponnya dan langsung mengajak Pratama untuk ke rumah sekertarisnya itu.
Ketika di perjalanan menuju rumah sekretaris Jacelyn tidak ada obrolan yang spesial di antara mereka.
Sampai beberapa saat mereka sampai di rumah sekertarisnya Jacelyn.
" Bagaimana sudah dapat semua barang-barang yang saya suruh tadi?" Tanya Jacelyn.
" Terimakasih banyak ya, kalau tidak ada kamu mungkin tidak bisa apa-apa saya." Ucap Jacelyn.
" Iya Bu, sama-sama, tapi ngomong-ngomong...?" Tanya sekertarisnya itu memberikan kode dengan kedipan mata tertuju ke arah Pratama, seakan menagih janji yang pernah di ucapkan Jacelyn.
" Oh iya, Pratama, kenalin ini sekertaris aku." Ucap Jacelyn kepada Pratama.
Seakan Jacelyn tau apa yang di katakan sekertarisnya, dia langsung memperkenalkan Pratama dengan sekertarisnya.
" Iya kenalin nama saya Pratama." Ucap Pratama sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
" Iya kenalin juga nama saya Intan sekretarisnya Bu Jacelyn." Jawab Intan dengan ramah dan memberi senyum.
Sampai beberapa saat kedua tangan yang bersalaman itu belum terlepas, sampai Jacelyn dehem memberi kode.
Sampai tangan mereka berdua terlepas, sebenarnya Pratama sudah mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Intan tetapi Intan tetap tidak mau melepaskan.
" Sudah kan kenalannya?" Tanya Jacelyn.
" Iya Bu," jawab Intan yang sedikit malu dan menggaruk kepalanya.
__ADS_1
" Kalau kalian masih mau ngobrol silahkan saya mau balik dulu ke apartemen." Jawab Jacelyn.
" Iya saya juga sudah capek saya mau pulang, Bu mari saya antar, tadi kan saya yang mengantar ibu, masa iya Bu Jacelyn pulang sendiri." Jelas Pratama, seperti tidak mau berlama-lama dengan Intan.
" Ya sudah, saya pulang dulu, terimakasih banyak, nanti saya transfer uangnya karena sudah membantu saya, terimakasih banyak ya atas bantuannya." Ucap Jacelyn kepada Intan.
" Iya Bu sama-sama, apa nggak masuk dulu, saya bikinin teh." Jawab Intan yang mencoba menahan Pratama dan Jacelyn.
" Tidak, terimakasih banyak." Sahut Pratama dan langsung pergi ke motornya.
" Makasih ya, saya pulang dulu." Jawab Jacelyn.
Mereka berdua pun pulang.
Sampai di perjalanan menuju apartemen, Pratama hanya memikirkan kejadian perkenalan tadi, mengingat mereka bersalaman Intan yang menggerakkan jari telunjuknya ke arah telapak tangan Pratama seperti menggoda Pratama, mengingat itu semua Pratama menjadi geli sendiri dan merinding.
" Jangan sampai ketemu lagi dengan wanita itu." Umpan dalam hati, sembari menggerakkan pundak yang merasa geli.
Jacelyn yang sedari tadi melihat tingkah aneh Pratama pun menanyakan kepada Pratama.
" Kamu ini kenapa? Badan gerak-gerik sendiri seperti ular sawah aja." Tanya Jacelyn sedikit teriak yang melawan Suara angin.
" Nanti aja aku jelasin kalau sudah sampai apartemen." Jawab Pratama.
Setelah obrolan itu Pratama langsung menancap gas dengan kencang, sampai-sampai Jacelyn berpegang erat di pinggang Pratama.
Sampai beberapa saat mereka telah sampai di apartemen, Jacelyn melemparkan tasnya ke atas sofa sembari mengomeli Pratama.
" Gila kamu ini, naik motor sekencang itu, aku masih mau makan nasi tau." Ucap Jacelyn dengan nada sedikit marah.
" Iya.. iya maaf." Jawab Pratama memelas.
" Awas saja kalau lain kali seperti itu lagi, ku pecahkan kepalamu dari belakang." Jawab Jacelyn dengan mengepalkan tangannya kearah Pratama.
" Iya.. maaf, jangan marah-marah terus, nanti cepat tua." Jawab Pratama yang mengulurkan tangannya memegang tangan Jacelyn mencoba untuk merayunya.
Yang tadinya Jacelyn marah dengan tangan lembut itu menyentuhnya mukanya berubah memerah, jantungnya terus berdetak dengan cepat.
" Kamu akhir-akhir ini terlihat seperti orang demam, kenapa? Apa kamu tidak enak badan?" Tanya Pratama.
Jacelyn buru-buru melepaskan tangannya itu dan menjawab pertanyaan Pratama dengan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Jacelyn langsung masuk ke dalam kamarnya, " Dasar pria tidak peka sama sekali." Gumamnya dengan menutup pintu kamar itu.
__ADS_1
...----------------...