
Apa yang sebenarnya ibu Jacelyn inginkan? Sampai-sampai ibunya mengancam Jacelyn.
" Memangnya ibu menginginkan apa?" Tanya Jacelyn penasaran.
" Besok ada tuan muda dari perusahaan besar yang ingin berinvestasi di perusahaan kita, orang tua dari pria itu adalah sahabat lama, jadi kamu harus melayaninya dengan baik, apapun yang dia inginkan kamu harus lakukan!" Jelas ibu Jacelyn dengan tegas.
Mendengar penjelasan dari ibunya, Jacelyn langsung lemas, bahunya yang tadi terangkat tegak sekarang bahu itu seperti sudah tidak ada tulangnya.
" Aku tidak mau ibu! Apa maksudnya ini?" Jawab Jacelyn dengan nada lemas.
" Pilihan itu hanya kamu yang memilih, jika kamu menolak pria itu ibu pastikan sudah tidak ada lagi, tetapi jika kamu mau menerima tawaran ibu, ibu pastikan pria itu akan tetap bekerja di tempatmu." Jelas ibu Jacelyn.
Jacelyn terkulai lemas setiap mendengar penjelasan ibunya, ibunya juga tidak terlihat bercanda dengan kata-katanya.
Mau tidak mau Jacelyn menerima tawaran ibunya, Jacelyn pikir dia akan bisa menyembunyikan hubungannya dengan tuan muda itu dari Pratama.
" Baiklah aku akan menerimanya, tapi ibu janji tidak akan melakukan apapun kepada cleaning servis itu." Jawab Jacelyn lemas.
" Ibu janji, selagi kamu bisa menjalankan semuanya dengan baik, ibu akan menepati janji itu." Ucap ibunya.
Jacelyn langsung berdiri menuju kamarnya dan meninggalkan ibunya sendirian di ruangan itu.
Setelah Jacelyn masuk kedalam kamarnya, Jacelyn merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Tangisnya tidak bisa tertahan lagi, " Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi ini, kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini? Aku baru saja mengutarakan isi hati dan di terima dengan baik, dan sekarang datang masalah dan aku harus menyelesaikannya, bagaimana jika Pratama tau tentang ini." Umpatnya dalam hati dengan menangis.
Tidak berselang lama Jacelyn di dikagetkan dengan dering teleponnya, setelah melihat layar handphonenya, ternyata Pratama yang sedang menelepon dirinya.
Jacelyn teringat dengan perkataannya tadi sebelum pulang, kalau Jacelyn akan mengabari Pratama jika sudah sampai di rumah.
Jacelyn buru-buru mengusap air matanya dan langsung mengangkat telepon itu.
" Halo." Suara Pratama dari seberang telepon.
" Iya.. maaf ya tadi aku habis bersih-bersih kamar karena banyak debu dan aku harus merapikan pakaianku." Jawab Jacelyn yang langsung menjelaskan kepada Pratama.
" Iya tidak apa-apa." Jawab Pratama.
" Aku rindu padamu Jacelyn." Terus Pratama.
Jacelyn yang mendengar kata ' Rindu ' dari Pratama membuatnya teringat dengan perkataan ibunya, sampai Jacelyn melamun memikirkan itu semua.
Sampai beberapa menit Jacelyn melamun, dia di sadarkan oleh suara Pratama yang memanggilnya.
" Jacelyn.. Jacelyn.. kamu kenapa?" Ucap Pratama.
" A... A... Aku tidak apa-apa." Jawab Jacelyn terbata-bata.
__ADS_1
" Kamu sedikit aneh? Kamu kenapa? Apa kamu di marahin sama ibu kamu?" Jawab tepat Pratama.
" Ti... Ti... Tidak, justru sebaliknya, aku di sambut hangat dengan orang tua ku." Jawab Jacelyn berbohong kepada Pratama.
" Maafkan aku Pratama, aku terpaksa melakukan ini." Ucap Jacelyn dalam hati.
" Syukurlah jika kamu tidak di marahi ibumu."
" Aku matikan dulu teleponnya, aku ingin istirahat dulu capek." Jawab Jacelyn yang langsung mematikan telepon.
Belum juga Pratama menjawab Jacelyn tetapi langsung di matikan teleponnya.
Pratama juga tidak curiga dengan sikap Jacelyn, Pratama pikir Jacelyn sedang di panggil ibunya atau ayahnya jadi sikapnya terlihat sedikit aneh.
Tetapi sebenarnya di tempat Jacelyn, dia tidak bisa menahan tangisnya dan tidak bisa melanjutkan pembicaraan itu.
Jacelyn tidak enak hati jika terus-terusan membohongi Pratama.
Jacelyn kembali tiduran dengan posisi selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, Jacelyn sudah tidak mampu untuk berfikir, dia hanya bisa mengungkapkannya dengan menangis, sampai-sampai dia capek dan tertidur.
***
Sampai tengah malam Jacelyn terbangun dari tidurnya, dia terbangun karena dia merasa lapar.
Pasalnya Jacelyn cuma makan satu kali waktu dia sarapan bersama Pratama sebelum dia pulang ke rumahnya.
" Tidak ada apa-apa, perut lapar, sudah tengah malam begini, apa masih ada yang masih jualan tengah malam begini?" Gerutu Jacelyn.
Mau tidak mau Jacelyn pun keluar untuk mencari makan dan mengeluarkan mobilnya dari garasi.
Setelah itu Jacelyn langsung memacu mobilnya dengan cepat, dia sekarang berharap ada orang jualan di jam malam begini.
Jacelyn tidak membawa supir pribadinya karena dia tidak ingin membangunkan supirnya, karena sudah larut malam.
Walaupun Jacelyn orang kaya dan mempunyai segalanya, dia tidak pernah memandang rendah orang lain, dia juga masih memiliki hati untuk tidak membangunkan supirnya itu, walaupun itu adalah pekerjaannya Jacelyn tetap tidak tega.
Sampai beberapa menit dia berkeliling kota mencari pedagang kecil yang berada di pinggir jalan, akhirnya Jacelyn menemukan sebuah pedagang nasi goreng.
Penjual itu seperti sudah bersiap-siap mengemas dagangannya.
" Sepertinya sudah mau tutup, semoga saja masih ada nasi gorengnya." Ucap Jacelyn sembari membuka pintu mobil dan menuju penjual itu.
" Pak nasi gorengnya masih ada?" Tanya Jacelyn yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa laparnya.
" Maaf neng, sudah habis, ini tadi tinggal satu porsi sudah di bungkus dan di beli mas itu." Jawab pedagang itu menunjuk pria yang sedang sibuk bermain handphone.
Pria itu adalah Pratama.
__ADS_1
Pratama yang mendengar suara wanita yang tidak asing di telinganya pun langsung menoleh ke arah Jacelyn.
" Buat dia saja pak nasi gorengnya." Sahut Pratama.
" Eh..? Sayang." Ucap Jacelyn sedikit kaget karena pria itu adalah kekasihnya, Pratama.
Pratama pun langsung mengulum kan senyum kepada Jacelyn.
" Buat kamu saja nasi gorengnya, kelihatan kalau kamu sedang lapar." Ucap Pratama.
" Makasih ya..." Jawab Jacelyn.
" Iya sama-sama, kamu mau langsung pulang atau mau masuk dulu?" Tawar Pratama.
Jacelyn mengamati sekelilingnya, tanpa Jacelyn sadari selama dia mencari pedagang dan berkeliling, dia sudah sampai di daerah apartemennya Pratama.
" Baiklah, sekalian aku makan nasi goreng ini di apartemen." Jawab Jacelyn.
Jacelyn menerima tawaran itu dan langsung menuju apartemen Pratama yang tidak jauh dari tempat pedagang nasi goreng itu.
Sesampainya Jacelyn dan Pratama di apartemen, Jacelyn langsung mengambil sendok untuk memakan nasi goreng yang di beli Pratama untuknya.
" Mau aku buatin teh? Teh kesukaan kamu." Ucap Pratama.
Jacelyn hanya mengangguk, karena dia tidak bisa berbicara dengan mulutnya yang penuh dengan nasi.
Setelah Pratama selesai membuatkan teh untuk Jacelyn dia pun langsung duduk di samping Jacelyn.
" Kenapa kamu malam-malam begini masih mencari makanan? Apa tidak ada apa-apa di rumah kamu?" Tanya Pratama penasaran.
" Aku tadi ketiduran setelah telepon denganmu, terus aku bangun karena aku lapar, ketika aku ke dapur untuk mencari makanan ternyata tidak ada apa-apa, jadi aku pergi keluar untuk mencari makanan." Jelas Jacelyn dan melanjutkan makan yang tinggal sesuap.
" Aku rindu padamu, tadi waktu di telepon kamu tidak menjawab ucapan ku itu." Ucap Pratama.
" Maaf, karena aku di panggil ibu tadi." Jelas Jacelyn dengan berbohong lagi.
" Iya tidak apa-apa." Jawab Pratama dengan menunduk.
" Tapi kan sekarang kita sudah bertemu." Jelas Jacelyn kembali.
" Iya sih.. tapi kamu sebentar lagi juga pulang lagi." Jawab Pratama lemas.
" Jangan bersedih begitu, sayang." Ucap Jacelyn mencoba untuk menenangkan hati Pratama.
Pratama menoleh ke arah Jacelyn dan tersenyum.
Jacelyn yang melihat Pratama dengan wajah yang terlihat sedih kembali mengingat percakapannya dengan ibunya.
__ADS_1
...----------------...