
Pratama yang setelah keluar dari ruangan Jacelyn, kini telah sampai di dapur.
" Apa lagi ini? Kenapa semuanya menjadi seperti ini?" Ucapnya dalam hati.
" Sudahlah, aku tak mau memikirkan dia lagi, terserah apa maunya, aku akan pergi dari kehidupannya." Lanjut Pratama.
Pratama langsung mengambil tas ranselnya dan langsung pergi meninggalkan kantor itu.
Beberapa orang sebenarnya meminta tolong untuk membersihkan bekas air yang tercecer di lantai, tetapi Pratama menjawab tidak bisa, karena dia bilang ada urusan penting, dan alasannya juga sudah izin dengan Jacelyn.
Karyawan itu juga tidak bisa menahannya, karena Pratama sudah mendapatkan izin dari Jacelyn untuk pulang.
Di ruangan Jacelyn sekarang, Jacelyn tidak bisa menahan air matanya.
" Aku harus menyelesaikannya semua ini secepatnya, kalau tidak aku bisa benar-benar kehilangan Pratama." Ucapnya dalam hati.
Jacelyn langsung menelpon resepsionisnya untuk menyuruh Pratama ke ruangannya.
" Halo, beri tahu cleaning servis yang bernama Pratama untuk datang ke ruangan saya." Ucap Jacelyn dengan resepsionis melalui telepon.
" Tetapi Bu? Dia baru saja pergi, katanya dia sudah mendapatkan izin dari Bu Jacelyn." Jawab resepsionis itu.
" Baiklah." Jawab Jacelyn singkat dan langsung pergi menaruh gagang telepon itu ke tempatnya.
Jacelyn panik sekarang, kemana perginya Pratama? Dia mengingat kata-kata Pratama tadi malam.
Kalau Pratama tidak akan mengganggunya lagi, dan terserah apa maunya. Kata-kata membuat Jacelyn semakin bingung dengan keadaan ini.
Jacelyn mencoba untuk menghubungi Pratama tetapi tidak bisa karena selalu di tolak panggilan itu oleh Pratama.
Sampai beberapa kali Jacelyn mencoba, tetap saja Pratama menolaknya.
" Maafkan aku, itu tadi hanya ke salah pahaman, aku bisa menjelaskan semuanya, tolong jawab telepon aku, aku ingin berbicara kepadamu." Chat yang di tulis Jacelyn.
Jacelyn kembali mencoba menghubungi Pratama lagi, tetapi tetap saja Pratama tidak mau mengangkat telepon dari Jacelyn.
Setelah beberapa saat Jacelyn menunggu dan memikirkan apa yang harus dia lakukan saat ini, akhirnya Jacelyn memutuskan untuk ke apartemen Pratama.
Jacelyn mengambil tasnya dan langsung turun untuk keluar.
Sesampainya Jacelyn di luar perusahaannya, dia menunggu taksi, setelah beberapa saat menunggu akhirnya Jacelyn mendapatkan taksi.
Sampai beberapa saat kemudian Jacelyn sudah sampai ke apartemen Pratama, Jacelyn langsung memasukkan kode akses untuk membuka pintu.
__ADS_1
Setelah pintu itu terbuka, Jacelyn langsung mencari Pratama, di setiap sudut di ruangan itu sudah dia cari, tetapi tetap tidak ada keberadaan Pratama.
" Kemana perginya Pratama? Tetapi barang-barangnya masih ada di sini." Ucapnya dalam hati.
Akhirnya Jacelyn memutuskan untuk menunggu Pratama pulang.
Jacelyn menunggu di ruangan di depan tv dia duduk di sofa.
Sampai beberapa saat dia menunggu Pratama belum juga datang, sampai Jacelyn ketiduran.
***
Sampai Jacelyn terbangun dari tidurnya karena suara piring seperti ada orang yang sedang menikmati makan.
Mendengar suara itu Jacelyn langsung terbangun dari tidurnya, ketika dia melihat ternyata Pratama berada di meja makan itu sembari menikmati makanannya.
Waktu itu sudah menunjukkan jam tujuh malam, Jacelyn langsung bergegas menuju tempat Pratama duduk.
" Sayang please dengarkan aku, aku bisa jelasin semuanya, tadi hanya salah paham, aku tidak ada hubungan apapun dengan pria itu, dia hanya partner kerja, tadi aku terpeleset dan hampir terjatuh, terus pria itu langsung menangkap ku." Jelas Jacelyn menyakinkan Pratama bahwa yang Pratama lihat itu hanya salah paham saja.
Setelah mendengar penjelasan Jacelyn. Yang tadinya Pratama tidak menatap Jacelyn dan hanya berfokus pada makanannya, kini Pratama menaruh sendok dan menatap dingin wajah Jacelyn.
" Aku tidak ingin tahu tentang itu, aku sudah melihatnya sendiri." Jawab Pratama dingin.
Pratama tersenyum sinis. " Hanya partner kerja? Partner kerja juga bisa berciuman juga ya?"
" Sayang please, percaya kepadaku." Ucap Jacelyn tetap mencoba menyakinkan Pratama.
" Percaya? Untuk apa aku percaya kepadamu jika kamu berbohong kepadaku?" Jawab Pratama.
" Aku tidak berbohong kepada mu."
Jacelyn tetap mencoba untuk membela dirinya.
" Aku telah mengetahui semuanya, dan kamu tetap bisa berbicara kalau kamu tidak berbohong." Jawab Pratama.
Seketika Jacelyn terdiam, air matanya kini telah jatuh.
" Kamu mengetahui semuanya? Termasuk..?" Tanya Jacelyn dengan meneteskan air mata.
" Iya, termasuk kemarin malam kamu bilang kalau kamu tidak bisa datang makan malam bersama ku, dan kamu bilang kepadaku bahwa kamu ada acara makan malam bersama keluarga mu, dan sedangkan kamu sedang makan malam bersama pria itu, yang kamu bilang hanya partner kerja." Jelas Pratama langsung kepada intinya.
Mendengar penjelasan Pratama, Jacelyn langsung diam, karena kebohongannya sudah terbongkar.
__ADS_1
Jacelyn hanya tertunduk lesu dan menangis terisak.
" Aku mungkin bisa memaafkan mu jika kamu jujur kepadaku, aku juga bisa mengerti jika kamu makan bersama partner kerja mu itu, tetapi kenapa kamu harus berbohong kepada ku, padahal kamu sendiri sudah tahu kalau aku tidak suka di bohongi." Lanjut Pratama.
" Maafkan aku." Jawab Jacelyn lirih dan tidak berani menatap wajah Pratama.
" Ahh, sudahlah aku tidak mau membahas ini lagi, aku sudah cukup sakit hati dengan perlakuan mu hari ini." Ucap Pratama.
Pratama langsung berdiri dan hendak pergi meninggalkan Jacelyn, tetapi Jacelyn menahan tangan Pratama.
" Apa lagi?" Ucap Pratama.
" Dengarkan penjelasan ku dulu, setelah itu terserah kamu jika kamu ingin pergi, aku juga tidak memaksa mu untuk memaafkan ku." Jawab Jacelyn.
" Baiklah."
Pratama kembali duduk di tempatnya.
" Sebelumnya aku minta maaf kepada mu, Karena aku sudah membohongi mu, sebenarnya aku melakukan ini semua karena paksaan." Jelas Jacelyn.
" Alasan apa lagi ini?" Sahut Pratama memotong pembicaraan Jacelyn.
" Dengarkan aku dulu, baru kamu menyimpulkan."
" Aku terpaksa melakukan ini karena dirimu." Lanjut Jacelyn.
" Apa maksudnya ini?" Tanya Pratama penasaran.
" Aku terpaksa melakukan ini karena ibuku memaksa ku, aku harus melakukan apapun yang di katakannya, pria itu juga berinvestasi di perusahaan ku karena ibunya menyuruhnya, ibunya dan ibuku adalah sahabat lama, jadi maksud dari ibuku, aku harus melayani pria itu, apapun yang ingin pria itu lakukan terhadap ku. Jika aku tidak melakukannya, nyawamu menjadi taruhannya." Jelas Jacelyn dengan jujur.
" Apa maksudnya nyawaku menjadi taruhannya?" Pratama masih belum paham dengan maksud Jacelyn.
" Jadi ibu mengancam aku, jika aku tidak melakukan apa yang di perintah kan ibu, ibu akan menyuruh orang untuk membunuh mu." Jelas Jacelyn lagi.
Kini sekarang Pratama sudah mengerti, maksud dari Jacelyn itu untuk menyelamatkan nyawa dari Pratama, tetapi Jacelyn tidak memikirkan dirinya sendiri.
" Baiklah, aku sudah mengerti maksudmu." Jawab Pratama.
" Maafkan aku, sayang, aku tidak bermaksud untuk membohongi mu." Ucap Jacelyn dengan nafas yang tersengal-sengal karena menangis.
" Baiklah aku memaafkan mu." Jawab Pratama mencoba meraih Jacelyn dan menenangkannya.
Jacelyn menangis kembali di dalam pelukan Pratama.
__ADS_1
Kini dia merasa lega karena dia sudah menjelaskan kepada Pratama, tetapi yang dia pikirkan sekarang adalah ibunya, bagaimana jika ibunya tahu jika Jacelyn tetap berhubungan dengan Pratama.